Thoughts, Words & Writings
comment 1

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Mana Aku Kenal Rakyat Itu

Siapa itu rakyat? Di mana alamat mukim mereka, bagaimana potret nafkah mereka, tunjukkan konfigurasi kesehatan mereka, tolong perjelas status mutakir demografi sesungguhnya,

Karena itu di masa puncak kelaparan saya dengan ringan bisa makan di pesta perkawinan yang satu porsi tagihan lima puluh ribu rupiahnya, setara untuk mengisi perut 50 orang miskin perkotaan dan pedesaan, dengan musik Kopi Dangdut bising memecah gendang telinga,

Siapa itu rakyat? Kalau tak silap rakyat adalah kumpulan selugu-lugu wajah, gampang dibariskan, mudah dicatat sebagai sederetan angka, menerima saja dihujani sejuta kata-kata dengan perangai tak banyak tingkahnya,

Karena itu di waktu satu bangsa ditebas sengsara saya enteng-enteng saja melahap daging bulat smorgasbord Skandinavia dan rijstafel Hindia Belanda seporsi seratus ribu rupiahnya, setara untuk melepaskan pedih lambung sekali makan 100 orang miskin kota dan desa, sementara daun telingaku di acara ulang tahun itu dipijat-pijat lagu Kukuruku Amerika Latin yang merdu itu,

Siapa itu rakyat? Di mana kawasan geografi mereka, bagaimana lapisan asli populasi mereka, peragakan patologi pencernaan mereka, lalu perinci naik-turun tensi rohani orang-orang itu yang sesungguhnya,

Sebagai penimbang rasa betapa saya luar bisa pendusta.

Taufiq Ismail in ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’, 1998

I read this book, ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’, when I was in high school. I made denial, I said I knew them. I said I would do something for them. What? Planning to buy another bag and shoes?


Edvard Munch. Street in Asgardstrand. 1902. Oil on canvas

1 Comment

  1. #jleb
    Saya juga begitu. Sibuk berkoar, menyalahkan pejabat, menuding anggota dewan, tapi juga sibuk meresahkan tas yang sudah lama tak diganti, sepatu yang lusuh (tapi masih bisa dipakai).
    Kata saya, “Dasar wanita!”. Tapi apa memang benar karena saya wanita? Atau memang karena sebenarnya saya memang benar-benar tidak peduli pada mereka? Sungguh, terkadang saya meragukan niat tulus saya pribadi.

Leave a Reply