Thoughts
comments 5

If We All were Astronauts, Who would Build the Rockets?

Semalam saya terlibat dalam sebuah percakapan yang dimulai dari pertanyaan, “Jadi orang kantoran enak gak, sih?” Iseng saya jawab, “Enak kalo tanggal gajian :’))” Jawaban yang jujur namun membawa perdebatan bertema klasik: Enakan mana, berwiraswasta atau jadi karyawan? Menurut saya ini bukan yang perlu dipusingkan, sama halnya dengan pertanyaan, “Enak mana, kentang atau singkong?” Semua orang punya pilihan masing-masing soal kehidupan, tergantung preferensi dan kondisi. Nggak semua orang punya nyali besar untuk jadi entrepreneur. Kalau mau tahu pendapat entrepreneur-nya langsung, berikut tulisan Lucy Wiryono (yang sukses dengan Holycow! dan Loobie Lobster-nya): yang ini dan yang ini.

“…Pertanyaan2 sejenis itu yang bikin gue mikir soal template itu tadi. Jangan2 banyak orang yang mikir kalo mau jadi pengusaha, maka jalurnya adalah :

Cari passion lo apa – kalo perlu berhenti kerja dari pekerjaan yang tidak sesuai passion lo – bikin usaha – sukses – sebarkan cerita suksesnya ke orang lain supaya menginspirasi

tentunya gak begitu. What worked for one person, doesn’t mean it will work for you. everyone has their own path…”

— “Bukan Template” oleh Lucy Wiryono

Saya sering lihat kalimat-kalimat semacam, “Follow your passion, do what you love”, “Quit your job and travel the world”, atau “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Kadang saya ketawa kalau pernyataan semacam itu datang dari anak yang baru lulus kuliah (atau bahkan kuliahnya nggak kelar ;p), masih dibiayai orang tua atau nggak punya tanggungan. Rasanya ingin komentar, “Ya kalau bapak gue tajir melintir gue juga mau kuliah desain lalu buka agensi sendiri, kalau bangkrut ya minta aja lagi ama si babeh. Atau malah keliling dunia aja jadi freelance writer, rumah mah ga usah ribet nyicil, tunggu diwarisin aja lah.” Ya jika ada yang punya kemewahan semacam itu ya alhamdulillah, saya ikut senang. Jika ada yang sanggup keliling dunia bermodal backpack dan rela nyuci piring dari satu negara ke negara lain, saya ikut kagum dan menurut saya itu seru banget. But it isn’t my path, and might not be everyone else’s.

Kalau semua orang resign dan bikin usaha jasa fotografi, siapa dong yang akan jadi klien yang punya taste bagus soal foto tapi nggak bisa eksekusi sendiri? Kalau semua orang jadi travel writer, siapa dong yang akan membeli majalah traveling karena bosan di dalam kubikel? Kalau semua corporate slaves resign dan buka kafe, siapa dong yang akan jadi konsumen untuk melepas penat setelah seharian kerja di kantor? Kalau semua orang ingin jadi astronot dan bisa jadi astronot, siapa dong yang akan membuat roketnya?

IMG_1553
Siapa dong yang cari minyak kalau semua orang disuruh kerja sesuai passion? Ada gitu yang passionnya cari minyak? Kalau ga ada minyak, gelap-gelapan dong?

Jadi nggak usahlah ribet sama pilihan hidup orang. Mau jadi karyawan (dan menjadi bagian dari roda ekonomi dalam skala besar), mau jadi ibu rumah tangga (and save a part of next generation), mau kerja di NGO (and save the world), mau wirausaha (dan memberdayakan masyarakat), semua bisa jadi hal hebat dan membawa manfaat :) Yang paling penting adalah bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.

Untuk saya, jadi corporate slave yang pekerjaannya tidak berhubungan dengan minat dan bakat adalah pilihan. Hidup itu pilihan dan pada saat yang sama, hidup itu tidak ideal. Sometimes I also feel like, “Why the F-word I’m here? Is it all about money?” Well, tapi saya ingin mandiri, membanggakan Ayah & Bunda, punya rumah sendiri, kelak punya keluarga sendiri dan bisa membesarkan anak-anak saya dengan gizi dan pendidikan terbaik, sekaligus memberi manfaat bagi orang banyak. Inilah jalan saya saat ini :)

So instead of doing what we love, why don’t we love what we do, and of course do the best?

Mungkin sedikit ‘sentilan’ dari realita:

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

5 Comments

  1. Pingback: Entrepreneurship & Working from Home – Puty's Journal

Leave a Reply