Thoughts
comments 19

Lomo is Alternative Photography, and Don’t Get It Wrong

Diana gue dan hasil-hasil fotonya.

Bicara soal fotografi dan lomografi, gue masih sangat awam dalam soal ini. Gue baru mulai belajar fotografi pakai kamera SLR akhir tahun lalu. Lomografi sendiri, baru gue coba awal tahun ini, dimulai dengan membeli sebuah Diana F+ standar. Sekarang gue punya sudah punya 3 lomo. Bulan April gue beli Oktomat (yang bisa mengambil 8 gambar sekuensial pada satu frame dalam 2 detik), dan bulan lalu gue beli FishEye (gampangnya dia mirip intipan pintu deh, hehe.)

Dari awal gue katakan, gue tidak expert soal keduanya. Tulisan ini berasal dari sudut pandang gue pribadi (dan ya, sudut pandang gue sering berbeda sama orang kebanyakan, heheh). Jadi kalau ada kesalahan fakta, CMIIW ;)

**

Foto dan lomo. Hmm. I fall for both. Bedanya apa? Mungkin kalian bisa browsing soal lomografi di sini.

Untuk gue, keduanya sama-sama menyenangkan. Disaat fotografi menuntut kesempurnaan teknik; fokus, lighting, dengan hasil gambar yang tajam, warna yang ideal, atau bayangan yang sesuai; lomo nggak menuntut kesempurnaan itu. Sepertinya banyak yang salah menangkap esensi ‘nggak menuntut kesempurnaan‘ itu dengan ‘asal jepret‘. Well, memang semboyan lomo adalah “Don’t Think, Just Shoot”, dan salah satu dari ’10 Golden Rules of Lomo‘ nomer 5.nya adalah “try the shot from the hip”.

Gue sendiri nggak pernah melakukan itu. ‘Not think then shoot’. Atau ‘shoot from the hip’. Masalahnya lomo kan analog (masih pakai film), jadi mahal, hehe. Tapi gue menangkap rules ini dalam artian, lomo menekankan pada proses seni memotretnya yang seperti bermain, bukan cuma pada hasilnya. Kalau pada fotografi yang ciamik, kita harus memposisikan diri dan situasi demi hasil yang bagus. Pakai tripod, pakai flash dibeberapa tempat, pakai reflektor, pakai payung, dll. Waktu motret, kita nggak boleh ketawa-ketawa (bisa shake dan hasilnya blur dong, hehe). Harus serius. Gue sendiri ngerasa, kalau hunting foto, gue akan sangat konsen dengan ‘apa nih yang mau gue foto’, sehingga bahkan saat liburan sama keluarga pun, gue merasa terlalu sibuk dengan kamera.

Kalau pakai lomo, berasa bedanya. Tadi udah gue sebut: seperti bermain. Dimana-mana yang namanya main itu senang, kan? Heheh :) Didukung dengan bentuk lomo yang mirip mainan, menurut gue playful banget. Kita nggak bisa menebak apa yang dijepret oleh lomo kita karena nggak persis apa yang kita liat di viewfinder (bahkan kita bisa gak sadar bahwa tutup lensanya belum kebuka, hehe). Sekali lagi ini soal proses. Setelah jepret pun hasilnya pun nggak bisa dilihat langsung. Ada unsur menunggu, berharap, surprised, atau kecewa dalam lomografi. Kalau hasilnya bagus, gembiranya bisa dobel, karena itu tadi, ada efek nunggu, dan surprisednya. :D

Hasil Lomo FishEye.

