Latest Posts

Belajar Menghargai Makanan Berkat Media Sosial

Pekerjaan saya saat ini adalah pekerjaan yang menuntut saya untuk terus berkutat dengan media sosial. Walaupun kedengarannya mengerikan seolah-olah saya seperti pengguna narkoba yang butuh rehabilitasi, namun sebetulnya media sosial ini mengenalkan saya juga pada orang-orang / akun-akun yang membawa pengaruh positif.

Salah satu contohnya: karena berkolaborasi untuk Living Loving, saya jadi kenal Atit yang sangat rapi, minimalis, dan sedang berusaha menjalani gaya hidup (hampir) zero waste living. Walaupun mungkin saya masih jauh banget dari zero waste living, namun sekarang saya mulai berpikir 2x untuk mengambil sedotan atau menyia-nyiakan kantong kresek. Saya juga ikutan membawa sapu tangan untuk mengurangi penggunaan tissue. Poin pentingnya bukan pada berapa tissue yang saya hemat, tapi mindset untuk mengurangi sampah yang pelan-pelan terbentuk di diri saya (walaupun mungkin ya pelan banget yaaa… hahahaha)

Selain itu, berkat media sosial saya jadi lebih menghargai makanan dan orang-orang yang berjuang untuk menghasilkannya. Sejujurnya saya bukan penggemar makanan sehat dengan embel-embel organik, glutten free, non-GMO, fair trade, vegan, dll. Kenapa? Ya karena asumsi saya makin panjang embel-embelnya makin tinggi harganya, HAHAHA. Namun belakangan saya jadi buka-buka akun-akun makanan sehat dan di situ saya jadi tau cerita di baliknya. Kenapa sih kok mahal? Ya namanya juga beli yang mahal jadi lebih terdorong untuk mencari tau kan :p #MAMAKPELIT

Read More

Resign Nggak Ya?

Salah satu hal yang sering ditanyakan atau dicurhatin ke saya adalah soal keputusan resign. Pertanyaan apakah sebaiknya berhenti bekerja kantoran yang datang ke saya kebanyakan berasal dari:

  1. Ibu-ibu yang punya anak di rumah namun merasa bersalah karena meninggalkan anaknya di rumah bersama orang lain
  2. Pekerja kantoran yang merasa hidupnya seperti robot dan ingin melakukan apa yang menjadi passion masing-masing (biasanya pekerja seni atau para entrepreneur yang ingin fokus membesarkan bisnisnya)
  3. Gabungan 1 & 2, ibu-ibu yang merasa bersalah meninggalkan anaknya di rumah jadi ingin berhenti bekerja kantoran dan melakukan passionnya (seni atau entrepreneurship) dari rumah sambil menjaga anak

Boleh jadi saya orang yang sesuai untuk dicurhatin, karena saya adalah mantan pekerja kantoran di sebuah perusahaan multi nasional yang kemudian berhenti untuk fokus di rumah lalu melakukan apa yang menjadi passion saya: menggambar dan menulis. Saya juga beberapa kali menulis soal resign dan menjadi working at home mom di blog ini.

Baca Juga: Apakah Menjadi Ibu di Rumah Artinya Mundur Dalam Aktualisasi Diri?

Namun setiap kali ada yang minta dukungan ke saya soal resign apalagi kalau bilang mau mengikuti jejak saya, saya langsung buru-buru bilang:

WAWAWAWAWA~ TUNGGU TUNGGU TUNGGU…

Begini, saya adalah orang yang sangat menghargai keputusan setiap orang karena saya yakin setiap orang memiliki latar belakang, situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Resign alias berhenti bekerja adalah sebuah keputusan yang signifikan dalam hidup seseorang, sehingga harus dipikirkan matang-matang, jangan sampai dasar pengambilan keputusan itu didasarkan oleh sesuatu yang emosional apalagi gara-gara melihat orang lain, “Wah, si ini aja bisa,” atau “Wah, si anu enak ya,” dll. Jangan sampai juga kita hanya membayangkan yang manis-manisnya saja bagaikan tawaran MLM, “Join dong, enak loh dengan modal handphone kita bisa bisnis dengan penghasilan jutaan rupiah sambil main sama anak.”

PRET!

Nggak mungkin dalam hidup ada jalan yang manis melulu. Pasti ada pahitnya, ada asam garamnya. Apapun keputusan kita, kerja di mana pun kita, pasti ada ups and downs-nya.

Alih-alih memberi dukungan ke keputusan tertentu, saya akan menyarankan teman-teman, terutama ibu-ibu yang galau untuk mempertimbangkan hal-hal berikut sebelum memutuskan resign:

Read More