The Cookies Say…

Kalau saya ada salah kata, salah perbuatan, mohon dimaafkan :)
Live, Write, Learn. Hello!

Kalau saya ada salah kata, salah perbuatan, mohon dimaafkan :)
Ketika elo punya gebetan yang baru sama sekali, and you have no idea about him/her, dan ketika elo memikirkan dia, tidakkah elo merasa khawatir?
Misalnya tau-tau dia suka D’Masiv atau Angkasa Band
Atau ternyata dia punya penyakit epilepsi kambuhan
Atau ternyata dia nggak berani nyeberang jalan sendirian
Atau ternyata dia nggak punya email dan nggak bisa memformat flashdisk
Atau ternyata di kamarnya ada poster Britney Spears yang udelnya kelihatan
Atau ternyata dia langganan REG<spasi>PRIMBON
Atau ternyata dia sudah punya pacar
…
You never know.
Tidakkah elo pernah mengkhawatirkan hal-hal semacam itu?
Another long title, huh? I’m really into quotations FYI, hehe.
Entah kenapa gue tiba-tiba ingin menulis masalah ini. Kalau bahasa AMJSnya mah,
Dari dulu gue nggak pernah merasa menjadi orang yang tenar, digosipin banyak orang, apalagi sampe ada yang bisik-bisik kalau gue lewat (serem juga :P ). Gue senang punya teman banyak, tapi dalam pertemanan, gue menuntut quality, and not quantity. Ketika gue
menyebut seseorang sebagai teman gue, berarti betul-betul berteman, dan bukan sekedar ’say hi say yes say yo’ kalau ketemu.
Waktu masuk kuliah, di mana ITB sangat banyak membuat acara ini dan itu, open recruitment sana-sini, dan gue mostly nggak ikutan karena gue merasa punya banyak kegiatan dan kerjaan lain yang gue minati, orang-orang lantas mulai menyebut gue ansos alias ANti SOSial. Haha.
Well, gue nggak pernah tersinggung dibilang ansos. Gue memang prefer menghabiskan waktu sendirian baca atau nulis atau hotspotan sambil ngopi ketimbang ngurusin kepanitiaan yang gue nggak minati, misalnya jadi seksi keamanan penerimaan mahasiswa baru atau, apa yah, olimpiade ITB misalnya. Jujur, gue gak minat.
Gue akui, kegiatan semacam itu memang bagus, menambah pengalaman, memberi pengetahuan, dan beberapa poin formal lainnya. Tapi gue nggak minat. Dan gue melihat hal-hal tersebut nggak punya banyak nilai tambah buat gue. Dan gue makin kecewa, waktu gue nanya sama teman gue, apa yang diharapkan dari ikut begituan.
“Yah, biar eksis aja.”
Ouch.
Gue sama sekali nggak menyalahkan kegiatan menambah teman, mencari teman, mendulang teman, atau apalah itu. Gue nggak menyalahkan naluri alamiah untuk punya banyak teman dibilang gaul (walaupun gue naluri semacam itu sepertinya nggak ada pada gue, atau kalaupun ada, udah terkubur bersama masa ABG yang alami juga). Namun, ketika orang menjadikan hal tersebut sebagai alasan kenapa dia melakukan sesuatu, then I feel pity for them. I really do.
Menurut gue, ketika kita melakukan sesuatu yang memang ada tujuannya, bahasa ilmiahnya, ada visi dan misinya, dan kita menjalaninya secara proporsional, maka yang namanya dapet teman, dapet pengalaman, dapet macem-macem will just naturally happen. Menjadi eksis pun tinggal urusan waktu, kalau memang kita punya kualitas. Terbukti, gue punya beberapa kegiatan yang bernilai tambah menurut gue, dan gue punya teman-teman, with quality.
Salah satu hal yang bikin gue makin bertanya-tanya
“Put, kalau abis kuliah jangan langsung pulang. Mengeksiskan diri dulu dong di CC.”
Waduh, kalau udah begini gue sih cengengesan aja deh. I have my own opinion in my own head. So does everybody. But for sure, gaining popularity is not my priority. Call me ansos, I don’t mind. I do everything my way ;)
—
Oh iya, omong-omong, Alhamdulillah gue udah keluar dari rumah sakit kemarin (hari Rabu). Terima kasih banyak atas doa (offline maupun online via milis, plurk, facebook, atau blog < - undeniably a geek) dan perhatian teman-teman semua.
Semoga kita semua sehat selalu. Jaya. Merdeka. Sentosa. Heheh.
How do you face disappointment?
Load extra amount of caffeine into your body.
Then work.
Or learn French.