I Constantly Think About Them, About Me, About Us
Beberapa hari yang lalu seorang teman gue, Ardi, bercerita bahwa ada temannya, anak ITB juga, yang suka pulang malam untuk mengajar anak-anak di bawah jembatan layang Pasupati. Komentar gue saat itu hanya, “wowww….” Namun sejujurnya, cerita super singkat itu telah membangkitkan sebuah draft postingan yang sudah lama berada di otak gue selama ini.
Kebetulan, sorenya, gue ikutan acara bakti sosial GEA; membagi-bagikan makanan bagi yang kurang mampu di Jalan Merdeka.

Sebetulnya bukan hal yang luar biasa. Sehari-hari gue melihat mereka. Gue dibesarkan di keluarga yang secara ekonomi biasa-biasa saja. Gue setiap hari ‘bersentuhan langsung’ dengan orang-orang yang tidak seberuntung gue. Di jalan atau di angkutan umum, dalam berbagai bentuk dan keadaan. Supir angkot, pedagang kaki lima, pengemis, pemulung, tukang bangunan.
I constantly think about them.
‘Kedekatan’ ini yang membuat ketika gue berinteraksi dengan mereka, tidak cuma muncul rasa kasihan. Gue seperti punya rasa tanggung jawab. Mungkin rasa tanggung jawab sebagai umat Islam. Mungkin rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa yang kuliah di institusi yang disubsidi oleh negara. You may think I started to sound like bullshit, tapi, iya. Gue ingin berkontribusi. Kalau kontribusi langsung yang bukan cuma sekedar bagi-bagi makanan dalam rangka bakti sosial apa ya?
Dalam hal ini, gue sangat salut sama temannya Ardi. Sayang gue nggak kenal langsung sama orangnya.
I constantly think about me.
Mungkin hidup gue terlalu dekat dengan kapitalisme. Gue tidak anti kapitalisme. Gue tidak anti orang-orang yang sibuk bergaul mahal malam-malam di club. Gue tidak anti orang-orang yang sibuk pamer makan sushi mahal lewat twitter dari BlackBerry mereka. Gue tidak anti orang-orang yang beli baju sampai jutaan perpotongnya. Gue tidak anti orang-orang pintar yang punya mindset cepat lulus kuliah, dapat kerja, dan angkat kaki dari negeri ini. Gue tidak anti oportunisme.
I just constantly think about us.
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the worldYou may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as oneJohn Lennon – Imagine
Category: Deeper Thoughts | Tags: GEA, Indonesia 13 comments »








September 13th, 2009 at 11:21 pm
alhamdulillah that you still remember. i don’t know how but i think they’ll know, somehow, that we do care to them.
though changing a capitalism mind is sometimes hard, eh.
September 13th, 2009 at 11:22 pm
just think? konkritnya gimana? :D
*menohok diri sendiri*
September 13th, 2009 at 11:35 pm
ouch!
iya sih put, gue setuju. entah mengapa itu (rasa ingin berkontribusi) adalah yang gue inginkan bisa timbul dari dalem diri gue sendiri, tapi gue juga di satu sisi pingin ini itu anu (salah satu hal yang lo sebutin itu)
as always, satu lagi post-an lo yang berat tapi memang sangat bagus put! :)
i guess i really am blessed to have such a friend like you! <3
September 13th, 2009 at 11:49 pm
Salah satu tindakan kongkret untuk tidak melupakan mereka adalah, terus-menerus memikirkan nasib mereka sampai kita dapat satu kesempatan untuk membantu, dan kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu :)
Yang paling kecil dan paling dekat dengan kita, mungkin ikutan coinachance.com kali ya, geb.
Aku punya rencana ambisius dalam hal ini, geb, tapi terus terang susah sekali mengeksekusinya. Setiap hari aku ketemu anak-anak jalanan itu ngelem aibon di banyak lampu merah yang aku lewati. Tapi mereka dilindungi oleh preman-preman yang siap bertempur kalo kita berusaha “menyelamatkan” mereka. Dan ironisnya, jaraknya biasanya hanya beberapa meter dari pos-pos penjagaan bapak-bapak yang berseragam.
Bagaimana caranya menolong mereka? Supaya mereka bisa sekolah dan bisa makan dengan layak? Tanpa harus ditangkap apalagi dicap melakukan perbuatan haram dan melanggar hukum?
*terdiam lama dan terpekur*
September 14th, 2009 at 12:12 am
put put, berkat dengerin radio lagi akhir2 ini aku jd tau lho banyak anak muda bandung yang jadi pengajar bahasa inggris secara sukarela buat anak2 kurang mampu di bandung atau bahkan kayak di garut gitu..
ada satu segmen di prambors namanya ‘malaikat muda’ yang ngebahas volunteer2 kayak gitu..
organisasi kemahasiswaan kampus kita sendiri dulu ada proker yg Rumah Belajar itu.. tapi perkembangannya sekarang ga tau gimana sih..
aku pengen tu put ikutan ngajar2 gitu..yuk yukk.. it should be a lot of fun deh =)
September 14th, 2009 at 2:45 am
andai saja pemerintah itu ndak korup..
