Thoughts
comments 3

Sharing tentang Islamic Financial Planning

Kemarin saya mengikuti seminar muslimah dari kantor berjudul Islamic Financial Planning. Pembicaranya berasal dari agen financial planning yang langsung bagi-bagi brosur tentang penawaran invetasi ‘syariah’. Awalnya saya khawatir, jangan-jangan mereka akan promosi terus, tapi ya sudahlah, toh dapat souvenir Tupperware dari panitia (hahaha, ternyata ini motivasinya!)

Alhamdulillah ternyata seminar ini nggak fokus mempromosikan agen atau produknya. Saya cukup dapat banyak masukan tentang financial planning yang Islami (walaupun mungkin sulit diwujudkan sepenuhnya, karena sistem ekonomi kita kan tidak berdasarkan syariat Islam). Sayang nggak ada slide presentasi yang dibagikan, tapi saya membuat beberapa catatan. Mudah-mudahan bermanfaat ya :)

Piggy Banks

1. Dalam financial planning kita harus paham dan sadar:
Kondisi awal keuangan.
Berapa aset yang kita punya. Berapa hutang / cicilan yang kita tanggung. Berapa pemasukan & pengeluaran.|
Kebutuhan sekarang dan di masa depan.
Menikah, punya rumah, membiayai anak sekolah, hingga membiayai hidup saat pensiun.
Jangka waktu dari kondisi awal ke masa-masa membutuhkan biaya besar di masa depan tersebut.
– 2 tahun lagi menikah, 3 tahun lagi punya anak, 7 tahun lagi anak masuk TK, dst

Ada 7 poin penting untuk disadari yang kalau disingkat menjadi ISLAMIC.
Income (pemasukan)
Spending (pengeluaran)
Longevity (masa produktif / masa menghasilkan)
Assurance (asuransi, terutama soal kesehatan)
Management of debt (hutang dan cicilan)
Investment (investasi)
Cleansing of wealth (zakat & sedekah)

Personally, terlepas dari soal perencanaan keuangan hingga puluhan tahun mendatang, kesadaran akan hal-hal di atas memang penting banget.

2. Reminder: Inflasi kita per tahun berkisar 6%. Lebih besar dari bunga deposito. Artinya, kalau tabungan kita adem ayem saja di bank, akan tergerus inflasi.

3. Hutang & cicilan hanya diizinkan untuk barang yang bernilai sangat tinggi dan sangat diperlukan (misalnya rumah tinggal), atau untuk barang yang produktif. Nilainya tidak boleh lebih dari 30% penghasilan.

4. Prioritas pengeluaran urutannya sebagai berikut:

Bayar hutang / cicilan (10 – 30%) -> zakat (minimal 2.5%) -> investasi (10 – 30%) – > pengeluaran rutin (20 – 40%) -> gaya hidup (max 20%)

Ada poin penting yang saya tangkap di sini: prioritaskan bayar hutang! Alhamdulillah saya adalah tipe yang menggunakan kartu kredit untuk mempermudah transaksi, bukan untuk hutang. Jadi setiap kali gesek, saya catat baik-baik sebagai pengeluaran yang harus dananya harus teralokasi di bulan berikutnya.

Oh iya, satu lagi. Biaya gaya hidup, MAKSIMAL 20%. Ini penting nih buat cewek-cewek. Dulu saya pernah bilang, “Jadi mbak-mbak pekerja harus ada cicilan supaya terdorong menabung, kalau enggak uangnya akan habis di 3 shop: Body Shop, Topshop & coffee shop”. Jadi buat yang gajinya habis di ngopi-ngopi di Starbucks dan beli baju supaya kelihatan oke pas ngopi-ngopi, ayo, mulai dihitung-hitung ;)

5. Biaya pendidkan untuk anak di masa depan tidak hanya sebesar inflasi yang rata-rata 6%, tapi juga bisa mencapai 15-20%. Mereka punya perhitungan sendiri tentang memperkirakan biaya pendidikan anak di masa depan yang angkanya……………. mengerikan :’))

dana pendidikan

Anyhow, untuk soal ini saya percaya betul, setiap anak ada rezekinya sendiri. Apalagi kalau uang yang kita dapat halal dan punya berkah. Saya yakin banget soal ini, karena yang namanya rezeki dari Allah SWT itu tidak ada rumusnya. Makin banyak pengeluaran yang berupa amal dan sedekah, makin banyak yang masuk. Tidak bisa dihitung-hitung pakai tabel di spreadsheet. Ayah saya juga mungkin 24 tahun yang lalu, saat gajinya 500 ribu, tidak pernah kepikiran bisa membayari anaknya masuk kuliah dengan biaya 50 juta (maklum, dulu saya ujian jalur mandiri). Namun alhamdulillah, karena niatnya baik, ada saja rezekinya :)

Namun demikian, tabel biaya pendidikan di masa depan silakan dijadikan ‘reminder’, bahwa kelak punya anak, biayanya mahal, jadi berinvestasi lah, gaji jangan dihabiskan buat makan di restoran-restoran bagus supaya makanannya bisa difoto dan diupload di Instagram atau Path. Haha.

Well, begitulah poin-poin yang bisa saya share dari seminar financial planning kemarin.

Alhamdulillah di rumah, Ayah & Bunda selalu mengajarkan untuk ANTI-berhutang kecuali untuk cicilan rumah atau properti yang merangkap investasi, berhemat, menabung, dan beramal. Boleh dibilang, nothing was really new for me. Even better, orang tua saya mengajarkan hal lain yang mungkin tidak diajarkan dalam materi financial planning manapun: biaya untuk saya belajar, apapun bentuknya (beli buku dan ensiklopedia, komputer dengan software-softare edukatif, les Bahasa Inggris, ikut kursus gambar atau workshop digital imaging, bahkan traveling), boleh jadi tercantum dalam daftar pengeluaran yang besar dan tidak urgent namun manfaatnya tak terkira. Priceless.

Pesan moral: sehebat-hebatnya financial planning, memang tidak ada yang dapat memperkirakan rezeki di masa depan, namun demikian, harta adalah titipan Yang Kuasa dan harus dikelola dengan baik. Melakukan perencanaan keuangan, asal niatnya baik, boleh jadi salah satu usaha kita untuk bersungguh-sungguh di jalanNya.

Photo of piggy bank is taken by Dan van Duffelen, taken from here.

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

3 Comments

  1. iks says

    Sampe sekarang aq masi gak punya cc :))) ..dan alhamdulillah selamat dari yang namanya berhutang, kecuali nyicil rumah. Yah, prinsipnya simpel sih apa adanya.

  2. prima says

    mba.. boleh request tulisan ttg pengelolaan keuangan d keluarga mba dan tabel excelnya hehe makasi bnyak mba..

Leave a Reply