Thoughts, Work & Business
comments 7

Oil & Gas = Tidak Nasionalis?

Menjelang masa-masa menjadi pencari kerja, saya sering mendengar komentar yang ‘nyinyir’ soal kerja di bidang migas atau lebih gaul disebut oil & gas. Agak sebal, soalnya saya tumbuh hingga sekarang dihidupi oleh ayah saya yang jadi ‘kuli’ di sebuah perusahaan migas. Alasan sebal kedua, soalnya saya juga mau cari kerja di bidang ini setelah lulus :P

Saya sadar kok bahwa kerja di Schlumberger atau Chevron bukan pekerjaan paling idealis di dunia, dan ya memang, statusnya ‘kuli’. Ironisnya, jadi ‘kuli’ angkut untuk orang asing pula. “Tidak nasionalis deh, sementara rakyat Indonesia butuh kita, kita malah kerja untuk orang lain asal digaji besar“.

Sebelum lanjut soal oil & gas, saya mau berbagi pengalaman saya mengenai nasionalisme di ISFiT (International Student Festival in Trondheim) kemarin. Di ISFiT saya mengikuti workshop “Development & Aid” bersama dengan 20-an pelajar dari berbagai negara. Selama workshop kami banyak berdiskusi dan berdebat soal kompleksnya masalah negara berkembang, juga bagaimana negara maju suka ‘menjajah’ negara berkembang di era modern ini. Dalam 6 hari workshop, salah satu activity yang paling menarik adalah game “Koala & Panda”.

Game “Koala & Panda” ini membagi kami menjadi 2 grup yang diberi misi yang sama: membangun rumah sakit 4 tingkat dari kertas (dengan ketentuan tertentu). Lalu masing-masing grup diberi sekantong bahan dengan jumlah yang tidak adil, dan peraturan yang tidak adil. Ada grup yang tidak diberi kertas warna tertentu, ada grup yang tidak bisa menyentuh kertas warna tertentu, dst. Kedua grup dibolehkan bernegosiasi dan bertukar komoditi.

Saya kebetulan masuk di grup yang diberi bahan dasar sedikit. Sialnya, memang peraturan tidak berpihak kepada kami (tidak bisa menyentuh kertas warna-warna penting) dan bangunan kami sering ceritanya ‘diganggu’ oleh ‘angin ribut’ atau ‘gempa’ (baca: diganggu panitia). Menit-menit terakhir grup saya sudah pasrah dan melihat grup lawan sudah menyelesaikan dua tingkat rumah sakit, kami mengobrol saja. Bahan-bahan sudah habis & ‘ceritanya’ grup kami sudah tidak punya apapun lagi yang dapat diperdagangkan.

Setelah waktu habis kami mendiskusikan permainan ini bersama.  Singkatnya, permainan ini memang simulasi sederhana bagaimana negara-negara di dunia tidak dianugerahkan sumber daya yang sama rata, baik SDA maupun SDM.

Ini cukup menampar saya. Dulu, saya punya cita-cita pindah ke negara lain, yang sistem transportasinya ‘nggak kacrut’, yang orang-orangnya lebih berpendidikan, lebih sehat, dst. Sebetulnya sejak masuk kuliah saya tidak menyimpan mimpi itu lagi, namun saat saya merasakan main “Koala & Panda”, rasanya saya menyesal sekali pernah berpikiran begitu. Dalam simulasi kecil ini, nyata sekali bagaimana ‘pedih’nya melihat negara lain berkembang pesat sementara negara kita begitu tertinggal, lalu mau kita tinggalkan pula.

Lucu ya, saya mendapatkan kembali nasionalisme saya justru di negara orang.

Sambil agak berkaca-kaca, saya menjelaskan kepada seisi workshop, “I never realize how my country needs me.” Waktu memandang ke jendela, di luar bersalju dan cantik sekali, tapi saya bisa membayangkan bagaimana raut muka orang-orang yang sering saya temui di jalanan di Bekasi dan Jakarta.

Setelah itu saya semakin sering memikirkan ‘apakah yang terbaik yang bisa beri untuk negara ini’?

Sebagai mahasiswa yang masih ‘numpang hidup’ sama orang tua sih, paling-paling saya ikut mendukung kegiatan sosial skala lokal yang ada di sekitar. Kadang sekedar berdiskusi sama teman-teman, tapi ya namanya juga mahasiswa, idealisme sih idealisme, kalau sudah lulus terus nganggur ya nggak bisa ngasih apa-apa juga toh. Boro-boro untuk bangsa.

