Highlight, Wanderlust
comments 3

Tips Traveling ke Cina (+ Itinerary 6 Hari)

Setelah saya ingat-ingat, ternyata ada beberapa janji post yang belum saya penuhi di tahun 2015 (bahkan 2014!), salah satunya adalah menulis soal tips dan trik solo traveling ke Cina. Saya melakukan perjalanan ini pada bulan April 2015, jadi tepat sudah setahun yang lalu. Mohon maklum jika tidak selengkap post tips & trik lainnya ya dan mudah-mudahan belum ada perubahan yang signifikan dari yang akan saya tulis ya :)

Still, it’s gonna be a long post!

Itinerary lengkap dapat didownload di sini

Perjalanan ke Cina ini adalah kali keempat saya traveling sendirian di luar ASEAN, setelah Jepang, Italia, dan Australia. Saya jalan-jalan selama kurang lebih seminggu, berangkat malam tanggal 19 April 2015 dan pulang tanggal 26 April 2015. Waktu itu saya dapat tiket promo Garuda Indonesia PP Jakarta-Shanghai sekitar 7 jutaan. Kebetulan saat itu sedang ada bonus di kantor dan suami masih di UK, jadi pergilah saya dengan perencanaan yang singkat. Saya pergi ke 3 kota yaitu Shanghai, Suzhou dan Xi’an. Saya memutuskan untuk tidak ke Beijing dan melihat The Great Wall of China karena entah kenapa saya tertarik sekali melihat Terracotta Army yang ada di Xi’an. Karena hanya punya seminggu, memasukkan Shanghai, Xi’an dan Beijing saya anggap terlalu ambisius. Suzhou sendiri dekat sekali dengan Shanghai dan dapat dijangkau dengan bullet train maupun bus. Sebenarnya ada 2 kota yang menjadi destinasi get-out dari Shanghai; Suzhou dan Hangzhou. Lagi-lagi saya harus memilih, dan pilihan jatuh kepada Suzhou yang disebut-sebut sebagai ‘Venice of China’.

China-map

Sebelum menceritakan pengalaman per kota, ada baiknya saya menulis dulu tentang Cina secara general ya :)

Kapan waktu yang baik untuk ke Cina?
Tergantung destinasinya. Perlu diingat bahwa Cina ini adalah negara yang luas sekali membentang dengan iklim yang bervariasi mulai dari subartik hingga tropis. Berikut link yang dapat dicek untuk referensi waktu pergi terbaik. Selama ini saya hampir selalu pergi di musim semi atau gugur untuk menghindari crowd liburan dan cuaca yang tidak ekstrim. Crowd ini merupakan pertimbangan penting karena jika terlalu padat turis logal dan regional yang agresif dan kurang higienis menurut saya akan sangat mempengaruhi kenyamanan.

Visa
Kali ini untuk pertama kalinya saya menggunakan jasa agen di Balikpapan karena tidak sempat mengurus sendiri visa saya. Saya menggunakan agen perjalanan Bayu Buana, dan berikut link untuk referensi apa saja yang dibutuhkan untuk apply visa Cina (oh iya, visa Cina sejauh ini adalah satu-satunya visa yang pernah saya apply yang tidak mensyaratkan financial statement seperti rekening koran ataupun kopi buku tabungan). Untuk pertama kalinya juga saya tau bahwa ada servis biasa, kilat, dan super kilat. Ketiga servis ini tentu berbeda harga dan lama proses visa.

Uang & Biaya Hidup
Cina menggunakan mata uang Yuan (CNY) dengan kisaran 2000 rupiah untuk 1 yuan. Selama di Cina saya tidak mengambil uang di ATM melainkan membawa uang USD dari Indonesian dan menukar semuanya di money changer di Bandara Shanghai Pudong. Credit card umum digunakan merchant-merchant yang biasanya dikunjungi turis.

Mohon maaf saya betul-betul lupa di kisaran berapa harga makanan di Cina namun tidak semurah yang saya bayangkan. Mungkin untuk makanan karena saya harus makan di restoran untuk turis yang ada huruf romawinya :p Akomodasi hostel sangat terjangkau, di Suzhou saya mendapat bed seharga 60 ribuan per malam (dorm isi 6 bed), di Shanghai saya mendapat kamar single sudah termasuk TV seharga 270 ribuan, dan di Xi’an 80 ribuan per bed per malam.

