Thoughts
comments 6

Sebuah Komentar Tentang Menjadi Tua di Jakarta

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

– Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Entah sudah berapa kali saya membaca tulisan Menjadi Tua di Jakarta ini dari unggahan-unggahan teman di media sosial. Pagi ini saya memikirkannya agak lebih lama. Saya memikirkan ayah saya yang sudah lebih dari 25 tahun menjadi tua di Jakarta dan sebentar lagi akan pensiun sebagai karyawan swasta. Saya memikirkan suami saya yang sedang menua di Jakarta bekerja untuk sebuah BUMN. Saya memikirkan anak saya kelak yang mungkin juga akan tumbuh untuk menua di Jakarta, seperti saya yang menghabiskan 6 tahun menempuh puluhan km untuk berangkat dan pulang sekolah di Lubang Buaya lalu Salemba.

Apakah hidup kami mengerikan?

Mungkin iya, untuk sastrawan (wartawan, penulis, fotografer, kritikus film Indonesia, menurut Wikipedia) sekelas Seno Gumira Ajidarma yang memilih “menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong”. Mungkin iya untuk teman-teman yang punya kesempatan (dan modal) untuk menjadi entrepreneur, yang mampu memilih untuk menjadi freelancer tanpa harus mengkhawatirkan tabungan pendidikan anak atau kiriman untuk orang tua yang tidak lagi aktif bekerja.

Mungkin alih-alih bertanya kepada Seno Gumira Ajidarma (yang entah apakah sering mengalami perjalanan pulang ke rumah selama empat jam padahal harusnya bisa ditempuh setengah jam hanya karena hujan), kita bisa bertanya kepada 647.000 orang* (*rata-rata harian, Jan 2015) yang setiap hari memadati KA Commuter Jadebotabek:

Apakah hidup mereka mengerikan? Apakah karena mengerjakan pekerjaan rutin dan administratif hidup mereka menjadi tidak berarti dibandingkan hidup seorang penulis lepas atau seniman yang berjiwa bebas? Apakah pensiun yang tidak seberapa adalah sebuah akhir yang ‘hanya’?

Saya pribadi tidak pernah melihat sosok ayah saya sebagai sosok yang akan menyesali pilihan hidupnya untuk menjadi tua di Jakarta, yang akan mengenang-ngenang kemacetan di Jakarta kelak sambil meratapi pensiunnya.

Saya selalu melihat ayah saya sebagai sosok yang kuat, tangguh, pekerja keras, dan bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya dan membantu keluarga besarnya. Saya selalu melihat ayah saya sebagai sosok yang bahagia disambut anak istrinya di rumah setelah macet berjam-jam di jalan. Saya selalu melihat ayah saya sebagai sosok yang passionate ketika menceritakan inovasi apa yang beliau lakukan di kantor, bagaimana beliau memperjuangkan hak anak buahnya untuk dapat promosi, bagaimana beliau selalu mengajarkan kepada kami untuk memberi kinerja terbaik kelak kami bekerja karena bekerja adalah ibadah.

Apakah kehidupan dengan ikatan dan rutinitas adalah semata-mata kehidupan seperti mesin? Apakah hidup seperti itu tidak bisa dijalani dengan semangat?

commuting life 2

Saya menghargai hal yang sama yang dimiliki yang dimiliki orang-orang yang menjadi tua di Jakarta: kerja keras dan tanggung jawab.

Menurut saya tidak ada yang ‘hanya’. Setiap orang memiliki perannya masing-masing juga tanggung jawab masing-masing. Hidupnya masing-masing karena pilihan masing-masing.

Kebahagiaan masing-masing pula karena syukurnya masing-masing.

Bagi saya,

“Alangkah mengerikannya jika hidup kita sendiri tidak kita maknai sendiri, tidak kita syukuri sendiri.”

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

6 Comments

  1. Korun says

    Sering juga saya baca tulisan tersebut Put. Dan menyikapi nya sesuai suasana hati. Sebagai komuter selama 10 tahun ini karena tinggal di kawasan penyangga ibu kota. Kalo lagi kesel, minimal maki” dan menggerutu tentang macet Jakarta yang ngehe abis. Tetapi kalo lagi santai, malah menikmati rutinitas termasuk macet sebagai petualangan hidup. Halah, cuci mata sih sebenernya.
    Mengerikan sih engga . Cuma jangan dibiarkan dan pasrah. Saya juga ga tau solusi kemacetan. Kalo tau mungkin saya udah jadi Gubernur DKI dan tinggal di rumah dinas dan berakhir lah menjadi komuter.
    Hanjer kepanjangan. Maap.

  2. Aku juga belajar banyak dari apa yang aku liat di papaku yang bekerja kantoran berpuluh-puluh tahun. Tinggalnya pun di perumahan yang dibangun kantor, radiusnya gak sampe 5km dari rumah ke kantor, dan setiap ada ‘apa-apa’ di kantor harus siap sedia. Artinya selama puluhan tahun itu papaku bisa dibilang stand by untuk kantor hampir 24 jam setiap hari. Menurutku ini beneran ngeri, dalam artian dedikasi yang membuat aku segan. Pekerja kantoran memang luar biasa komitmennya.

    Menurutku kerja jadi apapun baik, sih. Asal nggak dijadikan alasan buat mengeluh ^^;

  3. sudut pandang yg menarik.
    ketika orang sudah bisa menikmati hidup, apapun bentuknya, leha-leha atau macet-macetan ;) itulah hidup

  4. well written puty :)

    akupun masih termasuk orang yang menua di jakarta, tapi alhamdulillah masih bekerja di bidang yang aku sukai walopun tetep suatu saat pengen bisa mandiri sendiri. buat aku kalo udah punya tanggung jawab (baca : anak) cukup riskan kalo mengejar passion tanpa persiapan dana dan rencana yang matang. klise sih tapi selalu benar kalo makin kita bersyukur semakin kita merasa cukup dan bahagia.

    salam hormat untuk bapak ya puty

  5. salam kenal puty :)
    suka sekali dengan tulisan ini, sebagai reminder dan penyemangat bagi saya yang hanya pekerja administrasi. btw, kenal argo total? dia teman sma saya

Leave a Reply