Home & Family, Motherhood
comments 4

Minggu-minggu Pertama Menjadi Ibu

Minggu-minggu pertama menjadi seorang ibu ternyata nggak kalah ‘luar biasa’ dengan minggu-minggu pertama menjadi wellsite geologist. Keduanya sama-sama menuntut konsentrasi dan kekuatan begadang serta sleeping management yang mumpuni. Bedanya saat jadi wellsite geologist ada yang namanya jadwal off (dan jadwal gajian!) lalu pulang ke kota yang memungkinkan untuk pacaran sama bantal guling sepuasnya, hehe.

Saya bersyukur sekali karena mendapat banyak kemudahan seperti rumah orang tua yang berdekatan dengan rumah saya dan suami (sehingga kami bisa sering-sering dibantu Ayah dan Bunda) serta adanya asisten rumah tangga (ART) yang cakap mengurus bayi dan anak-anak. Alhamdulillah, air susu ibu (ASI) saya mengalir lancar dan sejauh ini cukup memenuhi kebutuhan Antariksa yang luar biasa, hihi. Alhamdulillah, Antariksa nggak sempat mengalami kuning alias newborn jaundice walaupun golongan darah kami berbeda. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Sebagaimana para ibu baru lainnya hari-hari di minggu-minggu pertama saya pun diisi dengan siklus ibu newborn: minum ASI -> tidur -> buang air -> lapar – > minum ASI (dan seterusnya), hihi. Sebagai orang yang terbiasa multitasking, saya lumayan ‘kaget’ dengan siklus hidup seperti ini. Perasaan kok hari sudah sore saja, padahal rasanya belum ngapa-ngapain bahkan belum mandi pula.

routine

Nah sekarang saatnya curhat soal ASI. Saya dulu sering membatin setiap kali melihat hebohnya kampanye ASI di kalangan ibu-ibu. “Memang ada ya ibu-ibu yang nggak mau menyusui anaknya dengan ASI? Selain bergizi bukannya hemat dan praktis nggak usah bawa-bawa botol kemana-mana?” Ternyata setelah melahirkan saya baru tau…… kehidupan menyusui dan per-ASI-an penuh drama dan air mata banget yah… :’))) Malam pertama dan kedua di rumah sakit Antariksa bisa menyusu dengan baik, namun di malam ketiga payudara saya bengkak karena suplemen pelancar ASI sehingga Antariksa nggak bisa menyusu sama sekali lalu nangis terus sampai suaranya serak. Akhirnya saya menyerah dan menandatangi persetujuan untuk memberi Antariksa susu formula.

Setelah akhirnya berkonsultasi dengan spesialis laktasi dan berhenti minum booster ASI, masalah bengkak pun teratasi. Masalah berikutnya adalah masalah perlekatan saat menyusui alias latching. Waduh drama puting lecet alias sore nipples ini bikin saya betul-betul nangis: nangis karena sakit, nangis karena kasihan kalau lihat Antariksa nangis kelaparan, nangis karena merasa “Kok cupu banget? Every new mom experiences it, aight?” Antariksa juga sampai saat ini masih belum mau minum ASI Perah (ASIP) dengan cara disuapi sehingga perihnya sore nipples ini harus ditahan dengan ikhlas setiap menyusui kurang lebih 2 jam sekali.

piechart

Kesimpulannya, walaupun ASI saya lancar dan saya nggak ada rencana untuk kerja di luar rumah sehingga nggak harus memikirkan stok ASIP, tetap saja ternyata jadi ibu ASI itu butuh perjuangan dan support dari segala pihak terutama suami! Hup!

Pokoknya di minggu-minggu pertama sebagai ibu saya jadi bisa memaknai ucapan, “Congrats for the baby, selamat begadang ya!” atau doa dan semangat, “Semangat menyusui yaaa, semoga ASI-nya lancar!” Saya juga jadi bisa menghayati berbagai episode drama ibu-ibu seperti soal ASIP yang sudah dipompa dengan cucuran air mata ternyata tumpah, soal bayi yang kuning dan harus disinar di rumah sakit lalu sang ibu nangis-nangis kangen, ataupun soal ibu-ibu yang sensitif banget waktu bayinya dibilang ‘kecil’.

Di minggu-minggu pertama ini saya juga jadi mengerti perasaan ibu-ibu yang mendadak puitis posting foto bayi tiap jam dengan caption semacam, ‘I love you unconditionally’ atau ‘The most amazing thing that ever happened to me’. Because motherhood truly is amazing (and for sure every baby is the cutest thing in the whole world to her parents!)

However, I have to admit that I’m neither perfect nor the most patient mother in the world. Sometimes in these first weeks, when I nursed the baby, I looked at the ceiling and wonder when I would be able to travel again or if I would ever attend a music festival again. I even pictured those times I was inside the helicopter, flying to the rig. Then I would look at Antariksa again, wondering how I could make him full and comfortable, wondering how to give my best for him.

Then I realized: this is my new adventure and I’m utterly grateful for it.

These first weeks are just the beginning!


PS: I finally finished this post after 4 days. Why? Here’s an explanation:

motherhoodcomic

4 Comments

  1. Selamat menjadi ibu, Puty! udah ngucapin sih ke Agun, ke Puty mah belum ya hehehe. Saya juga dulu lecet parah waktu awal2 menyusui, Put. Sampe berdarah-darah nipplenya & nangis tiap menyusui saking perihnya. Heuheuheu. 16 hari kemudian sejak melahirkan baru deh normal lagi nipplenya :D Begadang terasa berat di 3 bulan pertama. Kalau udah lewat 3 bulan udah mulai terbiasa dengan jabatan Ibu sih, Put. Sewaktu melahirkan, rasanya sedih tapi bahagia tapi sedih juga. Antara saya dengan anak sendiri & tenggelam di antara popok dan kotoran bayi yang tiada henti, juga keingetan semua masa-masa terbaik sebelum bayinya lahir dan jadi kepikiran apa masa-masa terbaik itu bakal terulang lagi setelah punya anak. 4 tahun saya jadi ibu, masa-masa terbaik itu datang lagi, Puty! Nanti kamu juga pasti begitu. Bisa nonton lagi di bioskop, nonton konser lagi, bisa jalan2 lagi kok, bisa mengerjakan hobi lagi :D Beda sih rasanya karena ada anak , tapi tetep seru hehehehe. Selamat berjuang yaaaaaaa!

    *kenapa jadi saya yang curhat ini teh :)))))))*

    • OMG teh Uluuuu, thank you for sharing. Aku berasa banget jugaaa… kadang ada rasa bersalah, kok orang2 tuh pada pengennnn punya anak, aku malah mikirin kapan bisa nonton konser lagi bukannya fokus 100% jadi ibu. Pas ngobrol2 ternyata ada juga yang merasakan hal yang sama dan mungkin wajar yaa.. selama kita tetap bersyukur dengan apa yang dipunya dan gelar yang dijabat ini :D

Leave a Reply