Saya tau bahwa kita dapat membantu dari ketidak-adaan kita, tapi yakin juga bahwa akan lebih banyak yang dapat dibantu jika kita berada. Kembali ke soal kerja di oil & gas, menurut saya, itu hanya soal cara. Memang ada orang-orang yang mau angkat kaki dari negara ini (frustasi mungkin lihat berita soal anggota DPR terus?), tapi belum tentu semua berpikiran begitu kan? Untuk saya, dunia oil & gas adalah dunia yang memberi peluang untuk maju, untuk bisa sekolah lagi, dan melihat dunia (biarpun cuma jadi ‘kuli’). Apalagi bagi tipe orang dari keluarga biasa seperti saya ini.

Saya termasuk yang percaya bahwa setiap orang punya peran masing-masing dalam memajukan bangsa. Strateginya pun masing-masing. Tidak semua orang bisa jadi entrepreneur yang memberi lapangan kerja atau tidak semua orang bisa jadi ilmuan yang meneliti untuk kemajuan teknologi bangsa. Tidak semua geologist sehebat & seidealis Andang Bachtiar. Tidak semua lulusan ITB pula diterima di program “Indonesia Mengajar” kan?

Semakin maju, semakin banyak ilmu yang bisa kita curi dari luar. Logikanya semakin banyak yang bisa kita ‘beri’ untuk negara, dari belahan dunia mana pun kita berada.

Yah, kesimpulannya sih, tidak menjadi soal kita bekerja dimana dan jadi apa. Menurut saya, semua kembali ke diri masing-masing ada atau tidak niat dan keinginan untuk berkontribusi pada bangsa?


7 Comments

  1. Halo, puty. Aku jadi pengen komen nih, boleh ya.. Dulu, sewaktu kuliah aku termasuk orang yang berpikiran sepeti itu loh :P despite the fact kalau orang tua dan kakak aku semuanya bergelut di industri Oil & Gas. Aku malah gak mau sama sekali bekerja di industri tersebut, alasannya persis seperti yang kamu bilang, karena menganggap itu gak nasionalis. Tapi setelah benar benar ‘melihat dunia kerja’, aku setuju sama yang kamu bilang nasionalisme itu nggak bisa diukur hanya dengan pikiran sedangkal itu. Itu sama saja meng-generalisir hal yang kompleks, seperti bilang bahwa semua yang naik sepeda adalah orang yang pengen dianggap hipster. Terdengar jahat kan?

    Padahal buat jurusan kayak aku, atau mungkin kayak jurusan Puty, industri ini adalah salah satu jalan yang paling mungkin untuk mengaplikasikan keilmuan kita. Istilahnya di industri inilah ilmu kita kepake sebenernya. Jadi aku mulai menganggap bahwa bukan industri-nya yang aku kejar, tapi bidang keilmuannya, sisi engineeringnya.

    Aku sebenernya jadi sadar, ketika dulu aku sempet sinis dengan industri ini mungkin aku cuma sebel sama beberapa orang yang pengen ada di industri itu karena gajinya ataupun gengsinya aja :P sayang aja bahwa industri serumit itu harus diisi dengan niat seperti itu.

    Lagipula, industri Oil & Gas Indonesia nggak selamanya diisi oleh orang luar kok, ada beberapa bukti ketangguhan masyarakat pribumi yang jadi panutan aku ketika masuk ke industri ini. Mungkin pandangan jadi kuli itu yang seharusnya diubah, nggak selamanya kok kita harus jadi kuli di negeri sendiri.

    Kembali ke judul posting kamu, aku setuju put kalau nasionalisme itu cuma soal cara. Ketika ada orang yang bekerja di industri manufaktur lokal misalnya, tapi yang dia kejar adalah gaji atau posisi, ataupun ketika kita jadi PNS dan yang kita lakukan cuma korupsi, sama aja kan. Sebenarnya, yang mana yang harus disebut tidak nasionalis?

  2. Thank you Puti for this post. It stabbed me right through my heart because I want to live my dream: working in fashion industries abroad, but hey, I agree, it all comes back to us whether we want to give something back to our country or not to.

  3. saya suka tulisannya :)
    Setelah nyobain jadi kuli di perusahaan S (gulung2 kabel), terus nyaris nerusin di perusahaan H, hingga akhirnya nyantol di P, gw merasa bahwa semuanya ga ada hubungannya dengan nasionalisme. Ini semua hanyalah bisnis.
    Yang harusnya lebih pinter adalah pemerintahnya yang mustinya bisa bagi2 kerakyat hasil kemakmuran sebuah negara tsb.

    :)

  4. citracm says

    jleb..puty..aku kerja di perusahaan jerman..ceritanya itu satu2nya cara untuk “dapat uang banyak” tp aku lsg jleb se jlebnya baca tulisanmu..bahkan mata pun berkaca2..hiks hiks..nasionalisme..ahh emang itu susah sekali mendeskripsikannya :(

  5. Pingback: Memanggil Para Engineer | yellow and red

  6. Pingback: Menjadi Pegawai Perusahaan Migas Asing: Ketika Nasionalisme Dipertanyakan | Puty's Journal

Leave a Reply