Thoughts
comments 3

(Lagi-Lagi) Soal Mengucapkan Selamat Natal

Setiap menjelang Hari Natal pasti selalu ada diskusi, perdebatan, peringatan, kontroversi mengenai ucapan selamat Hari Natal bagi umat Islam. Tentu tahun ini ada orang-orang di lingkungan saya yang ‘keras’ memperingatkan teman-teman Muslim untuk tidak ikut-ikutan merayakan atau mengucapkan selamat Hari Natal, mengutip dalil-dalil, menyoal tauhid, membawa akidah, dll. Post ini bukan untuk mencounter atau membuat justifikasi ini itu soal ini. As for me, saya bukan pluralis agama, karena dasarnya jelas di Surah Al-Kafirun. Saya juga bukan penganut Islam liberal. Untuk ilmu agama Islam sendiri saya masih harus banyak belajar, namun saya adalah orang yang sangat percaya bahwa Islam adalah Rahmatan ‘Lil Alamin, blessing for all, for humankind. I also deeply believe that despite mentioning war and Qisas, Islam is related to safeness and peace.

Kembali soal Natal. The thing is, my mom used to be an Adventist Christian dan keluarga dari pihak ibu saya banyak yang merayakan Natal. Teman dan sahabat saya pun banyak yang merayakan Natal. Dari kecil saya selalu ada dalam keragaman. Hari Natal bagi yang merayakan adalah sebuah kebahagiaan, keceriaan, kumpul bersama keluarga, merasakan damai di hati, makan-makanan enak, dekorasi yang cantik, diskon akhir tahun, siapa yang tidak bahagia? Menurut saya adalah hal yang sangat manusiawi ketika kita ikut bahagia melihat orang lain bahagia, apalagi saudara dan sahabat-sahabat sendiri. Apapun makna hari Natal bagi mereka yang merayakan, I’m simply and deeply happy to see the others happy. I’m always happy that I’d like to scram, “It’s so great to see you happy on Christmas Day!” Apa saya harus ikut merayakan dengan topi Santa Claus atau ikut menghias rumah dengan pohon Natal? Tidak. Apa saya harus ikut bernyanyi Ave Maria atau menyalakan lilin? Tidak. Apa saya tidak boleh belanja Christmas Sale 70%? Ya menurut saya kalau butuh sih belanja saja, memang kenapa? Hehehe :P

From last year :)

Kadang diskusi dan perbedaan pendapat seperti ini suka membuat rasa tidak nyaman dalam diri saya. Kadang pada diskusi dengan sesama Muslim, I feel hurt and discomfort, apalagi kalau sudah mulai merasa ‘dituduh’ dan ‘disudutkan’ tidak mau ikut dalil dan hujjah. Apalagi kalau sudah bawa-bawa “… Sama-sama membenci sesuatu karena Allah SWT.” Ya, mungkin tingkat keimanan saya belum sampai, terserah Anda menilai, tapi kalau sampai harus membenci sesama hanya karena perbedaan agama, saya tidak bisa.

Tanpa menyepelekan atau mengecilkan persoalan akidah yang diangkat, kadang saya pikir perkara semacam mengucapkan Selamat Natal ini terlalu  dan selalu dibesar-besarkan, membuat rasa tidak enak antar umat beragama, seolah-olah hanya itu persoalan Umat Islam. Menurut saya silakan menyampaikan apa yang dirasa benar, tapi apakah dari tahun ke tahun, Desember ke Desember perdebatan kita hanya akan berputar di situ-situ saja? Personally saya lebih tertarik diskusi soal pendidikan atau pembentukan karakter generasi berikutnya or… umm… what about anything that makes world a better place?

Akhir kata, I can’t make everyone happy and I don’t need everyone to agree with me. I don’t need to agree with everyone. I don’t need to agree to respect or love someone. I simply respect everyone as human being. I respect their way of life, their choice, as much as I respect mine.

