Highlight, Pregnancy, Review
comments 2

RS & Dokter Kandungan di Balikpapan

Sebetulnya saya sudah beberapa lama merencanakan menulis soal rumah sakit dan dokter kandungan di Balikpapan. Waktu awal kehamilan di Balikpapan saya banyak browsing dan ternyata nggak terlalu banyak blog yang menulis soal ini. Ada hasil Googling ke beberapa forum namun biasanya informasinya sepotong-sepotong karena kebanyakan merupakan jawaban dari pertanyaan semacam, “Pernah ke Dokter A?” atau “Kalau Dokter B bagaimana ya?” Niat posting ini lalu tertunda karena malware kemarin, namun ada bagusnya karena saya jadi sempat ke RS Hermina Bekasi sehingga ada perbandingan :)

Sebelum bicara spesifik soal Dokter Spesialis Kandungan atau Obgyn, secara umum Balikpapan punya fasilitas kesehatan yang cukup oke. “Cukup oke” di sini maksudnya bangunan rumah sakitnya nyaman, alat kesehatan yang cukup canggih semacam MRI tersedia, dan ada cukup banyak dokter spesialis.

Selama di Balikpapan saya pernah ke:

Harus diakui bahwa kalau dibandingkan dengan fasilitas kesehatan dan tenaga medis rumah sakit sekelasnya di Jakarta, Balikpapan kalah jauh terutama soal pelayanan (Ets, tapi harga bersaing loh ya! Malah bisa lebih mahal!) Namun kalau kasus medisnya belum aneh-aneh memadai kok :)

Nah, kalau soal kehamilan, persalinan serta dokter spesialis kandungan gimana? Walau saya kontrol kehamilan di Balikpapan hanya sampai usia kehamilan 20 minggu, namun teman-teman kantor saya atau istrinya cukup banyak yang melahirkan di Balikpapan dengan lancar baik normal maupun C-sections. Jadi berdasarkan pengalaman teman-teman yang saya kenal: oke sip! Berikut pengalaman saya sendiri.

Rumah Sakit

Sampai ke minggu 26 ini saya sudah pernah ke RS. Siloam Balikpapan dan RSPB di Balikpapan, RS Bunda di Jakarta dan RS Hermina di Bekasi. Secara umum kedua RS di Balikpapan yang saya sebutkan bersih dan nyaman. Setahu saya keduanya memiliki fasilitas untuk USG 4D. Dari beberapa kali kunjungan teman atau istri teman yang lahiran baik di RSPB maupun Siloam ruang inapnya terlihat oke namun karena memang rumah sakit umum dan bukan khusus ibu dan anak rasanya kurang homy. Di RSPB maupun Siloam saya nggak merasakan penjelasan dari bidan seperti di RS Hermina.

siloam balikpapan

RS. Siloam Balikpapan (sumber gambar)

Ada 2 hal yang menurut saya cukup penting untuk dicatat:

  • Di RS di Balikpapan (RSPB maupun Siloam) saya sama sekali nggak diberikan (ditawarkan pun nggak!) buku catatan pemeriksaan kehamilan. Setiap dokter mencatat di rekam medik masing-masing, sehingga kalau saya ke dokter yang berbeda saat kontrol saya harus mengingat-ngingat apa kata dokter saat kontrol sebelumnya. Begitu saya coba ke RS Bunda di Jakarta, saya langsung ditatap aneh oleh suster di sana, “Ibu nggak punya buku?” :’))) Begitu saya punya buku dari RS Bunda, dokter-dokter di Balikpapan tetap tidak menuliskan apa-apa di buku saya, sehingga semua saya tulis sendiri supaya nggak lupa. Kesimpulannya, buat ibu-ibu di Balikpapan, rajin-rajin mencatat sendiri yaaa, apalagi kalau pindah-pindah RS :p
  • Di RS di Balikpapan (RSPB maupun Siloam) saya nggak ditanya-tanya soal cek TORCH sama sekali. Akhirnya bunda saya yang mengingatkan dan waktu saya menanyakan ke dokter di Balikpapan jawabannya, “Oh, kalau Ibu ada biaya boleh aja.” HMMM… Padahal begitu ke obgyn di Jakarta dan Bekasi langsung ditanyakan soal hasil tes TORCH ini. Plus disuruh tes ini itu yang lain. Kesimpulannya, jangan lupa tanyakan ke obgyn soal tes TORCH ini ya, ibu-ibu :)

Dokter Spesialis Kandungan

Untuk dokter spesialis kandungan sendiri, saya pernah mencoba ke 4 dokter di kedua rumah sakit yang sudah saya sebutkan di atas. Kenapa sampai 4 dokter? Nah, perlu sedikit diketahui bahwa berdasarkan pengalaman saya pribadi, dokter di Balikpapan ini kadang semena-mena :p Sudah janjian dan telepon, begitu datang di hari H ternyata dokternya cuti atau nggak praktek. Kadang ada dokter pengganti, kadang nggak ada. Sementara selama di Balikpapan saya kan sendirian, jadi jadwal saya kontrol pun menyesuaikan dengan jadwal kantor atau jadwal suami berkunjung jadi saya konsultasi ke obgyn manapun yang available saat itu.

