Belajar Mencintai dengan Sebaik-baiknya

Leave a comment
Deeper Thoughts / Married Life

Kembali saya membuka sebuah post dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai rasa syukur karena akhirnya saya dapat merasakan kembali Idul Fitri bersama keluarga. Sejak mulai bekerja pada tahun 2011, baru kali ini saya bisa berlebaran di rumah. Dua tahun pertama saya berlebaran di rig dan tahun lalu saya harus on duty di kantor. Semua terbayar karena pada tahun ini saya nggak hanya berhari raya bersama Ayah, Bunda, Zakki, dan keluarga besar namun juga bersama suami dan keluarga besar suami. Tambah keluarga, tambah pula kebahagiaannya.

Tahun ini memang boleh dibilang tahun yang penuh milestone dan rahmat untuk saya dan keluarga. Saya dan Bang Agn menikah, adik saya, Zakki, masuk ITB, dan Bang Agn dapat beasiswa Chevening. Insya Allah, saya akan bertambah umur menjadi 25 lusa nanti. Looking back from where I am now, I think I couldn’t ask for more. Alhamdulillah sudah mandiri dan sudah punya suami. Alhamdulillah sudah merasakan traveling bersama teman maupun sendirian. Alhamdulillah sudah mulai investasi properti (okay, I know it’s waaay to go, but I’m getting there hehehe). Alhamdulillah sudah bisa menyisihkan rezeki untuk melapangkan orang lain dan mentraktir keluarga walaupun sedikit. Apa lagi? Tentu masih ada hal-hal yang belum tercapai tapi mudah-mudahan Allah melapangkan jalan untuk semua yang diawali dengan niat baik.

Setelah segala sesuatunya, saya pun memutuskan untuk mulai berhijab. Insya Allah. Sebenarnya niat ini sudah ada sejak beberapa lama yang lalu namun sebagaimana manusia pada umumnya yang kurang nyaman dengan perubahan, it took some time. Saya pribadi sejak awal sadar bahwa menutup aurat adalah hal yang diwajibkan dalam Islam (untuk Anda yang menganggap bahwa berhijab bukan hal yang diwajibkan Islam, let’s  just agree to disagree ya) dan selama ini (sejak balig) saya melanggar perintah tersebut. Namun di Indonesia (kecuali DI Aceh) berhijab menjadi sebuah pilihan, dan untuk saya, ini merupakan perjalanan spiritual. Orang tua saya tidak pernah menyuruh saya berhijab, pun suami. Bukan karena mereka tidak peduli, namun saya yakin mereka ingin hal ini datang dari diri saya sendiri dan semata-mata karena Allah SWT. Beberapa teman mewujudkan kepeduliannya secara lebih eksplisit (misalnya dengan mengingatkan saya bahwa dosa tidak berhijab dihitung setiap helai rambutnya) namun untuk saya, biarlah saya melaksanakan perintah Allah bukan hanya karena takut kepada azabNya. Saya percaya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan saya yakin bahwa Dia dapat dicintai dengan merdeka; dengan sebaik-baiknya.

Sekali lagi, untuk saya ini adalah perjalanan spiritual. Menjadi muslimah yang baik dan (berusaha) benar adalah never ending process. Mungkin setelah ini saya tidak langsung berubah drastis. Mungkin jilbab saya belum syarí. Mungkin saya masih belum bisa berhenti bergosip. Mungkin saya belum bisa mengubah gaya dan volume tawa saya. Pastinya saya tidak akan langsung menjadi sempurna namun semoga ini bisa menjadi awal yang baik dari sebuah niat baik; belajar mencintai dengan sebaik-baiknya.

Bismillahir-Rahmanir-Rahim.

Semoga post ini dapat menjadi pengingat untuk saya jika suatu hari nanti saya butuh diingatkan.

Untuk mengakhiri post kali ini, saya dan Bang Agn mengucapakan Selamat Idul Fitri 1435 H, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk kami dan keluarga :)

Idul Fitri 1435H

Catatan Pilpres 2014

Leave a comment
Deeper Thoughts

Pertama saya ucapkan alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT karena Pilpres 2014 ini berjalan aman, setidaknya sampai diumumkannya pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih 2014 – 2019. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, saya bangga karena apa yang kita agung-agungkan sebagai pesta demokrasi telah terlaksana dengan baik. Saya juga kagum pada para relawan yang mengawal KPU dalam melakukan penghitungan suara.

Kedua, saya ucapkan selamat kepada Pak Jokowi dan Pak JK. Semoga bapak berdua amanah dan dapat menjawab keraguan saya dan mungkin ada yang lainnya, utamanya soal siapa yang ada di belakang Pak Jokowi. Semoga hal buruk di masa lalu seperti penjualan aset-aset strategis negara tidak terulang kembali. Saya percaya, Pak Jokowi yang lahir dari rakyat semestinya tidak akan mengambil kebijakan-kebijakan pro-asing yang merugikan rakyat. Satu lagi harapan saya, dan mungkin yang terbesar, semoga di pemerintahan Pak Jokowi nanti nilai-nilai agama tidak serta merta dilupakan apalagi dihapuskan. Percaya lah saya sama Pak Jokowi, H-3 pilpres pun masih sempat umroh kan?

Banyak banget mintanya? Hehehe, yah namanya juga harapan. Bukan cuma yang pada masa kampanye pakai baju kotak-kotak dan salam dua jari saja kan yang boleh beraspirasi?

Hal lain yang menjadi catatan saya semasa pemilu dan pilpres 2014 ini adalah saya menjadi lebih kenal dengan teman-teman saya. Saya jadi tahu pandangan politik mereka, beberapa membiarkan saya tahu bagaimana cara mereka memandang agama. Saya jadi tahu mana yang open-minded dan mana yang merasa paling betul; mana yang berpikiran positif dan mana yang bermental ‘haters’. Hikmahnya, saya jadi dapat pelajaran dalam berdiskusi di media sosial.

Sekali waktu saya membagi tautan di Path dan akhirnya menjelaskan bahwa saya memandang agama Islam sebagai hal yang politis, dilanjutkan dengan pernyataan bahwa saya sebagai muslim menentang liberalisme dan sekulerisme. Ada yang langsung mencap saya Anti-Jokowi yang artinya Pro-Prabowo. Mungkin kalau foto profil saya pakai hijab, saya sudah dicap ukhti-ukhti PKS. Bagi saya, tidak ada yang salah dari dianggap ukhti-ukhti PKS, namun untuk saya poin yang saya maksudkan malah tidak tersampaikan karena beberapa orang langsung lompat ke kesimpulan sendiri-sendiri. Banyak orang lupa cara berdiskusi, banyak juga yang lupa soal kerukunan antar teman dan keluarga, hehehe.

Yah tapi seperti kata Sita, teman saya seorang jurnalis, Pemilu dan Pilpres 2014 ini adalah sebuah pelajaran besar, pelajaran politik bagi bangsa Indonesia. Prosesnya mungkin ‘keras’ bagi sebagian masyarakat kita yang ‘apa-apa masuk ke hati’ namun ini semua proses yang harus dijalani. Semoga selanjutnya kita semakin baik lagi.

Saya selalu punya harapan besar untuk bangsa dan agama dan saya akan mulai dari diri sendiri dan keluarga :)

Salam damai, selamat bekerja Jokowi-JK dan kita semua, INDONESIA!