Tapi kalau dibilang lomo kamera asal-asalan, gue nggak setuju. Dari segi pengorbanan aja, udah gede. Beli film, masukin film, belum lagi kalau yang udah ahli, film itu akan didevelop sendiri, bisa di xpro, lalu discanroll, atau dicetak. Pengorbanannya besar loh itu :P

Lalu hasilnya? Menurut gue hasil jepretan lomo itu khas. Nggak sempurna. Sering blur, nggak tajam, kepotong (karena soal viewfinder itu tadi). Tapi feelnya beda. Dan gue juga nggak setuju sama pendapat seperti, “kalau jelek, yaudahlah, lomo ini.” Memang sepertinya begitu, tapi kesannya jadi hasil lomo = jelek. Padahal bukan itu esensinya. Lomo bukan mengejar gambar yang blur, overexposed atau underexposed. Hasil yang diinginkan menurut gue tetaplah gambar yang bagus, khas, dan dapet feelnya. Ketidaksempurnaan yang dimaksud sebagai hasil lomo adalah faktor kelemahan kamera itu sendiri yang terbuat dari plastik, dan ringkih (makanya khas, seperti efek leakage), dan bukan soal penggunanya yang nggak punya skill (no offense untuk anak gaul yang pakai lomo cuma buat gaya-gayaan ya, haha :P)

Hasil Lomo Oktomat.

Jadi tetep aja menurut gue pakai lomo juga nggak bisa asal-asalan. Main, iya, tapi kalau gue tetep pakai sense of composition, tetep memperhatikan, apakah objek tersebut menarik atau nggak untuk dijepret, tetep memperhatikan teknis lomonya sendiri. Misalnya Diana F+, dia tetep punya aturan harus disetting di kekuatan cahaya macam apa, berapa lama harus ditahan, berapa jarak fokusnya. Itu tetep gue perhatikan. Dan hasilnya, kalau yang gue bilang bagus ya bagus, kalau yang gue bilang jelek ya jelek, kalau gagal ya gagal. Kalau gambarnya blur banget, itu bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang shake. Kalau overexposed, bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang salah setting cuaca. Gambar jelek bukan tujuan lomografi.

Bicara soal lomo Diana sendiri, Allan Detrich, seorang expert Diana bilang begini,

“It (Diana camera) levels the playing field for all photographers. It lets the photographer’s talent show through because if a photographer can take a great photo with a Diana, he truly is a great photographer.”

Dan kenyataannya memang susah banget mendapatkan hasil yang bagus dari Diana (lagi lagi, bagus jangan diartikan seperti gambar yang sempurna dalam fotografi, ya). Kalau kita bisa, then it means, we’re so damn good at it :D

Sekali lagi, lomo adalah fotografi alternatif. Maknanya jangan disempitkan jadi fotografi asal-asalan, jangan juga dilebarkan jadi film photography.

Soal fotografi film ini, mengutip sebuah website anti lomo:

Anti Lomography? Yes, we hate the fact that film photography seems to be reduced to crappy images produced with the mantra “Don’t think, just shoot”. We are totally against this doctrine, we not only think, we study, we learn, we follow and most importantly we shoot from the heart not the hip.

Kalau menurut gue? Foto dan lomo hanya berbeda. Jangan dibandingkan, jangan dipersamakan, tapi jangan juga diremehkan :)

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

19 Comments

  1. well, gw juga ga stuju “don’t think just shoot”

    fotografi tu bukan asal2an
    itu pelajaran awal sejak megang kamera
    (eh tepatnya megang majalah ttg fotografi)

    gw make Lomo Holga,
    sampe sekarang masih blm ahli2 bgt
    tapi dari basic gw tetep berkeyakinan
    “a good photo is the way it speak something”

    kalo kita asal jepret, apa yg kita mau ungkapkan?

  2. Nice article. I can see that you’re a passionate photographer.

    Menurut gw, apa yang kita pelajari di fotografi tetap sama dan ga berubah dari dulu sampe sekarang: learn about your camera, learn about yourself, learn about the world, and you’re ready to make pictures :) it’s as simple as that.

    Yang berbeda cuma cara meng-ekspresikan diri (melalui foto), konsep, pengalaman, dan alatnya saja.