Tips:

  • Menurut pengalaman saya berkeliling saya jarang menemukan money changer. Entah saya yang kurang memperhatikan, atau memang saya tidak mengerti penanda money changer. Oleh karena itu saya menyarankan untuk menukar uang langsung sesampainya di bandara

Tiket & Transportasi Antar Kota
Saya menggunakan pesawat Garuda Indonesia PP Jakarta-Shanghai. Waktu itu sedang promo jadi kira-kira saya mengeluarkan 7 juta rupiah untuk tiket pesawat. Saya menggunakan kereta untuk Shanghai-Suzhou PP dan kereta malam dari Shanghai ke Xi’an. Dari Xi’an saya menggunakan pesawat China Southern Airlines untuk kembali ke Shanghai dengan tiket seharga 88 USD.

Mengenai kereta api, saya sangat amat menyarankan untuk mempersiapkan dan booking online semuanya dari Indonesia serta mungkin ada baiknya membaca ini sebagai pengetahuan dasar, karena menurut pengalaman saya petugas stasiun Shanghai tidak bisa berbahasa Inggris, tidak helpful dan kondisi stasiun chaotic! Warga lokal yang mengantri di belakang tidak akan peduli kesulitan turis, jadi saya beberapa kali didorong dan diserobot karena dianggap tidak bisa cepat melakukan transaksi :'( SEDIH! Untunglah akhirnya saya dapat akal untuk menulis di kertas “Shanghai – Suzhou – tanggal – waktu yang diinginkan” dan sebaliknya “Suzhou – Shanghai – tanggal – waktu yang diinginkan” barulah si petugas mengerti.

Untuk kereta malam dari Shanghai ke Xi’an saya sudah booking secara online melalui Travel China Guide jadi begitu sampai stasiun saya cukup menukarkan kertas bukti booking dan memperlihatkan passport, tadaaa, tiket pun di tangan tanpa harus didorong-dorong. Ada beberapa kelas sleeper train, hard sleeper, soft sleeper dan luxury soft sleeper. Harga tiket kereta malam ini 90 USD. Alasan saya memilih kereta malam dibandingkan pesawat adalah menghemat waktu saya yang hanya tersedia 6 hari.

Kurang lebih begini keadaan di kereta:

Tips:

  • Saya booking tiket pesawat maupun kereta jarak jauh sejak di Indonesia. Selain menghindari kebingungan berkomunikasi dengan petugas stasiun dan menghemat waktu, membeli tiket jauh-jauh hari mengurangi resiko kehabisan tiket juga dapat menjadi patokan saat menysusun itinerary. Saya booking tiket kereta di sini.
  • Jangan sedih atau panik ketika clueless di stasiun karena memang pada dasarnya orang Cina tidak begitu helpful. Ingat, tulis tujuan dan waktu yang diinginkan dalam huruf kapital lalu coba bertanya pada petugas. Perhatikan baik-baik body languagenya karena kemungkinan komunikasi akan terjadi dalam bahasa tarzan. Kalau dicuekin oleh satu petugas, jangan down dan menyerah, coba petugas lain. Jangan lupa berdoa :’)
  • Jika ingin naik kereta malam sendirian, sebaiknya jangan pilih yang luxury soft sleeper karena satu ruangan hanya terdiri dari 2 orang. Memilih soft sleeper biasa atau hard sleeper yang terdiri dari 4 penumpang per kompartemen relatif lebih aman.

