Thoughts, Work & Business
comments 3

Menjadi Pegawai Perusahaan Migas Asing: Ketika Nasionalisme Dipertanyakan

Beberapa waktu yang lalu saya diminta menulis untuk Suara GEA paperless edisi Nasionalisasi Migas. Suara GEA adalah sebuah wadah publikasi tulisan dan pemikiran dari para mahasiswa Teknik Geologi ITB. Topik yang diminta adalah mengenai nasionalisme di industri migas yang sarat kepentingan pihak asing. Kebetulan dua tahun lalu saya menyinggung soal “Oil & Gas = Tidak Nasionalis?” di blog. Kini saat saya ternyata benar jadi pegawai di perusahaan migas asing, saya senang sekali dapat berbagi pemikiran lagi soal ini. Terbukti, saya masih ingin memajukan bangsa (sesuai kemampuan saya tentunya). Terbukti saya masih bangga dengan nama panjang saya yang Indonesia banget. Terbukti saya masih lebih suka singkong goreng daripada croissant.

Silakan unduh Suara GEA paperless edisi Nasionalisasi Migas di sini. Selain tulisan saya, ada pula tulisan mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi, kontroversi Blok Mahakam, hingga asal-usul hidrokarbon (terutama buat yang masih percaya bahwa minyak bumi itu berasal dari dinosaurus yang telah mati, hehe).

Berikut tulisan saya:

————————

Menjadi Pegawai Perusahaan Migas Asing:
Ketika Nasionalisme Dipertanyakan

Dua tahun lalu saya pernah menulis sebuah artikel berjudul  “Oil & Gas = Tidak Nasionalis?” di personal blog saya. Artikel tersebut saya tulis sebagai pernyataan pribadi atas opini publik yang ‘nyinyir’ terhadap para pekerja perusahaan migas asing. Individu-individu yang dicap materialistis, egois dan tidak nasionalis. Entah publik yang mana, namun perlahan dan pasti opini tersebut sampai kepada telinga-telinga mahasiswa yang berada di ambang masa pencarian kerja. Telinga-telinga mahasiswa yang gamang karena beberapa tahun ke belakang selalu meneriakkan idealisme, namun sadar bahwa beberapa tahun ke depan harus berkutat dengan realita: hidup itu butuh biaya. Dan target-target. Dan cicilan-cicilan.

Dua tahun berlalu, kini saya betul-betul bekerja untuk perusahaan migas asing. Kalau dua tahun lalu saya menulis dari sudut pandang mahasiswa, kini saya dapat menulis dari sudut pandang lain. Seandainya detik ini saya ditanya, “Masih punya Nasionalisme?” Saya akan menjawab “Ya. Nasionalisme menurut definisi yang masuk akal untuk saya dan pada skala yang tepat bagi saya.”

Definisi? Skala? Nasionalisme menurut KBBI adalah “Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.” Definisi ‘cinta’ sendiri sudah luas, apalagi bila kita bicara cinta terhadap bangsa dan negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Pengertian nasionalisme yang luas ini jangan disempitkan, jangan pula dibesarkan atau dikecilkan. Jadi? Pandanglah nasionalisme pada skala yang pas.

Sebelum mengaitkan nasionalisme dengan industri migas, mari kita bahas sedikit mengenai industri migas di Indonesia. Bicara industri migas tentu bicara industri kapitalis. Ini bukan industri berasaskan kekeluargaan dengan sistem bagi hasil. Kita punya sumber daya energi di bawah bumi, namun belum semuanya mampu kita eksploitasi sendiri. Rongga inilah yang kemudian diisi oleh perusahaan-perusahaan migas asing untuk mengambil keuntungan.

Perusahaan-perusahaan migas asing tersebut kemudian mempekerjakan orang Indonesia dengan gaji (relatif) tinggi, memberi tunjangan, fasilitas, dan kenyamanan yang lebih. Oleh karena itu tidak heran ketika sekarang harga minyak mengapung tinggi, perusahaan migas asing berlomba-lomba mencari minyak di bawah tanah air kita dan tentu saja sumber daya manusia untuk melakukannya. Rongga inilah yang kemudian menjadi pilihan kita, untuk kita isi atau tidak.