September 14th, 2009 at 12:29 pm
put yang program ke pengalengan kemaren juga ada volunteer ngajar loh. selain itu pernah denger bandung bercerita nggak? itu juga sangat asik. waktu itu gw ketemu mereka di acara balad kuring. mereka ngajarin anak2 kecil punya mimpi. bikin maket dr bahan bekas untuk ngevisualisasiin bandung 5 thn ke depan.
oya kalo nggak ikutan taboo aja put. rumah belajarnya psik ITB.emang musti jeli nyari2 sih. pasti banyak kesempatan ;)
ayo mencoba ;)
September 14th, 2009 at 8:24 pm
Berbagi dengan mereka yang kurang beruntung itu indah dan sangat mendewasakan kehidupan kita. Go get it, Put!
September 18th, 2009 at 10:38 am
Waaa… Nama gua ada di blog Puty
*mata berkilau, berbintang-bintang, mirip sinchan yang kagum lihat pahlawan bertopeng
Serius:
Dia anak ITB, jurusan Teknik Geofisika… baru juga gua denger bahwa dia jadi kakak asuh untuk adik-adik yang kurang beruntung. Dia membayar sebagian uang SPP beberapa adik-adik di Balubur dan sekitarnya. Menurut gua sih, kita ga perlu blame pemerintah, karena itu justru cobaan dari Allah ke kita sendiri. Apakah hati kita terketuk untuk menolong mereka atau tidak? Apakah ladang amal yang berujung surga-Nya mau kita kejar atau tidak?
I’ll tell ya, Bru! Pemerintah kalo ngurus gituan bisa berabe. “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Bru, kalau Bokap gua dulu memelihara ayam, makin lama ayamnya makin banyak atau berkurang? Nah, kalau negara memelihara mereka, bagaimana?
*Jangan dipikir! Huehehe. Ya, intinya, ayolah kita sadar, bahwa mereka juga manusia, ciptaan Allah, yang berhak juga untuk merasakan bahagia. Dan ingat, kebahagian yang kita dapat, kan jauh lebih indah bila kita bisa berbagi bersamanya. :D
September 18th, 2009 at 12:27 pm
wah, lupa ngebalesin komen disini.. *gubrak*
tapi tampaknya post ini cukup mendapat komen-komen yang serius ya :D makasih untuk risachan & raras untuk infonya. mungkin kalau lagi ga sibuk aku mau mencoba ikut gituan.. tapi kayanya belum sempet-sempet nih.. sibuk hidup buat kapitalisme aja guenya.. :P
but I love poetra’s line here:
:D
September 19th, 2009 at 11:30 am
yah, kalo terus-terusan melihat kebawah, nggak akan ada habisnya…gitu juga ketika kita mendongak ke atas…bukankah sebaiknya kita mengajak orang2 yang diatas untuk ikut membantu mereka2 yang dibawah??
alhamdulillah, gw n beberapa temen komunitas blogger Semarang, Loenpia, bisa mewujudkannya dalam satu bentuk kecil yaitu Loenpia FORCE
misinya sih membantu adik2 yang kurang beruntung dalam ekonomi untuk biaya sekolah…alhamdulillah sudah ada 6 adik yang kami bisa bantu full biaya sekolah serta keperluan sekolahnya, walaupun program ini masih baru berjalan 4 bulan…
intinya sih, put…kita nggak perlu menunggu orang lain untuk membantu kita juga kan? kalau kita bisa mulai lebih dulu, tentunya akan semakin banyak orang tertarik untuk mengikuti jejak kita
semangat!! :D
September 19th, 2009 at 11:33 am
yah, kalo terus-terusan melihat kebawah, nggak akan ada habisnya…gitu juga ketika kita mendongak ke atas…bukankah sebaiknya kita mengajak orang2 yang diatas untuk ikut membantu mereka2 yang dibawah??
alhamdulillah, gw n beberapa temen komunitas blogger Semarang, Loenpia, bisa mewujudkannya dalam satu bentuk kecil yaitu Loenpia FORCE
misinya sih membantu adik2 yang kurang beruntung dalam ekonomi untuk biaya sekolah…alhamdulillah sudah ada 6 adik yang kami bisa bantu full biaya sekolah serta keperluan sekolahnya, walaupun program ini masih baru berjalan 4 bulan…
intinya sih, put…kita nggak perlu menunggu orang lain untuk membantu kita juga kan? kalau kita bisa mulai lebih dulu, tentunya akan semakin banyak orang tertarik untuk mengikuti jejak kita
semangat!! semangat!! :D
January 30th, 2010 at 12:50 am
Alhamd.. dimata orang, hal spt itu terlalu idealis, bullshit., tp bukan buat aku. aku inget ma amanah sewaktu di BEM kemaren. awalnya au berpikir masuk BEM ingin mencari pengalaman, tapi dari situ mataku dibukakan kalo banyak hal yang harus dikerjakan selaen hanya sekedar mencari pengalaman saja. disana aku dilihatkan ibadah yang sangat menyenangkan. bisa membantu yang kesusahan masuk kuliah, memberi makan anak jalanan sampe memperjuangan bersama temen2 aspirasi mahasiswa dikampus. semuanya sangat indah, dan aku tidak peduli sama teman2ku yang menganggapku kurang kerjaan..
semoga ibadah kamu diterima Tuhan YME, Amin… ^^