Transportasi Dalam Kota
Di kota Shanghai dan Xi’an ada metro yang decent dengan peta rute yang jelas (di luar ekspektasi saya loh!) untuk transportasi dalam kota. Xi’an sendiri kotanya tidak terlalu besar sehingga dari hostel saya bisa jalan kaki keliling pusat kota yang dikelilingi benteng untuk mencapai obyek-obyek wisata favorit. Di Suzhou tidak ada metro, hanya ada bus dan taksi. Dari Stasiun Suzhou ke hostel tempat saya menginap sebenarnya bisa dijangkau dengan bus, namun saya betul-betul hilang arah! Petunjuk arah semua dalam bahasa Cina. Akhirnya saya memutuskan naik taksi, dan langsung memberikan alamat yang tertulis dalam tulisan romawi. Ternyata sang supir tidak mengerti! Untung ada nomer telepon hostel sehingga supir taksi langsung menelepon orang hostel. Di Suzhou ini saya nyasar dan lagi-lagi helpless. Untung saya membawa print out peta kota dan akhirnya pulang ke hostel dengan berjalan kaki :’)

Dari Shanghai Airport ke pusat kota dan sebaliknya saya naik Maglev Train berkecepatan 300km/jam. Sementara dari bandara Xi’an ke pusat kota dan sebaliknya saya naik bus umum nomer 39 / 266.

Tips:

  • Selalu siapkan kartu nama dan alamat akomodasi tempat menginap plus nomer teleponnya just in the worst case harus naik taksi.
  • Bersiaplah untuk mengeluarkan mental berdesakan ala Mayasari Bakti di bus! Jangan sedih kalau diserobot!

Makan
WHOA! Makan ini yang bikin saya tobat! Awalnya saya berpikir bahwa akan mudah mencari fast food chain atau restoran vegetarian. Ternyata…….. banyak daerah yang betul-betul bikin saya kelaparan karena restorannya tidak ada satupun yang pakai huruf romawi termasuk di mall. Jelas pekerjanya nggak bisa Bahasa Inggris. AMPUN DEH! :’))) Boro-boro tau halal atau nggak, restorannya jual apa pun saya nggak ada ide :’)


Oh iya, special untuk soal makanan halal, saya bahagia sekali waktu ke Xi’an karena dapat dengan mudah mendapatkan makanan dan jajanan halal di Muslim Street. Di Muslim Street ini penduduk dan penjualnya adalah para China Muslim Hui dan Ughyur yang datang dari daerah Xinjiang. Makanannya beragam mulai dari kebab, cumi goreng, sampai makanan yang manis-manis :9 Yang jual Cina berhijab dan berpeci, jadi lucu banget :3

Tips:

  • Jangan pilih-pilih makanan deh kalau memang sudah jamnya dan ketemu tempat makan yang kita kira-kira tau makanannya bisa dimakan (baik dari segi kehalalalan maupun personal preference)
  • Selalu bawa bekal roti, candy bar atau onigiri yang bisa kita dapatkan di convenience store, plus air mineral.

Komunikasi
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang-orang di Cina bahasa Inggrisnya payah sekali, termasuk untuk pelayanan publik bahkan tour guide! Tidak semua orang juga mengerti huruf romawi termasuk alamat rumah atau gedung. Saya tidak ke ibu kota Beijing, namun untuk Shanghai yang merupakan kota bisnis pun sulit banget berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Saya juga pernah mengalami kesulitan di Jepang namun bedanya, orang Jepang secara umum lebih helpful dan berusaha menolong termasuk dengan melihat peta yang kita tunjukkan. Orang Cina lebih ‘tertutup’ dan beberapa kali saya bertanya dengan berbekal peta mereka menolak bahkan untuk melihat peta saya. Tentu saya pernah bertemu juga dengan yang mau membantu dengan sepenuh hati walaupun ujung-ujungnya komunikasi dalam bahasa kalbu.

Sebenarnya saya dari awal sudah mengantisipasi ini dengan membawa notebook berisi kata-kata dasar dan alamat tempat hostel saya menginap. Saya juga memotret stasiun atau halte-halte yang sekiranya bisa menjadi patokan waktu bertanya. Saya juga menginstall Pleco Chinese Dictionary dan Baidu Map walaupun akhirnya tidak terlalu banyak membantu.

IMG_20160125_140636

Selama di Cina saya tidak mengaktifkan roaming data atau membeli nomer setempat. Saya hanya mengandalkan wifi di hostel. Oh iya, Google diblok di Cina jadi kalau mau menggunakan peta di ponsel, gunakan Baidu Map. Namun harus diingat bahwa di Baidu Map ini semua menggunakan aksara Cina. Huff, sama aja boong.

