Thoughts
comments 10

Silaturahmi

cap

Kepergian Mama dan kedatangan Antariksa membawa banyak hikmah dan pelajaran bagi keluarga kami. Salah satu yang paling penting bagi saya adalah tentang pentingnya menjaga tali persaudaraan dan persahabatan, atau istilahnya silaturahmi. Dalam Islam bersilaturahmi memiliki keutamaan memperpanjang usia dan melapangkan rezeki, namun saya yakin memelihara hubungan baik terhadap teman apalagi saudara adalah hal yang baik secara universal.

Silaturahmi adalah salah satu nilai yang diajarkan baik di keluarga saya maupun keluarga suami. Ayah kami keduanya berasal dari Minang yang sangat menghargai keluarga dan persaudaraan. Sejak kecil saya selalu diajak berkunjung ke rumah ‘saudara’. Sebagai seorang introvert, berkunjung ke rumah saudara and mingling was never easy for me, apalagi sebetulnya kalau dirunut-runut hubungan persaudaraannya lumayan jauh, misalnya ‘anak sepupunya kakek’. (Un)fortunately, Ayah dan Bunda saya selalu ‘memaksa’ saya ikut dan saya selalu nurut walaupun dengan agak cemberut.

Ternyata ‘indah’-nya memiliki keluarga besar baru saya rasakan langsung ketika orang tua mulai mengadakan hajatan untuk saya, yaitu acara lamaran kemudian terus disambung dengan pernikahan, housewarming party, hingga acara pengajian 4 bulanan kehamilan. Suami saya (my-then-fiancé) pun ternyata merupakan bagian dari keluarga besar (baik dari pihak Mama maupun Papa) yang silaturahminya sangat kuat sehingga setiap acara terasa hangat dengan kehadiran para saudara dan sahabat. It brings the feeling of being blessed and loved; being part of the tree, coming from the same root.

Namun demikian, yang paling saya syukuri adalah ketika Mama sakit dan di saat yang sama saya sedang hamil. Saya nggak akan pernah lupa saat para saudara dekat maupun jauh juga teman-teman datang dan membesuk Mama, memberikan dukungan dan doa kepada kami; kepada saya dan Antariksa yang masih ada di dalam perut. Saat Mama kritis dan kemudian berpulang, saya yakin sekali tanpa kehadiran ataupun doa dari mereka semua, saya dan suami akan jauh, jauh, jauh lebih sedih.

I know that more relatives means bigger wedding, more names to remember, more small talks (and more sensitive issues to be remembered and excluded), and less weekends to be enjoyed privately (and more hours of traffic jam on the way visiting each other). I know that for a generation that spends almost all the life online with privilege to choose whom to connected with, berkunjung ke rumah saudara (that we aren’t in touch with on daily basis) di ujung Jakarta yang lain hanya untuk ngobrol seem… well, strange and uncomfortable.

Saya yakin sekali saat ini cara menjalin dan menjaga tali silaturahmi sedang berevolusi menjadi grup-grup di WhatsApp, saling stalking timeline Facebook, saling komentar dan membubuhkan tanda hati di Instagram, dan seterusnya. Not that I say it doesn’t work. It just works differently.

Ketika saudara atau teman mengucapkan turut berduka cita dan mendoakan melalui grup, it soothes us. Namun ketika ada yang datang walau hanya setengah jam untuk berbincang sebentar, mendengarkan cerita yang mungkin sudah kita ulang untuk yang kesekian kalinya lalu menutup perjumpaan dengan menepuk pundak atau memberi pelukan singkat, it really helps.

Oleh karena itu tidakkah menyedihkan ketika silaturahmi ‘berpindah’ ke dunia maya lalu dianggap cukup? Tidakkah menyedihkan ketika silaturahmi menjadi seperti mudah sekali diputuskan dengan kalimat-kalimat, “Unfriend saja pendukung X yang suka share-share tentang Y,” atau “Ya, left group aja lah ya, isinya debat soal Z terus…”? Do we really mean it?

Shouldn’t we try harder and try again?

Because if we don’t, I’m wondering who will, in the future, visit my son and give a hug to my daughter when I die, saying that everything will be okay?

 

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

10 Comments

  1. Tulisan yang sangat bagus mbak Puty. Apa yang dilakukan ortunya sama dengan yang dilakukan ortuku. Saking banyaknya sepupu (kita keluarga yang sangaaaat besar, ayah 10 sodara, ibu 9, cicitnya nenekny aja 50 orang lebih) kadang bikin #jleb ketika ketemu sepupu dan lupa namanya siapa oops. *Pernah kejadian, abang sepupu lupa namaku siapa ewww.

    Semoga ibunda mendapatkan tempat terbaik :)

    • Makasih, Mas :D Kalau dipikir2 generasi sekarang dan berikutnya harusnya lebih mudah ya jaga silaturahmi karena paling anak & cucu2nya sedikit, jarang yang anaknya lebih dari 5 lagi, hehehe. Terima kasih sudah mampir yaaa :)

    • setuju :D menurut aku beda-beda nggak apa-apa asal nggak saling memaksakan kan yaa. siapa tau yang ga suka beng-beng dingin giginya suka ngilu. hehehe

  2. Steven Setiono says

    Nicely written mba ?. A really good reminder for me that online will never be as good as offline and real world.

Leave a Reply