Love & Marriage, Thoughts
comments 2

Belajar Mencintai dengan Sebaik-baiknya

Kembali saya membuka sebuah post dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai rasa syukur karena akhirnya saya dapat merasakan kembali Idul Fitri bersama keluarga. Sejak mulai bekerja pada tahun 2011, baru kali ini saya bisa berlebaran di rumah. Dua tahun pertama saya berlebaran di rig dan tahun lalu saya harus on duty di kantor. Semua terbayar karena pada tahun ini saya nggak hanya berhari raya bersama Ayah, Bunda, Zakki, dan keluarga besar namun juga bersama suami dan keluarga besar suami. Tambah keluarga, tambah pula kebahagiaannya.

Tahun ini memang boleh dibilang tahun yang penuh milestone dan rahmat untuk saya dan keluarga. Saya dan Bang Agn menikah, adik saya, Zakki, masuk ITB, dan Bang Agn dapat beasiswa Chevening. Insya Allah, saya akan bertambah umur menjadi 25 lusa nanti. Looking back from where I am now, I think I couldn’t ask for more. Alhamdulillah sudah mandiri dan sudah punya suami. Alhamdulillah sudah merasakan traveling bersama teman maupun sendirian. Alhamdulillah sudah mulai investasi properti (okay, I know it’s waaay to go, but I’m getting there hehehe). Alhamdulillah sudah bisa menyisihkan rezeki untuk melapangkan orang lain dan mentraktir keluarga walaupun sedikit. Apa lagi? Tentu masih ada hal-hal yang belum tercapai tapi mudah-mudahan Allah melapangkan jalan untuk semua yang diawali dengan niat baik.

Setelah segala sesuatunya, saya pun memutuskan untuk mulai berhijab. Insya Allah. Sebenarnya niat ini sudah ada sejak beberapa lama yang lalu namun sebagaimana manusia pada umumnya yang kurang nyaman dengan perubahan, it took some time. Saya pribadi sejak awal sadar bahwa menutup aurat adalah hal yang diwajibkan dalam Islam (untuk Anda yang menganggap bahwa berhijab bukan hal yang diwajibkan Islam, let’s  just agree to disagree ya) dan selama ini (sejak balig) saya melanggar perintah tersebut. Namun di Indonesia (kecuali DI Aceh) berhijab menjadi sebuah pilihan, dan untuk saya, ini merupakan perjalanan spiritual. Orang tua saya tidak pernah menyuruh saya berhijab, pun suami. Bukan karena mereka tidak peduli, namun saya yakin mereka ingin hal ini datang dari diri saya sendiri dan semata-mata karena Allah SWT. Beberapa teman mewujudkan kepeduliannya secara lebih eksplisit (misalnya dengan mengingatkan saya bahwa dosa tidak berhijab dihitung setiap helai rambutnya) namun untuk saya, biarlah saya melaksanakan perintah Allah bukan hanya karena takut kepada azabNya. Saya percaya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan saya yakin bahwa Dia dapat dicintai dengan merdeka; dengan sebaik-baiknya.

Sekali lagi, untuk saya ini adalah perjalanan spiritual. Menjadi muslimah yang baik dan (berusaha) benar adalah never ending process. Mungkin setelah ini saya tidak langsung berubah drastis. Mungkin jilbab saya belum syarí. Mungkin saya masih belum bisa berhenti bergosip. Mungkin saya belum bisa mengubah gaya dan volume tawa saya. Pastinya saya tidak akan langsung menjadi sempurna namun semoga ini bisa menjadi awal yang baik dari sebuah niat baik; belajar mencintai dengan sebaik-baiknya.

Bismillahir-Rahmanir-Rahim.

Semoga post ini dapat menjadi pengingat untuk saya jika suatu hari nanti saya butuh diingatkan.

Untuk mengakhiri post kali ini, saya dan Bang Agn mengucapakan Selamat Idul Fitri 1435 H, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk kami dan keluarga :)

Idul Fitri 1435H

2 Comments

  1. rani says

    Kyakya…selamat putyyyy, semoga istiqamah ya :) maaf lahir batin :)

  2. Hai puty,saya tadinya masuk ke blog ini karena cari referensi liburan ke Jepang. Ternyata tulisan yang lain pun sangat menginspirasi. Termasuk yang ini. Selamat ya puty untuk perubahannya :)

Leave a Reply