Bicara soal peta, saya sangat mengimbau untuk memprint peta setiap kota sebagai pegangan dasar orientasi karena seingat saya selama di sana saya tidak menemukan peta kota gratis seperti di Singapura. Waktu di Suzhou saya merasa bersyukur sekali membawa print out peta karena hanya dari peta itu lah saya menebak jalan pulang dengan patokan kanal dan jalan besar.

shanghai

Jalan-jalan & Akomodasi
Untuk itinerary lengkapnya dapat dilihat diunduh di sini ya :)

Shanghai

Akomodasi:
Shanghai Dock Bund Hostel
No.55 Xianggang Road, Shanghai, 200085, China
Telephone: 86-53500066
Email: dockbundhostel@gmail.com
HostelBookers Link

Shanghai merupakan kota bisnis Cina yang sebagian modern dan sebagiannya klasik dipisahkan oleh Sungai Huangpu. Menurut saya Shanghai sangat menarik untuk melihat sisi Cina yang mau terbuka dan beradaptasi dengan dunia luar.


Tips:

  • Hati-hati dengan “tea scam”. Modus penipuan ini biasanya dilakukan oleh Orang Cina yang berpura-pura menjadi student dengan Bahasa Inggris yang cukup baik. Saya waktu itu dimintai tolong memtoret sepasang ‘pelajar’ Cina yang kemudian balas menawarkan memotret saya. Awalnya saya tidak ngeh karena mereka memang asyik sekali dan terlihat sincere. Baru setelah beberapa menit basa-basi mereka menawarkan saya untuk ikut melihat upacara minum the alias tea ceremony. Saya yang sudah baca beberapa warning di internet mengenai ini langsung menolak, dan mereka pun nggak memaksa. Biasanya jika si ‘korban’ mau ikut, mereka akan membawa korban ke tempat minum teh yang kemudian di-charge dengan harga yang tidak masuk akal! So, hati-hati!
  • Pecinta seni modern, menurut saya wajib menyusuri 50 Moganshan Road yang dipenuhi graffiti lalu ke M50 yang berisi galeri-galeri seni. Must visit!

Suzhou
Akomodasi:
Suzhou Watertown Hostel
#27 dashitou alley, jiangsu, Suzhou, 215002, China
Telephone: +86 512-6521 8885
Email: watertownhostel@hotmail.com
HostelBookers Link

Suzhou merupakan kota yang disebut-sebut sebagai “venice of China” karena terdiri dari kanal-kanal dan gang-gang imut :D Hal yang membuat saya tidak menyesal datang ke sini adalah adanya kafe-kafe dan restoran lucu yang berada di sepanjang jalan menyusur kanal yang terlihat sangat unik berpadu dengan bangunan dan dinding-dinding Suzhou yang terlihat kusam. Suzhou juga terkenal dengan Chinese gardensnya :)


Xi’an
Akomodasi:
Xi’an Green Forest Hostel
4F,No.9 North Off Main Street, Lianhu District, Xian, N/A, China
Telephone: 8602986228851
Email: xian@travellingwithhotel.com
HostelBookers Link

Xi’an ini merupakan salah satu dari ‘Four Great Ancient Capitals of China’ yang juga merupakan starting point dari Jalur Sutera (Silk Road). Di Xi’an inilah terdapat Terracotta Army dari Emperor Qin Shi Huang. Tidak hanya Terracota Army yang menjadi objek wisata di Xi’an. Pusat kota Xi’an dikelilingi oleh (city wall) yang megah yang didalamnya terdapat beberapa objek wisata seperti Drum dan Bell Tower. Terdapat pula Muslim Quarter yang ditinggali oleh para Cina Muslim Hui dan Ughyur yang merupakan tempat belanja dan jajan makanan halal. Must visit banget untuk para muslim!



