Month: November 2013

Rendang Setiap Hari

Entah berapa lama yang lalu saya pernah blogwalking dan menemukan blog post tentang pernikahan (kalau kamu pemilik blog tersebut, ingatkan saya dan sertakan linknya ya kalau berkenan hehehe). Si penulis saat itu mau menikah dan berdiskusi dengan temannya. Temannya bilang (aduh, saya lupa kelimatnya tapi kira-kira intinya) bahwa menikah itu seperti makan rendang setiap hari (or maybe we can replace ‘rendang’ with our own favorite food? ;p) It’s delicious, but who wants to eat rendang everyday for the rest of a life? Gambar nasi rendang milik arikeren dari flickr. Duh. Nyam. Saya pribadi bukan orang yang suka menganalogikan hal yang saya nggak tahu dengan pasti. Saya belum pernah menikah dan belum pernah mengalami periode makan rendang setiap hari. Saya cuma menebak bahwa hanya tipe muda-mudi-metropolis-takut-berkomitmen yang bisa membuat statement seperti itu, hehehe. Namun beberapa hari yang lalu saya pulang kantor seperti biasa naik angkutan umum dan melihat langit sore cantik sekali. Seperti campuran jingga dan magenta muda di atas biru yang mengalah. Saya jadi ingat analogi tentang pernikahan. Mungkin pernikahan lebih cocok diibaratkan langit sore; kadang …

Advertisements

Menabung atau Traveling? 10 Hal Kenapa Saya Pilih Traveling

Sebelumnya, saya mau minta maaf kalau belakangan isi blog ini kebanyakan tentang traveling. Ini bukan travel blog, namun dua tahun belakangan ini saya cukup banyak jalan-jalan. Ikutan tren? Bukan. Duitnya ya memang baru ada dua tahun belakangan sejak saya mulai kerja, Bro & Sis. Semalam saya lihat Ariev nge-twit sebuah link yang berujudul “Godaan Traveling dan Kesadaran Investasi“. Ariev bilang dia ‘kesentil’ sama artikel ini. Ternyata tulisan tersebut merujuk ke sebuah tulisan di Tempo yang berjudul “Menabung, Berlibur, atau Gadget?” Bukannya kesentil, saya malah tertarik untuk menulis tulisan ini. Tulisan yang sebetulnya pernah saya post 2 tahun lalu ini. Saya senang banget karena tulisan tersebut (setidaknya sedikit) menginspirasi salah seorang teman yang saya kagumi, Prisanti Putri, untuk mewujudkkan mimpinya pergi ke Jepang. 2 tahun berlalu sejak saya menulis itu, bepergian ke luar negeri rasanya semakin in vogue. Many people travel abroad. Many people write about it. Some even got into hot debate about calling oneself a ‘travel writer’. Some just love to brag about it. Some call themselves ‘traveler’ or ‘backpacker’. Apakah saya ada masalah dengan …