Mungkin di sinilah nasionalisme mulai dihubungkan dengan pilihan seseorang; bekerja untuk asing atau tidak bekerja untuk asing. Namun di sini pula kita mulai harus bicara dengan skala. Apakah karena pada skala besar dan sistemik seseorang memeras keringat untuk perusahaan asing lantas orang tersebut bisa langsung dicap tidak nasionalis?

Memang masih banyak pilihan bagi kita yang memiliki latar belakang geosains untuk tidak bekerja di perusahaan asing; menjadi dosen, pegawai BUMN, pegawai negeri sipil untuk Departemen ESDM, membuka konsultan, atau bahkan berwirausaha. Namun perlu diingat lagi, apakah semua orang memiliki kapabilitas untuk menjadi dosen? Apakah semua orang mampu berkembang dan melawan kemalasan struktural sebagai seorang pegawai negeri? Apakah semua orang mampu dan mumpuni membangun konsultan atau bertahan dari jatuh bangun menjadi wiraswasta?

Pilihan ada di tangan kita masing-masing. Namun demikian, mari mencoba bijaksana untuk berhenti mengartikan nasionalisme sesempit “tidak bekerja untuk perusahaan asing”. Pola pikir ini yang akan memberikan energi negatif dan membatasi cinta kita kepada bangsa dan negara.

Ada banyak hal besar sebagai perwujudan nasionalisme pada skala yang lebih kecil. Bagi saya misalnya, adalah suatu kebanggaan melihat orang Indonesia yang bertambah ilmunya dan berkembang kemampuannya di perusahaan migas asing. Saya bangga di kantor saya posisi Vice President untuk bidang Geoscience & Reservoir diduduki oleh orang Indonesia, menjadi atasan bagi londo-londo Eropa. Saya bangga melihat rekan-rekan kerja saya, orang Indonesia, dikirim ke luar negeri untuk berprestasi dan menunjukkan bahwa orang Indonesia bukan cuma orang-orang level tempe tapi juga bisa jadi bos di luar negeri. Saya bangga ketika orang Indonesia bisa bersaing di kancah migas internasional, bukan sekedar jago kandang lawan sesamanya di ranah BUMN.

Saya bangga melihat sumber daya manusia Indonesia berkembang tanpa harus membatasi siapa yang mengembangkannya, karena pada akhirnya mereka lah yang meneruskan bangsa ini. Bicara soal nasionalisme pada sebuah skala, skala industri migas di Indonesia, cinta kepada bangsa dapat diwujudkan dengan berusaha mengembangkan diri untuk menjadi sumber daya manusia yang terbaik. Sumber daya manusia yang kelak dapat meneruskan pengelolaan migas tanah air kita di masa depan.

Bagaimana pun kita mengembangkan diri, itu pilihan. Di mana pun kita mengembangkan diri, mari tanamkan bahwa cinta kepada bangsa dan negara dapat diwujudkan dalam skala apapun.

Bahwa rasa cinta kepada bangsa dan negara akhirnya akan memanggil kita pulang.

Puti Karina Puar (puty),
GEA 2007, Kuli perusahaan Prancis

————————

PS: Kasih tahu saya kalau ada yang bilang bahwa membuktikan sendiri kalau orang Indonesia tidak kalah kompeten dari orang bule(malahan lebih hebat!) bukan salah satu perwujudan cinta dan bangga pada Indonesia.

3 Comments

  1. fahrurazi says

    This is right, orang yang menyatakan anda tidak nasionalis itu hanya iri saja dengan anda, inilah warga negara kita ia seperti itu

  2. Praba says

    Hoho, nemu tulisan lo di kala lagi iseng googling. Sudut pandang yang menarik Put! *terutama sebagai sesama kuli negara tetangga. ditunggu opini seru yang lain!

Leave a Reply