Tips:

  • Untuk mencapai Terracotta Army dibutuhkan beberapa jam perjalanan dari pusat kota Xi’an. Sebelum berangkat saya sempat browsing local day tour yang memang menyakinkan, namun menurut saya agak terlalu mahal. Saya pun browsing dan memutuskan ke Terracotta Army dengan transportasi umum. Namun begitu tiba di Xi’an, ada agen tur lokal yang menawarkan day tour dengan harga 400 CNY (~800 ribu rupiah) sudah termasuk guide, makan siang, dan tiket masuk (yang mana tiket masuknya sendiri sudah 150 CNY). Saya pun ikut tur tersebut. Untuk perjalanan tidak terlalu buruk walaupun sebagaimana tur pada umumnya pasti dibawa ke tempat jualan souvenir, hehe. Koordinasi turnya buruk dan schedulenya tidak tepat jadwal. Guidenya sulit sekali berbahasa Inggris namun baik sekali kepada saya :) Di akhir tur kami didrop di kota namun tidak sesuai dengan tempat yang dijanjikan. Namun demikian, setelah saya pikir-pikir lagi dan melihat kondisi di Terracotta Army, sepertinya tetap lebih baik menggunakan tour daripada transportasi umum karena kurang tourist friendly dan antriannya cukup panjang menurut saya. Hahaha. but seriously, it’s all worth it! Magnificent banget!

OTHER TIPS

  • I know this is unhealthy tapi untuk para perempuan apalagi yang hygiene freak sebaiknya jangan terlalu banyak minum supaya nggak terlalu sering pipis. Percayalah, public toilet di Cina itu nightmare :’))) Ada tempat yang layak yaitu di museum seni kontemporer :’)) Biasanya saya selalu usahakan untuk buang air di hostel saja karena kondisinya lumayan. Siang-sore saya selalu usahakan kembali ke hostel untuk sholat Dzuhur-Ashar.
  • Jangan lupa bawa persediaan tissue basah! :p
  • Bawa obat-obatan pribadi dan obat-obatan standar. Percayalah, kalau sekedar percakapan untuk makan saja sulit, sepertinya ke rumah sakit akan menjadi nightmare!
  • Jangan kaget sama warga lokal yang meludah sembarangan :’)
  • Jangan kaget juga kalau jalan di tempat yang benar lalu nyaris diserempet sepeda atau skuter listrik.
  • Ikuti warga lokal saat menyeberang. It’s never about waiting for the greenlight! Walaupun kita menyeberang saat lampu hijau, tetap lihat kiri kanan.
  • Usahakan baca sedikit mengenai sejarah Cina terutama soal dinasti-dinasti masa jaya, apalagi jika tertarik ke Terracotta Army dan tidak yakin dengan guidenya lebih baik baca dulu sendiri hehe. Also it wouldn’t hurt to read about Culture Revolution and Mao, seriously.

Well. Kesimpulan dari saya: solo traveling ke Cina itu mungkin! Saya perempuan, berjilbab, tidak bisa bahasa Cina sama sekali, dan memiliki limit budget sehingga bahkan tidak mengaktifkan data roaming saya. Untuk ukuran warga Negara Indonesia yang biasa tinggal di Jakarta apalagi Bekasi, Cina relatif aman kok. Namun saya kurang menganjurkan perjalanan ini untuk teman-teman yang baru pertama kali solo traveling. Setelah beberapa kali solo traveling dan mengerti tips dan triknya, saya harus akui ini adalah perjalanan paling banyak tantangannya. Walaupun demikian, perjalanan ini sangat eye opening untuk saya. Banyak sekali hal yang saya bayangkan tentang Cina terbukti salah (yang bahkan di gedung-gedungnya dengan santainya terdapat lantai 4 dan 13). Saya juga semakin kagum dengan kemegahan sejarah dan peradaban Cina :’) Recommended deh, bisa jadi cerita untuk anak cucu!

Kalau ditanya apakah mau lagi ke Cina, saya mau banget kok, apalagi masih penasaran sama Beijing, Xinjiang dan Ordos! :D

Demikian, dan semoga bermanfaat yaaa :)

3 Comments

    • Kalo lost in translation ke Cina manapun kayanya Ooommm kikikiki… Sukses, semoga segera bisa jalan2 ke Cina tapi nggak lost hihihi :D

  1. wow solo traveling yg menyenangkan sepertinya .. anyway thanks sudah berbagi di tulisan ini. kebetulan saya masih ragu mau jalan ke shanghai tanggal 17-20 ikut suami exibition sambil bwa si kecil usia 5 tahun. rencana mau ke Disneyland saja, tapi itu tadi joroknya gak tahan ngeri ada virus.

Leave a Reply