Omar’s Coffee

Pernah
Di timeline twitter saya, saya beberapa kali pernah membaca nama Omar’s Coffee. Sebuah kedai kopi yang muncul di antara rimbun pasar penikmat kopi. “Namanya lucu juga,” pikir saya. Sampai suatu hari, waktu sedang keluar bersama Ais, di perjalanan saya melihat kedai tersebut. “Oh, itu Omar’s Coffee.”

Kapan-kapan
Omar’s Coffee berada di bilangan Radio Dalam. Dari luar, tempatnya tidak besar, dan tidak terlalu mencolok. Entah kenapa bisa menarik perhatian saya. Saya sendiri belum pernah masuk dan mencicip, ”tapi sepertinya kalau kapan-kapan kesana boleh juga,” demikian saya setengah berencana.

Kemarin
Sampai, kemarin atau dua hari yang lalu, di timeline twitter saya ada kabar bahwa Omar, sang pemilik Omar’s Coffee, meninggal karena kecelakaan. ”Sayang sekali ya,” pikir saya lagi. I didn’t ever bother to think how would then a coffee shop continue if the owner passed away.

Siang ini
Saya berjalan-jalan bersama ibu saya siang ini. Di tengah obrolan, ibu saya bercanda, ”Nak, jadi orang jangan terlalu baik. Nanti cepet mati kaya temen ayah, si Omar.” It didn’t ring the bell. Omar who? Ibu saya memang suka bercanda sembarangan.

Malam ini
Di meja makan malam ini akhirnya muncul lagi kelakar sejenis. “Jangan terlalu baik, nanti cepet mati kaya si Omar.” The bell rang eventually. Saya tanya, ”eh, Omar itu yang punya Omar’s Coffee, Bun?” ”Iya, memang dia punya kafe. Iya betul, Omar’s Coffee. Dia temen ayah, Nak. Meninggal kemarin.”

Begitulah pertemuan saya dengan Alm.Omar dan kedai kopinya. Ternyata dia sekantor dengan Ayah, dan mereka sering mengobrol. Kata ayah saya, dia sangat suka kopi. Dia memilih kopinya sendiri, dan tidak pernah menggunakan sistem stok, karena kopi akan kehilangan kenikmatannya ketika terlalu lama dibiarkan menunggu. Kata Ayah, Omar masih muda, dan punya 3 anak. Omar membeli motor, karena mobilnya tidak cukup cepat membawanya pulang ke rumah dari kantor dan berangkat kembali ke kedainya. Dia butuh lebih banyak waktu untuk bertemu anak-anaknya. Begitulah; dia meninggal karena kecelakaan motor kemarin.

Kata Ayah, Omar sangat baik. Sebelum meninggal, dia berbagi kata-kata tentang kematian. Ayah saya tidak pandai mengutip, tapi menurut beberapa temannya, boleh jadi itu tanda.

Rasanya sempit sekali, dimensi pertemuan, dan durasi hingga kematian. Hingga suatu hari saya akan ke Omar’s Coffee.

Ada yang mau mencoba? Mungkin ini, ini, ini, dan ini berguna sebagai referensi.

Additional fact: ternyata Omar adalah alumni SMA 68 juga. Angkatan ’90.

02. April 2010 by puty
Categories: Deeper Thoughts | Tags: , | 11 comments

Comments (11)

  1. Somehow, ada sesuatu yang pahit aku rasakan waktu membaca postingan ini. Entah pahit yang bagaimana, semoga pahit yang baik seperti kopi, dan semoga almarhum diterima di sisi-Nya yang sebaik-baiknya.

    Sometime, you should visit the coffee shop, geb :)

  2. Such a small world eh? Semoga yang terbaik dari-Nya buat Omar.

    Nice one, puty!

  3. tulisan yang terasa pahit, sedih, namun juga interesting, Kak :)

    Saya juga dulu pernah punya pengalaman ‘small world’ seperti ini, hanya saja memang bukan tentang kematian. Well, intinya… kita memang harus baik pada siapa saja ya ;)

  4. haduh, mengharukan sekali. :(
    tp aku baru denger loh ttg Omar’s Coffe.
    jd penasaran… jd pengen ke sana jg. ^^

  5. Hai putty sedih sekali membaca erita mu ini, saya salah satu teman dari Mas Omar beliau memang baik.., dan saya suka bertanya tentang banyak kopi dengan beliau hingga suatu saat beliau minta di promosikan kedai kopinya oleh saya…, dan mengapa ini cepat sekali berlalu… ini ada beberapa foto-foto beliau semasa hidupnya dengan kopinnya

    http://www.facebook.com/album.php?aid=147059&id=91299885215

  6. Hah?? Baca postingan ini jadi keingetan cerita salah satu bos uni yang dateng ke pemakaman temennya baru-baru ini. Dia punya tiga anak, punya kedai kopi, dan meninggal karena kecelakan motor. Ternyata…..

    What a small world

  7. Hai Puti, a very nice story tentang Omar’s Coffee. Saya Teddy, teman almarhum yang sekarang melanjutkan mimpi almarhum untuk membesarkan coffee shop itu. Kapan-kapan mampir yah Put. A coffee on the house buat kamu.

  8. finally found your site. indeed he was a great person. a wonderful friend and like a brother to me.
    The coffee shop was his dream. his biggest dream.
    You must taste his coffee, it’s damn good. His green tea blended can beat Starbucks’.

  9. Hai Puty salam kenal..
    Nama bokapmu siapa?
    Aku kebetulan juga teman sekantor Alm.Omar.
    Aku lg iseng search di google trus sampailah kemari..

    Hehehe..

  10. Ya ampuuunn… dulu gue sering banget ngopi di omar’s.. Orangnya baik banget deh, gue suka dikasih gratisan kalo ngopi disana. Ya ampun gak nyangka deh dia udah meninggal.. Ceritanya dalem banget, semoga si Omar tenang di sana :)

  11. Sebulan lalu saya mampir ke Omar’s tapi belum sempat ketemu sama Mas Ted Wahyu. Saya malah baru tau kalo foundernya, Omar, sudah tiada. Semoga beliau diberi tempat yang terbaik di sisiNya

Leave a Reply

Required fields are marked *

*


Switch to our mobile site