Kontribusi Melalui Pendidikan

Saya sebal sekali waktu dengar soal Ujian Nasional di beberapa provinsi ditunda karena hal seperti soal yang terlambat datang, tertukar, dan harus dijawab pada lembar kertas yang kualitasnya tidak layak. Kok rasanya menyedihkan sekali potret pendidikan Indonesia. Pemerintah sepertinya tidak menganggap pendidikan di negeri ini sebagai hal yang serius. Padahal kalau menurut saya, hal ini krusial. Ini bukan hanya soal ujian atau tidak ujian, bukan sekedar lulus atau tidak lulus. Ini juga soal sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, saat yang meneruskan bangsa ini adalah orang-orang yang tidak tepat waktu dan suka menyepelekan nasib orang lain.

Tulisan ini saya buat tanpa acuan jurnal ilmiah mengenai pendidikan atau psikologi, tapi saya percaya bahwa pendidikan berkorelasi positif dengan karakter dan attitude seseorang. Kalau memang ada studi ilmiah yang membuktikan sebaliknya, tolong beri tahu saya. Kembali bicara soal korelasi pendidikan dan karakter, pada skala nasional, generasi dengan pendidikan yang baik harusnya akan mewujudkan bangsa yang berkarakter baik. Mungkin terlalu jauh bicara soal integritas, tapi attitude positif seperti bersungguh-sungguh, konsisten, optimis dan ingin lebih maju adalah hal-hal dasar yang diajarkan di sekolah.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan ayah saya soal kontribusi sosial terbaik apa yang bisa diusahakan oleh orang yang tidak punya banyak uang atau kekuasaan seperti saya. Kesimpulan kami: pendidikan. Dengan pendidikan seseorang dapat mengubah nasibnya. Kembali bicara pada skala nasional, kita harus optimis bahwa bangsa ini akan maju jika kita memiliki concern untuk memajukan pendidikan.

Atas kesadaran itu lah saya selalu bertekad untuk berkontribusi, walau sekecil apapun, untuk pendidikan, pada skala apapun. Misalnya, saya akan mengusahakan orang-orang yang ada di lingkungan saya agar tidak sampai putus sekolah karena persoalan biaya. Kadang, pelan-pelan saya mengingatkan soal minat baca pada adik-adik usia sekolah di sekitar saya. Ketika ada kegiatan sosial yang berhubungan dengan pendidikan, misalnya mengajar lepas atau membangun perpustakaan, saya akan berusaha menyempatkan diri ikut.

DSC_0098

Bukan, dengan tulisan ini bukannya saya ingin pamer kontribusi. Saya justru ingin mengingatkan diri sendiri dan spread the words untuk tetap melakukan sesuatu yang positif, sekecil apapun pada lini pendidikan. Saya kagum sekali pada program-program brilian seperti Indonesia Mengajar atau Kelas Inspirasi. Saya kagum pada teman-teman yang menginisiasi program donasi buku, kelas kakak asuh, dan program-program semacamnya. Jangankan menginisiasi, berpartisipasi rutin pun agak sulit karena jadwal kerja saya di lapangan yang tidak pasti. Namun demikian saya yakin bahwa salah satu hal positif yang dapat saya lakukan adalah share the spirit and spread the words.

DSC_0117

April ini teman-teman alumni Teknik Geologi ITB menginisiasi program mengajar yang diberi nama Sekolah Bumi. Program mengajar ini didasari oleh spirit berbagi ilmu soal bumi (geosains). Untuk Indonesia dengan potensi sumber daya sekaligus bencana alam yang besar, tentu saja geosains adalah hal penting untuk diajarkan sedini mungkin.

sekolah bumi

Sementara itu, beberapa teman yang dulu saya kenal di Liga Film Mahasiswa ITB sedang merealisasikan ide crowdfunding untuk perbaikan sarana dan prasarana sekolah dengan membentuk DukungGuruku. Ide brilian yang kalau dapat berjalan akan besar sekali manfaatnya untuk memfasilitasi perbaikan sekolah-sekolah tanpa harus melalui tangan pemerintah Indonesia yang bahkan tidak mampu memfasilitasi persebaran soal Ujian Nasional ke seantero Indonesia dengan baik (ups!).

dukungguruku

Mungkin nanti saya bisa bercerita lebih banyak lagi soal Sekolah Bumi dan DukungGuruku. Namun untuk saat ini, saya ingin mengatakan bahwa saya senang dan bangga mengenal orang-orang dengan semangat kontribusi terhadap pendidikan yang tinggi. Mudah-mudahan sebagai orang yang berpendidikan kita tidak akan pernah pesimis soal memajukan bangsa. Mudah-mudahan kita selalu dapat inspirasi untuk berkontribusi.

So let’s share the spirit and spread the words! :)

 

Lebih lanjut soal Sekolah Bumi: blog | laman FB | Twitter

Lebih lanjut soal DukungGuruku: web | laman FB | Twitter | IG

19. April 2013 by puty
Categories: Community Development, Deeper Thoughts | Tags: | 1 comment

One Comment

  1. Saya kenal banyak orang tanpa lantar pendidikan yang tinggi namun memiliki perilaku yang sopan dan bersahaja, serta, berkarakter. (Jika ini salah, mohon koreksi) salah satu penulis digital yang cukup giat adalah Zen RS, si Pejalan Jauh itu, tidak menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, namun mampu menghasilkan essay-essay yang menarik. Dari kumpulan tulisan di halaman pribadinya itu, saya menangkap karakter dari Zen.

    Saya dekat dengan orang tua saya yang latar pendidikannya tidak tinggi, namun dari mereka saya belajar tentang nilai-nilai luhur. Mulai dari tidak menyusahkan orang lain, mengucapkan syukur, dan yang paling utama : kasih. Hingga saya menyelesaikan kuliah, tiga nilai itu tidak saya dapatkan di perguruan tinggi. Maka, teorema tentang korelasi positif dan pendidikan itu , bagi saya, tidak valid.

    Jika ingin dipanjangkan, rentetan nama seperti Marzukie Alie dengan komentarnya yang tidak akan bisa dilupa “Siapa suruh tinggal di Mentawai” ketika Mentawai dilanda Tsunami, di belakang namanya ada dua rangkaian title : SE dan MM. Lalu Aburizal Bakrie, yang lulusan ITB itu, yang akhirnya menyedot APBN untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh salah satu perusahaanya., dan sederet nama lain yang sekolah nya tinggi-tinggi tapi muaranya di penjara karena jeratan korupsi.

Leave a Reply

Required fields are marked *