    Boleh dong kita pake Hasselblad atau Canon 5DII tapi “don’t think, just shoot”? :)

    and there’s no such thing as “asal jepret” IMHO. selama kita pake kamera (analog/digital), you have your intention on your fingertip on the shutter button.

    cheers.

  3. satu2nya yang ga gw suka dari lomo adalah build quality yang, well, kayak mainan. gampang rusak dan patah.

    orang yang keseringan moto DSLR kayak gw pun butuh mainan yang reliabel :p

    *melirik iri si Lc-A*

  4. betul2.. overall gw suka sama tulisan lo put.
    kenyataannya lomo sama fotografi (slr) tuh emang beda. walaupun smua orang bisa pake kedua-duanya tapi emang butuh keahlian khusus untuk dapetin gambar2 yang feel nya bagus..
    dua-duanya juga seru, asik..
    klo lomo ya seninya pake film itu, nunggu scannya jadi emang beda sama slr..

    good job, put.. :)

  5. puty says

    @adi: setuju banget! :)

    @adham: setuju aja dham :P

    @eric: setuju jugaaa.. :D

    @ramda: iya ram. padahal kalo dibikin dari karet mungkin lebih tahan ya? (thinking)

    @ara: thanks for reading :)

  6. postingannya kereeen put. jadi itu ransel makin buntet aja dong diisi netbook, dslr pleus lomo 3 biji?

    tapi btw, kamera lomo sejati adalah kameranya mas lomo sihombing (detikbandung) heheheu *dibacok*

  7. puty says

    @diki: eh buset, ya ga dibawa semua lah dik. emang gue roy suryo. (ninja)

    @anis: hehe, hai anis. thanks for reading :)

  8. uaa baru baca,
    niceness puty!

    saking pelitnya kita ma film, jadinya
    “shoot whenever you had fun for a click, make sure it worth it” for me personally

    ahu rasa agak sedikit mendekati master fotografer pisan dengan foto2 terakhir ahu
    (evil_smirk)

  9. puty says

    @ahu: iya. duit buat klik klik itu sama dengan duit makan ya hu. hahah.

    whattt… master fotograferrr??? (evil_grin)

  10. Joseph says

    Ya bagaimanapun lomo tetep lomo,dont think just shoot! dan janagn pernah berpikir tentang hasil akhir! ITS FUN GUYSSS!!

  11. tata says

    putiii sangat like thiiiiiiiiiiisssss…
    ayo galakkan lomografi di sekitar kitaaa.. hahaha
    gw mulai bulan depan coba diana nih.
    kenapa baru bulan depan? karena baru bulan depan gw dapet duit buat beli diana..
    udah bosen banget nih sama si gendut fisheye. hihihi ;p

  12. tata says

    dan menurut gw makna di balik kata-kata “don’t think, just shoot” adalah KADANG-KADANG seseorang yang telah cukup memiliki skill dalam bidang fotografi dan fasilitas (kamera) yang sangat menunjang bisa menjadi sangat sombong karena hal itu (GAK SEMUA ORANG KAYAK GITU LHO, cuma beberapa ;p) dan tidak mempedulikan feel pada foto yang akan dihasilkan (sekali lagi, KADANG-KADANG, ga semua orang, no offense ;)).
    tetapi dengan lomo, dengan kesederhanaannya, qta diharapkan menghasilkan sesuatu yang mempunyai feel dan catchy (mungkin krn efek surprise itu tadi).
    lagipula kalo soal teknik semua bisa belajar, tapi kalo soal lomo hanya pengalaman dan sedikit keberuntungan yang qta perlukan. haha

    panjaang ya put.. soalnya gw udah bener2 jatuh cinta sama lomography nih!

  13. Pingback: Lomografi Digital, A Review

  14. gethasaja says

    hii.. salamkenal..baru baca tulisan ttg LOMO nya nie.. kebetulan saya tertarik sama LOMO lagi nyari2 kira2 yg cocok buat pemula apa hehehe..thanks sharingnya

Leave a Reply