Thoughts
comment 1

Soal Pelantikan Anggota Dewan, Masa Depan Anak Saya, dan Hal-Hal Lainnya

Dua malam yang lalu timeline ramai dengan komentar mengenai rusuhnya pelantikan anggota dewan serta highlight tingkah laku beberapa di antaranya. Saya sendiri hanya nonton dari Youtube, itupun sebagian saja karena penasaran sama palunya Ceu Popong :p Buat apa nonton kalau sudah tahu endingnya dari spoiler-spoiler yang bertebaran di timeline?

Sejujurnya sebagai rakyat Indonesia saya malu atas (mayoritas) para anggota DPR/MPR. Semoga tidak ada yang lupa bahwa DPR/MPR adalah singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat. Orang-orang itu terpilih mewakili saya dan dua ratus juta lebih rakyat Indonesia: orang-orang itu adalah kita. Iya termasuk Mas Anang, dia juga bagian dari kita; cerminan kita. Dengan kata lain, tingkah laku mereka adalah cerminan tingkah laku rakyat Indonesia. Silakan saja kalau mau tidak setuju tapi saya lebih tertarik berhenti buang waktu mengeluh dan berpikir ke depan.

Kalau mau mengeluh soal negara ini, mungkin saya bisa langsung membuat daftar sepanjang satu halaman penuh tanpa harus berpikir: soal pelayanan publik, sistem pendidikan, atau minimnya fungsi keamanan yang diberikan polisi. Merunut sebab-akibatnya pun seperti mau mengurai benang kusut; bingung mau mulai dari mana. We actually are them, Indonesians. PNS yang bolos, calo administrasi surat-surat, ibu-ibu berjilbab yang suka ‘nyelak’ antrian atau polisi lalu lintas yang hobinya ngumpet di bawah pohon menunggu ‘mangsa’. Sekali lagi, kita (termasuk saya) adalah mereka: mahasiswa yang titip absen dan nyontek, mobil yang naik ke jalur busway, penumpang KRL yang enggan memberikan kursi bagi yg berhak atau pegawai perusahaan minyak yang suka membanding-bandingkan gaji orang dengan gaji sendiri :p Ya kurang lebihnya sama ajalah: Oportunis.

Beberapa bulan lalu di sela-sela pemotretan pre-wedding, saya sempat dapat kesempatan ngobrol dengan Ben (I do recommend you to visit his blog and read what he writes) yang kuliah S2 tentang pendidikan di New Zealand. Ben bilang orang-orang New Zealand sangat baik (not only as ‘nice’ but also ‘kindhearted’) dan bersahabat sementara orang kita ya memang dasarnya ‘bangsat’. Sekedar reminder untuk yang nggak terima bahwa tahun 2010 New Zealand merupakan negara dengan Islamicity index tertinggi sementara Indonesia ada di urutan 140! Bahkan di bawah Papuanugini (urutan 119) yang sebatas pengetahuan saya sekedar hutan-hutan rimba :(

Lalu sayabertanya, “What is actually our problem?” Jawaban Ben: pendidikan. Salah satu yang dia sebutkan adalah sistem dan kurikulum yang terus berubah, chaotic all the time, sehingga kita tidak pernah melihat hasil baiknya. Hasil dari suatu sistem pendidikan sejatinya baru dapat dilihat puluhan tahun ke depan sewaktu produknya mengisi lini usia produktif dan menumpu (dan memimpin?) sebuah bangsa.

Kalau saya pikir-pikir lagi mengenai kurikulum pendidikan di Indonesia, setidaknya zaman saya sekolah dulu (1995 – 2007) memang terlalu banyak muatannya. Mulai dari matematika, pengetahuan alam, sejarah, bahkan dulu saya sempat harus belajar PLKJ (Pendidikan Lingkungan dan Kesenian Jakarta). Semuanya ada ujiannya dan semuanya diukur dengan nilai ujian.

Di sekolah, setidaknya zaman saya dulu, tidak ada penilaian mengenai tata cara berdiskusi, mendengarkan, atau menghargai pendapat orang lain. Tidak diprioritaskan cara memahami dan mengkritisi bacaan. Tidak diajarkan mengeksplorasi pandangan dari sisi atau pihak lain. Beruntung hal-hal tersebut saya dapatkan dari orang tua saya.