  • dr. Stella Patricia Yapari, Sp.OG
    (RS. Siloam Balikpapan & RSPB)

    Dokter Stella ini yang pertama kali dan akhirnya paling tetap saya kunjungi. Dokternya baik, telaten saat USG, namun nggak terlalu banyak bicara. Mungkin ada beberapa yang merasa Dr. Stella ini jutek, tapi menurut saya sih harus lebih banyak ditanya-tanya aja. Kita yang harus lebih pro-aktif. dr. Stella ini termasuk yang tidak terlalu konservatif waktu saya minta izin terbang di trimester pertama. Setau saya kalau tanya-tanya ke beberapa teman yang lahiran sama beliau, dr. Stella pro-normal dan kalau memang dijadwalkan C-sections beliau memiliki komitmen untuk available saat jadwal lahiran.
  • dr. Ida Pramayanti, Sp.OG
    (RSPB & RS. Restu Ibu)
    Dokter Ida ini adalah dokter yang tadinya ingin saya niatkan untuk rutin saya kunjungi karena jadwal prakteknya yang enak yaitu Sabtu pagi di RSPB yang dekat dengan kosan saya waktu itu (tinggal jalan kaki). Dokternya baik, Muslim, berhijab dan keibuan. Komunikatif dan banyak menjelaskan saat USG. Namun dari 4x saya mencoba kontrol ke beliau, saya cuma berhasil bertemu… 1x. Jreng! Hahaha. Mohon maaf sebelumnya, tapi beliau ini menurut saya paling nggak berkomitmen. Ya masa dari empat kali saya datang beliau nggak ada tiga kali? Pemberitahuan kalau beliau tidak praktek pun selalu mendadak. Oh iya, dr. Ida ini cukup konservatif waktu saya tanya soal terbang di trimester pertama, beliau strictly menyatakan baru boleh terbang setelah 14 minggu.
  • dr. H.M. Diknovanta Ervintiyanto, Sp.OG (dr. Ervin)
    (RS. Siloam Balikpapan)

    Saya ke dokter Ervin karena waktu itu Dr. Ida nggak praktek di RSPB jadi saya memutuskan untuk ke obgyn manapun yang available Sabtu pagi di Siloam. Tidak banyak teman yang punya pengalaman dengan dr. Ervin. Waktu saya datang pun tidak terlalu banyak antrian which was actually an upside :) Waktu diperiksa, usia kehamilan saya baru 8 minggu namun saya merasa waktu USG dokternya kurang telaten :p Namun beliau termasuk yang banyak menjelaskan do & don’ts kehamilan, walau suaranya kecil. Saya juga sempat tanya, “Dok, katanya kalau 8 minggu sudah bisa terlihat denyut jantungnya?” lalu beliau bilang, “Iya sudah ada tapi belum terdeteksi.” Waktu sorenya konfirmasi ke dr. Stella, dr. Stellah bilang bisa dan menunjukkan kedip-kedip penanda detak jantung si janin. Ih, gimana sih Pak Dokter? :(
  • dr. Raditya Perdhana Sp.OG
    (RSPB)
    Saya ke dokter Raditya karena beliau menggantikan dr. Ida. dr. Raditya ini masih muda, ramah dan santai banget, nggak banyak larangan dan nggak banyak ngasih obat. Orangnya lucu, pokoknya cocoklah becandaannya sama saya :p Namun menurut saya pribadi, dr. Raditya ini kurang detail karena dari 2x USG dengan beliau, nama di print out USG saya selalu salah karena belum diganti. Agak gimana gitu kan waktu foto hasil USG untuk dishare ke keluarga tapi namanya Ny. Erniewaty dan Ny. Estuning :’))))

Sekedar informasi, lagi-lagi dari tanya-tanya ke teman, dokter yang paling sering disebut-sebut dan direkomendasikan adalah dr. Bisma Baratayatnya Sp.OG karena senior, telaten, baik dan komunikatif banget. Saya sendiri sama sekali nggak mencoba ke dr. Bisma karena terkenal banget antriannya panjaaaaaaanggggg sementara saya kemana-mana harus sendirian :’) Selain itu ada beberapa teman yang konsultasinya ke dr. Aspian, dr. Triseno, dan dr. Alia. Untuk mereka, silakan ibu-ibu research lebih lanjut yaa, hehehe.

Oh iya, untuk biaya konsultasi, mohon maaf saya nggak ingat dan mencatat dengan detail. Saya dan suami menggunakan fasilitas kartu berobat dari kantor sehingga nggak pernah mengeluarkan uang saat ke RS, hehe. Namun seingat saya untuk konsultasi dokter baik di RSPB maupun Siloam per pertemuan biayanya sekitar Rp.150.000 dan USG 2D Rp.210.000 – Rp. 250.000 an. Belum termasuk biaya pendaftaran juga vitamin-vitamin jika diperlukan.

Demkian, semoga bermanfaat yaa :)

2 Comments

  1. Fany Amalia says

    Kak Putyyyy ya ampuuun, I miss you Kak!
    Hihi kalau aku paling suka sih sama dr Stella Kak
    Entah karena akunya yg bawel kali ya jadi setiap control sama beliau, membahagiakan, ga ada kesan jutek atau diem2an hehe
    Malah pas aku panik bayiku rewel setelah vaksin DPT 1 (saat itu aku belum punya no telf dsa babyku),
    dr Stella yg ngasih tau tindakan2 awal untuk menenangkan babyku :D
    Dr Stella juga yg bikin aku mau lahiran di Balikpapan aja hahaha
    Ohya pas aku melahirkan, sekeluargaku dibolehin dr Stella masuk ke procedure room loh!
    Hihi btw Selamat ya Kak atas kelahiran babynya,
    Main2 lagi ya nanti ke Balikpapan..
    Barakallahu fiik :)

    -Fany Istrinya Faisal yg pernah Yoga Bareng :D

    • Halo Fanyyy :D Waaaaahhh, jadi kangen Dr. Stella dan Balikpapan :) Terima kasih ya Fany, semoga kamu, Faisal dan baby sehat2 terus yaaa… <3 Aaamin YRA.

Leave a Reply