Books, Review
comments 5

The Life-Changing Magic of Tidying Up (and Decluttering!)

Wow, saya sendiri agak kaget masih bisa posting blog hari ini mengingat hari ini adalah H-1 due date saya, dengan kata lain kehamilan saya sudah masuk 40 minggu kurang 1 hari! Berikut penampakan saya dengan si baby bump di minggu ke 39 ini, hihihi. (Jangan tanya naiknya berapa kilo, pokoknya banyak lah! :p)

bumpies

Mendekati hari H, saya nggak mau membahas soal kehamilan apalagi persalinan. Takutnya makin deg-degan dan panas dingin, hihi. Berhubung semua persiapan sudah dilkukan, jadi hari-hari terakhir ini saya habiskan untuk nonton ulang Meteor Garden via YouTube diselingi dengan membaca.

Berhubung saya nggak mungkin membahas soal Meteor Garden (ya menurut nganaaa~) jadi saya mau membahas soal bukunya Marie Kondo yang amat tersohor itu, ‘The Life-Changing Magic of Tidying Up’. Berdasarkan info di sampulnya, buku ini sudah terjual 5 juta kopi dalam berbagai bahasa dan untuk versi Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Sebetulnya saya sudah punya buku ini sejak tengah tahun, dihadiahkan oleh sahabat saya, Khibran, di kantor. Kami tergabung dalam tim kecil di departemen yang bertugas untuk beberes ruangan kantor. Beberes di sini bukan beberes seperti yang dilakukan office boy setiap hari, tapi lebih ke soal penempatan barang dan refreshing tata letak di ruangan supaya aura kantor terasa lebih lega dan segar. Walaupun saat itu belum membaca soal metode Konmari Method alias metode bebenah ala Marie Kondo, namun saya sudah beberapa kali browsing soal program decluttering. Decluttering sendiri maksudnya membuang barang-barang yang sudah nggak diperlukan dan memenuhi ruangan.

Terdengar sederhana kan? Namun percaya deh, kesumpekan di ruangan banyak terjadi karena penghuninya nggak peduli terhadap barang-barang yang seharusnya dibuang tapi malah ditumpuk, dan lebih celakanya lagi, barang-barang nggak disimpan pada tempatnya masing-masing.

Waktu saya pindah dari Balikpapan kembali ke Bekasi pun saya melakukan proses decluttering dengan ‘meninggalkan’ beberapa kardus barang yang isinya beragam mulai dari pakaian, pernak-pernik, alat-tulis, alat makan, sampai kabel-kabel misterius yang bahkan saya lupa bagian dari gadget apa.

In short, I’m not new at decluttering.

Namun demikian, begitu tiba di Bekasi, saya melupakan buku Marie Kondo tersebut dan kembali pada kebiasaan belanja barang-barang yang sebetulnya tidak perlu-perlu banget, terutama waktu merancang home office dan belanja perlengkapan untuk menyambut kelahiran Baby A.

Sampai akhirnya saya dapat buku ‘The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang’ versi terjemahan Bahasa Indonesianya dari Bentang.

612882

Sewaktu kedatangan buku ini saya pun memperhatikan home office dan kamar tidur saya yang 4 bulan lalu kelihatan lega kok sekarang jadi penuh. Okay, it’s a sign from universe to start reading dan belajar teori bebenah! Yah walaupun eksekusinya pasti belum bisa dalam waktu dekat sih…..

But let me give you some glimpses of this book.

Membaca buku ini rasanya seperti… menghadiri talkshow singkat (karena bukunya tidak terlalu tebal, bisa habis dibaca sekaligus) bersama sang penulis asal Jepang, Marie Kondo. Marie Kondo ini sudah terkenal sebagai ahli beberes rumah (say whaaattt?) dan jika ingin jadi kliennya harus pakai waiting list berbulan-bulan (say whaaattt againnn?) Namun semua klien Marie Kondo konon berhasil mengubah hidup mereka setelah beberes rumah dengan metode Konmari ini.

Metode Konmari sendiri menekankan proses decluttering alias mengikhlaskan / membuang barang-barang yang kita pakai sebagai langkah pertama lalu fokus pada barang-barang yang perlu kita simpan dan yang membangkitkan kebahagiaan (“does it spark joy?”)

Setelah proses membuang / declutter, barulah dijelaskan soal menyimpan dan menata barang. Dijelaskan bagaimana menyimpan pakaian mulai dari menggantung, melipat, menggulung kaos kaki. Dijelaskan pula soal beberes buku, kertas-kertas (dokumen), pernak-pernik hingga barang-barang dengan kenangan tertentu.

Menurut Marie Kondo, bebenah seperti ini seperti sebuah detoks untuk rumah sekaligus penghuninya. Setelah bebenah kita akan merasa lebih lega dengan hati yang lebih lapang. Kita juga akan lebih menghargai barang yang kita miliki sehingga barang-barang tersebut akan memiliki kinerja yang lebih baik.

Semuanya ditulis dalam bentuk paragraf-paragraf yang dibagi menjadi beberapa sub-bab seolah-olah Marie Kondo sedang berbagi teori dan menceritakan contoh kasus dari klien bebenahnya. Beberapa paragraf yang dianggal esensial ditandai dengan huruf tebal (bold).

612874

Saya pribadi suka buku ini dan mendapat beberapa pencerahan soal mengikhlaskan barang saat proses decluttering. Also, as I mentioned previously, I’ve read and been interested to zen concept of living and “less is more” motto.

Buku ini saya rekomendasikan untuk teman-teman yang merasa rumahnya sumpek atau kamarnya selalu berantakkan and would like to change. Kenapa saya tekankan soal ‘would like to change’? Karena metode Konmari ini agak esktrim dalam membuang dan nyentrik dalam memperlakukan barang layaknya benda hidup (yah ala Jepang sih). Saya menemukan beberapa review pembaca western yang bikin ketawa seperti ini, ini dan ini. So yeah, it might not suit everyone but still, it’s worth giving a try! :)

Yup, demikian dulu pembahasan buku dari saya kali ini. Mungkin ke depannya kalau sempat seru juga ya kalau saya bahas-bahas buku yang berkesan untuk saya lagi.

Cheers!


Baca juga soal Konmari Method di Living Loving, part 1 & part 2.

Filed under: Books, Review

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

5 Comments

  1. welcome to konmari group :))) semoga bisa segera mempraktekkan, put.
    hahaha, iya. ada yang menganggap si konmari method ini agak mengada-ada gara-gara ngapain sih barang harus dirasa-rasa. tapi kayaknya kalo kita yang di asia sih nggak terlalu jauh lah yah dengan konsep energi dll.

  2. Dahri says

    Jadi terinspirasi, mungkin bikin satu toko giveaway put, setup shop di tokopedia/bukalapak utk jual barang tak terpakai murah, hingga diskon 99%, karena ga mungkin dijual 0 rupiah.

Leave a Reply