Review
comments 7

Lomografi Digital, A Review

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah menulis tentang lomografi. Cukup banyak yang tertarik. Beberapa urung waktu tau bahwa lomo pakai film dan masih harus diproses sambil gelap-gelapan. Beberapa bertanya, “Apakah ada lomo digital?”

Well, beberapa minggu yang lalu, gue membeli adaptor lensa Diana F+ untuk SLR Nikon. Adaptor itu memungkinkan gue memakai lensa Diana di SLR. It’s Diana, and it’s digital.

lensadaptor

At first, gue excited sekali. Gue bisa punya foto-foto Diana, tanpa harus repot-repot bawa ke tukang cuci film, tanpa harus lama-lama nungguin proses scanroll. Kalau hasil kurang memuaskan bisa diulang. Kalau gelap bisa pakai flash (soalnya gue belum punya flash Diana, hehe). Beberapa hari setelah itu gue hunting ke Kawah Putih. Hasilnya seperti memotret gurun dalam mimpi :)

02

01

03

04

Having ‘digital lomo’ is somehow nice. Quick results, checked. Adjustable white balance, checked. Switching to black and white mode easily, checked. Flash, checked. Having all those digital SLR features with plastic lens never sounds so tempting.

But is this it?

For me, shooting with digital lomo is easier, and cheaper. Nggak perlu pakai film. Nggak perlu banyak effort, waktu, dan biaya untuk memproses rol demi rol. But I miss the reasons why I love lomography.

Waktu acara ini, Dicky Juwono, seorang fotografer analog, pernah mengatakan hal yang menarik, kurang lebih begini.

“Fotografi analog itu seperti kupon undian. Kita bisa kalah dan bisa menang. Pada fotografi digital, kita tidak bisa kalah, tapi kita juga tidak bisa menang.”

Don’t get the quote wrong. Quote tersebut bukan sinisme terhadap fotografi digital (toh, gue pengguna fotografi digital juga.) Ini cuma soal unsur kejutan. Dan lomo seharusnya memberi efek judi fotografi. Selain efek blur.

Lalu kamera Diana gue, berdebu dan kosong tak berfilm, seperti bilang, “Hey, it’s me your fragile plastic camera hanging here; with all of my weakness, and effortless charm.”

It seems that I would give up digital Diana. The plastic lens shouldn’t be there. There wouldn’t be vignette, leakage, or the miracles of cross-processing.
There wouldn’t be reasons to call it lomography. There wouldn’t be many reasons to love it.

Gue kembali pada Diana gue. Gue kembali pada mimpi gue untuk mengoleksi aksesoris-aksesoris Diana; flash, instant back, 35mm back, satu set lensa. I wiped her clean with damp cloth, I wrapped her in plastic, and treated her like treasure. I’m falling back in love with Diana.

So if you ask, is there digital lomography? Well, maybe, not really.

Filed under: Review

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

7 Comments

  1. sampe sekarang aku belum nemu “keindahan” dari foto-foto hasil Lomo. bahkan Arbain Rambe (fotografer senior Kompas) pernah bilang, pengguna Lomo itu orang aneh, hihihihi.

    tapi, kembali ke urusan selera sih.. :D

  2. by says

    halo, maaf ni nyasar ke blog ini..mau tanya klo boleh, itu beli adapternya dimana ya? ada ga yang buat canon n lensa lomonya bisa dibeli partial ga?
    makasih sebelumnya,
    regards

  3. dian says

    berapa harga adaptor lensa Diana F+ untuk SLR Nikon nya?
    beli dimana?
    bisa dipake buat diana mini gak?
    harus F+ ya?

Leave a Reply