Peace be with you and the mercy of God and His blessings.

WassaMu

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

3 Comments

  1. Pandi says

    Puti apa kabar? hmhm gw dah baca tulisan lo di blog ini. Ungkapan yang melukiskan sebuah kegelisahan tapi tulisan yang menarik. Hal yang kadang mengganggu gw juga saat temen nasrani merayakan natal (lahirnya yesus) dan tentu mereka pun mengharapkan kita mengucapkan selamat natal. Saat kita tidak mengucapkan selamat natal mereka berpikir kita tidak toleran. Mereka juga berpikir apa salahnya c ngucapin selamat natal toh juga setelah ngucapin gak lantas ngebuat besok lo convert ke Kristen. Namun kadang gw juga bertanya kenapa pas peristiwa maulid nabi (lahirnya Muahammad), isra mi’raj mereka tidak ngucapin selamat. Kenapa hanya pada saat lebaran mereka ucapkan selamat. Artinya mereka pun tau saat ngucapain selamat di maulid nabi dan isra mi’raj saat itu pula ada pengakuan terhadap seseorang yang tidak mau mereka akui dari dulu yaitu Muhammad SAW. Dengan konsep berpikir seperti itu, perdebatan gw ama temen2 yang nasrani akhirnya berakhir dengan obrolan santai warung kopi no stress, no ngotot tapi akhirnya masing masing teguh dengan apa yang dipegangnya. Untuk masalah dekorasi natal n belanja natal I think that’s great idea asal bukan buat lo n bukan rumah lo yang di dekor hehehe. Panjang beneeer ucapan “Say hai” gw yahh but thank’s untuk space comment nya. Sukses terus puttt

  2. kartina wong abdullah says

    aslkm puty, nama saya kartina wong abdullah. saya seorang revert sudah 33 tahun sorang islam. my family r all christians n every year i join them for christmas makan2 like lunch or dinner. i do wish them merry xmas n happy new year. for 33 years i hv endure the guilt n heartache of doin wht i hv been doin for all my life as a christian but i never lost faith in islam as i knw its the only true religion. when my family pass away, i go to church for the funeral service but i walk into church as a muslim, not a christian. i realise the backbitting i hv been experiencing frm muslim around me including my husband n his family for doin n bein wht i m towards my family. jst wnt u all out there to knw…there r alot of cabaran or test in tis world allah hs put us through n i take tis as one of them. through out the years doin tis as its brand haram hs made me stronger as a muslim as before. as u said, v jst wnt to make out family happy n i dont wnt them to judge islam as a stringent n extream religion. i dont wnt my family to tink i hv change to the worst becaz of islam. me doing tis has made my family love islam as thy tink its a divine n non violence n extreme religion wch its easier to accept n love. if i wld hv listen to those who hv judge me as haram in my doins, my family members wld not hv embrace d love n trust in islam. my father n my cousin died with allah as the last words tht thy utter. as i c it, islam is beautiful as allah hs made it to b, but people hs taken it n tarnish it with human bitterness. if v as muslims r so scared of loosing our faith jst becaz v practise some of others religion, then v dont hv faith in our hearts to b muslims. v shld not doubt our believes whtever v r doin or where v r. for me walking into a church for my dad or sister funeral is all abt respect like our prophet hs for other religion n people. islam is spread by kindness, trust, peace n patience….not by force n judgemental n violence. all tru my life my fight was not to block n fight with non muslims to b the best muslim n jannah….but my fight was with muslims tht change islam for their own selfish n bitter hearts…u puty hs said wht i wanted to say all my life journey as a muslim n did not get to say. i love allah with all my heart n i wil keep fighting those muslims who hv all my life caused me pain…i will alwz b strong n live my life for allah..

  3. Anonim says

    Coba dengerin ceramahnya Ustadzah Irene Handono deh Mbak, supaya lebih membuka mata, telinga, dan hati :)

Leave a Reply