Di sekolah, setiap akhir semester dibuat rangking; ditentukan siapa yang juara dan tidak juara diukur dari kemampuan rata-ratanya dalam 12 mata pelajaran yang bervariasi. Sebagai pelajar kita dituntut untuk bisa semua dan mendapat nilai sebesar-besarnya. Adalah manusiawi jika masing-masing anak tidak sama kepintaran dan kebisaannya, namun karena terpaksa bisa akhirnya contek-menyontek menjadi jalan keluarnya. Toh hasil akhirnya berupa angka. Dapat ditebak, segera setelah seorang anak berhasil menyontek, hal tersebut berlanjut menjadi kebiasaan. Penghargaan terhadap proses pun hilang.

Menurut saya masuk akal jika kita kemudian terbentuk menjadi orang-orang yang pemalas dan ingin serba instan namun di saat yang sama kompetitif. Pokoknya menyelamatkan diri sendiri dulu, empati? Apa itu? Mental ini kemudian semakin menjadi karena jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dan terbatasnya kesempatan yang ada. Ruang untuk berempati pada nasib orang lain pun nyaris nihil.

Tidak perlu jauh-jauh lah menunjuk orang lain deh. Diri saya sendiri adalah contoh nyata. Di hati kecil saya, saya ingin menjadi guru atau membuka lapangan pekerjaan yang memberdayakan orang kecil, atau mungkin menjadi social worker. Namun kalau mau realistis, kapan bisa beli rumah? Rumah di Bekasi saja sekarang harganya milyaran. Bukan tidak mungkin seandainya nanti sudah terbeli rumah, pikiran saya sudah masuk fase, “Wah, masih harus nabung untuk menyekolahkan anak sebaik-baiknya.” Susah sekali memang kalau mau tidak menjadi oportunis. Nggak tau deh kalau Mas Anang :p

Waktu jalan-jalan di London bersama suami, kami cukup sering ngobrol sambil iri dengan Inggris; keteraturannya, kemajuannya, pendidikannya, sampai bagaimana seni dan budaya berkembang dengan baik di sana. Suami saya bilang, “Ya tapi memang nggak bisa dibandingin sama Indonesia. Kita tertinggal ratusan tahun sih, nggak bisa langsung catch up sama mereka.” Kami lalu sampai pada kesimpulan, it takes generation to bring a country, a nation, to be better.

Then why don’t we be it? Kenapa nggak kita yang memulainya? Menyebarkannya dan menurunkan nilai-nilai yang lebih baik ke adik-adik kita, anak dan ponakan maupun cucu-cucu kita kelak?

Bagaimana kalau kita berhenti mengeluh dan mulai menyebarkan pikiran positif? Kembali membuka ruang empati dan mengajarkan kepada yang lebih muda tentang bagaimana mendengar dan membuka pikiran. Tentang bagaimana berdiskusi supaya tidak memalukan seperti para anggota dewan. Tentang bagaimana berjuang dan menikmati proses. Mendidik mereka di rumah dan masayarakat (jika tidak di sekolah) tentang bagaimana menjadi pemenang dan angka yang terbesar bukan segalanya, juga memaafkan jika nilai ujian mereka jelek.

Mengutip Mahatma Gandhi, “Be the change you wish to see.” Mengutip juga kata Aa Gym, “Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang.”

Semoga generasi selanjutnya lebih baik dari generasi Mas Anang ya :)

Jadi gimana Ceu Popong? Udah ketemu palunya? :p

—-

Click the image for the credit

 

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

1 Comment

  1. Aku setuju, agak miris sama sifat kebanyakan orang Indonesia yang seperti Puty jelaskan. Aku sering loh ngobrol dan ngasih wejangan buat adik adikku yang sedang beranjak gede untuk jadi orang yang tidak oportunis. Adik ku punya cita cita jadi penegak hukum (polisi dan jaksa) aku agak khawatir mereka punya cita cita seperti ifu cuma karna merasa pekerjaan itu menghasilkan duit banyak, jadi kujelasin sama mereka, kalo niatnya cuma buat cari duit banyak mending jadi pengusaha, kalo kalian mau jadi penegak hukum (kujelasin gaji dan pekerjaan polisi dan jaksa sebenarnya) tujuannya harus benar benar untuk melayani masyarakat dan negara. Kalo kalian siap untuk tujuan itu baru maju jadi penegak hukum. Aku berdoa semoga kita dan generasi generasi selanjutnya bisa jadi generasi yang moralnya membanggakan. Amin.

Leave a Reply