Archive for April 2009


Up

April 26th, 2009 — 3:47pm

I’m a diehard fan of sky. I love it whether it’s bright and clear, blue with white cloud, or even dark with lightning. It’s never wrong. If it’s lousy grey, then blame the city. It’s amazing how it always becomes perfect background for everything. Mountain. Beach. Sea with unlimited horizon. Eiffel tower. Ferris wheel.

I also have a crush on everything floating up there. Paperplane. Zeppelin. Balloon. Dandelion.

Then there’s no wonder I was so excited about the upcoming Disney-Pixar movie: Up. I saw the trailer a few days ago and fell in love instantly. This film is about a retired 78-year-old balloon salesman who tied thousands of balloon to his home so he could go to South Africa, and unintentionally brought a chubby boyscout who tried to help a bit too much :D

More about Up.
***

I love the idea of a fatty boy becoming a hero.
I love the idea of tying my house to thousands of balloons and fly.
Wondering if I could come to Iceland that way :D
***

Well. The more I want a boyfriend. Haha. To see this movie with.
Preferably who would give me shoegaze-less birthday and come with me if Mew really comes true; on August.
Ha Ha. :P

8 comments » | Preview & Review

Fotografi dan Mainstreamisasi: Fenomena Sosial Kita

April 8th, 2009 — 3:22am

Ada hal yang menggelitik waktu kemarin Cebi bilang, “ada yang denger berita gak, bahwa penjualan DSLR tahun 2008-2009 naik 60%. Itu artinya apa, man? Fotografer makin banyak,” pada forum kumpul fotografi LFM ITB.

Lalu dibahaslah pada forum tersebut, kalau zaman sekarang fotografi cenderung dijadikan ajang gaya-gayaan. Lo pake kalung kamera DSLR, maka lo akan dianggap keren, gaul, berseni, apapun, not to mention: cukup kaya untuk membeli DSLR. Komentar temen gue yang lain, “kemana-mana bawa DSLR padahal auto”. Haha, iya. Settingan auto, fokus auto, semua-semua auto deh, tinggal jepret aja, tapi gayanya harus gaya fotografer lagi motret.

Well, mungkin ini adalah dampak era digital yang sangat memudahkan orang belajar fotografi. Punya duit, beli DSLR, jepret-jepret. Hasilnya bagus, bisa dipamerin. Hasil jelek, tinggal pijet tombol bergambar tong sampah. Gampang. Nggak perlu ngeloading film, bawa ke tukang cuci cetak, lalu menunggu akan jadi apa hasilnya.
Zaman sekarang, siapapun bisa motret.

Bagus sih buat perkembangan fotografi, khususnya di Indonesia. Makin banyak karya yang dihasilkan. (Hidup fotografi Indonesia!)

Tapi gue pribadi memandang miris fenomena ini. Karena apa, orang Indonesia itu memang punya kebudayaan latah. Kalau sesuatu udah jadi trend, maka akan besar kemungkinan hal itu menjadi mainstream. Kalau udah jadi mainstream, nilai-nilainya akan turun juga. Kenapa? Karena orang Indonesia itu bukan cuma latah, tapi juga dangkal. Intensi gaya-gayaan inilah yang akan menurunkan nilai suatu hal: booming secara kuantitatif, tapi secara kualitatif, nihil.

Ini juga yang menurut gue terjadi pada kopi dan jazz. Untuk gue yang penggemar kopi, kopi adalah bagian dari kultur, untuk dinikmati. Untuk menghangatkan obrolan, atau mengkafeinasi otak. Tapi gue memperhatikan, banyak orang sekarang menggunakan acara ngopi di tempat mahal sebagai sarana buat menunjukan, “hey world, gue ngopi loh, dan gue main Uno. Gaul kan gue??”. Sebut aja mereka ngopi di Starbucks. Berapa banyak yang mau membaca pengetahuan umum tentang kopi-kopi yang disediain Starbucks?

Jazz juga. Meskipun gue bukan pendengar fanatik jazz, tapi gue bisa menangkap fenomena Jason Mraz yang datang ke Java Jazz kemaren. Hampir semua orang yang punya duit dan suka mendengar lagu, “I’m Yours”, akan terlihat di sana. Tapi berapa banyak yang betul suka jazz, entah. Bahkan gue nggak tau berapa banyak yang betul suka musik, karena dari sekian orang yang gue tanya tentang Lisa Loeb, atau Lisa Ono, mereka nggak tau, siapakah si Lisa-Lisa ini.

Selain kopi, dan jazz, masih ada sederet daftar lagi, including BlackBerry, atau Mac. Ah. Berhubung gue bukan pengguna keduanya, jadi gue nggak mau mendahului lah, hehe. Tapi gue rasa, kalau kalian membaca dari awal, by this paragraph you must have got my point.

Mainstreamisasi ini lah yang gue sangat nggak rela terjadi pada fotografi. Fotografi adalah hal yang dalam, luas, dan memiliki esensi. Gue pun baru belajar, tapi gue belajar untuk berkarya. Untuk membuat foto yang bagus. Dan gue nggak suka kalau harus disamain sama orang-orang dengan setting auto dan fokus auto yang kemana-mana menenteng kamera DSLR hanya untuk gaya-gayaan.

Lomografi juga gue rasa sudah mulai mengalami fenomena ini. Gue memperhatikan, bahwa Lomo bukan lagi dipandang sebagai fotografi alternatif, tapi sebagai statement untuk itu tadi: gaya, gaul. Lagi-lagi terjadi pendangkalan esensi di sini. Yang main Lomo dibilang anak gaul, padahal menurut gue itu adalah generalisasi yang melenceng. Lomo adalah fotografi alternatif, dan konsep fun di sini TIDAK sama dengan memotret sembarangan asal ditenteng kemana-mana buat dipamerin.

Ok. Sebelum gue melebar lagi terlalu jauh, sebetulnya postingan ini sebetulnya cuma sebuah kritik dari gue. Kritik sosial yang mungkin memang nggak memberi solusi. Tapi seenggaknya, gue bisa memberi saran kepada orang-orang yang merasa sebagai orang-orang yang gue jelaskan di atas, ayolah, lakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Jangan cuma jadi orang yang latah dan gaya-gayaan. Kalau kalian sudah punya kamera DSLR, explore dan berkarya lah. Jangan cuma auto-auto aja. Kalau kalian sudah punya Lomo, ajaklah dia melihat dunia lebih banyak, jangan hanya dibawa kalau lagi kumpul-kumpul gaul.

Ayolah tinggalkan budaya gaya-gayaan ini, dan jadilah berkualitas :)

30 comments » | Deeper Thoughts, Photography

Back to top