Daily Life, Highlight, Home & Family
comments 10

Cerita Daftar Haji

hajj

Tinggal berdekatan dengan orang tua dan baru saja diamanahkan seorang bayi membuat kami punya lebih banyak waktu untuk bertemu dan ngobrol-ngobrol. Ayah adalah partner diskusi (mulai dari soal sejarah, agama, politik sampai soal manajemen resiko!) favorit saya dan Bunda tentu saja tempat curhat plus gosip nomer wahid.

Salah satu topik yang sering muncul adalah soal masa depan yang merupakan rahasia Allah. Tahun ini lapang, tahun depan bisa saja sempit. Tahun ini sehat, tahun depan bisa saja sakit. Kondisi seseorang bisa berubah 180 derajat dalam waktu singkat. Biasanya di ujung obrolan soal ini, saya akan bilang, “Ayah dan Bunda mumpung masih sehat dan kuat jalan-jalan, ayo jalan-jalan dong. Hasil kerja keras dan menabung harus dinikmati, atuh. Nanti kalau ketuaan jalan-jalannya cepat capek loh.”

Sampai suatu kali mereka pun balas mengingatkan, “Puti dan Abang nggak mau daftar haji? Sekarang daftar haji, baru belasan tahun lagi loh boleh perginya. Nanti kalau ketuaan cepat capek loh.” KENA DEH SAYA DIBALES! :p

Namun setelah saya obrolin dengan suami, iya juga sih, kenapa nggak betulan daftar aja? Ipar saya pun sudah daftar haji bersama istrinya dan kurang lebih baru berangkat 13 tahun lagi (walau kemungkinan akan maju karena setiap tahun pasti ada yang tidak jadi berangkat). Seorang teman malah bilang dapat kebagian tahun 2035 alias 19 tahun lagi (!). Kalau sekarang saya umur 27, 19 tahun lagi berarti sudah mau 50 tahun dong ya (!!).

Akhirnya saya dan suami pun sepakat untuk mengurus pendaftaran haji tahun ini. Kebetulan suami sudah punya tabungan haji di Bank Muamalat Indonesia (BMI) sejak sebelum menikah (suamiku, aku bangga~ eciee), jadi tinggal dilunasi. Saya pun ikut buka tabungan haji di bank yang sama. Pembukaan rekening tabungan haji di BMI ini sama saja prosedurnya dengan buka rekening biasa, namun tidak ada kartu ATM, tidak ada biaya administrasi, dan by default tidak bisa diambil-ambil. (Correct me if I’m wrong about this)

Menurut orang BMI, alur pendaftaran haji per awal 2016 ini sudah lebih gampang dan sederhana dibanding sebelumnya. Sebelumnya yang mendapat jatah kursi / antrian adalah bank, sedangkan sekarang setiap calon jemaah akan mendaftar langsung ke Kementrian Agama untuk mendapat ‘nomer antrian’.

Nah, saya jadi saya ingin sharing sedikit soal persyaratan dan proses pendaftaran haji ya. Saya dan suami mendaftar sesuai domisili kami yaitu di Kota Bekasi dan, seperti yang sudah disebutkan, melalui Bank Muamalat Indonesia.

Alur proses pendaftaran haji adalah sebagai berikut:

Bank

  1. Memiliki rekening tabungan haji dengan jumlah tabungan untuk setoran awal ke Kementerian Agama (Kemenag) sebesar Rp25.000.000 (per 2016). Biasanya dilebihkan sekitar 100 ribu.
  2. Menyiapkan dokumen berikut untuk pihak Bank:
    – Buku tabungan haji
    – Fotokopi KTP
    – Pas foto 3×4 berlatar putih dengan proporsi wajah 70-80% (6 lembar)
    – Materai 6 ribu (2 lembar)
  3. Mengisi formulir Surat Pernyataan Kebenaran Identitas Pendaftaran Jamaah Haji (SPCH) dan menandatangani di atas materai surat kuasa kepada Kemenag untuk mengelola dana setoran awal dan setoran lunas Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), serta kuasa kepada bank untuk memberikan data / informasi nasabah ke Kemenag. SPCH maupun surat kuasa disiapkan pihak bank dan kurang lebih demikian penampakkannya:haji-2
  4. Bank kemudian mentransfer / menyetor dana tersebut ke Kemenag
  5. Setelah itu selain dicetak di buku tabungan, bank akan menerbitkan Tanda Bukti Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibada Haji (BPIH) rangkap 5 dan setiap lembarnya ditempel pas foto. Lembar pertama untuk nasabah (putih), lembar kedua (merah) untuk bank dan sisanya untuk Kemenag.
    haji-4
  6. Selesai urusan Bank, jangan lupa fotokopi tanda bukti BPIH dan buku tabungan (lembar pertama dan lembar yang terakhir diisi penyetoran ke Kemenag). Buat rangkap 3 untuk jaga-jaga.

Kementerian Agama

  1. Selesai dari bank kita bisa langsung mengurus ke Kemenag setempat. Berikut penampakkan Kemenag Bekasi. Untuk pendaftaran haji buka dari jam 08.00 – 15.00. Istirahat jam 12.00 – 13.00 kecuali hari jumat jam 11.00 – 13.30.
    haji-5
  2.  Mengisi Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH)
  3. Menyerahkan SPPH dan menyertakan 2 (dua) rangkap dokumen berikut untuk mendaftar haji yaitu:
    – Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)
    – Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
    – Fotokopi buku tabungan haji
    – Surat keterangan domisili di atas materai 6000 dari kelurahan yang diketahui oleh kecamatan
    – Fotokopi paspor
    – Fotokopi akta lahir atau ijazah SMA atau buku nikah JIKA belum punya paspor
    – Tanda bukti setoran BPIH dari bank
    – Pas foto 3×4 latar putih 70-80% (5 lembar)
  4. Menunggu untuk dipanggil dan menerima SPPH dengan nomer PORSIhaji-1
  5. Menghadap seksi penyelenggaraan haji dan umroh (di ruang terpisah dengan ruangan perndaftaran haji) untuk menyerahkan dokumen yang akan disimpan Kemenag.
  6. Selesai! Jangan lupa simpan baik-baik SPPH dan nomer PORSI karena dengan nomer PORSI ini kita bisa mengecek perkiraan tahun berapa bisa berangkat haji. Berangkatnya kapan dapat dicek di haji.kemenag.go.id ya :)

Total waktu yang saya butuhkan untuk mendaftar bersama suami (dengan dokumen + fotokopiannya yang sudah lengkap disiapkan semua dari rumah) hanya 3 jam saja yaitu dari 08.45 – 11.45. Walaupun harus dicatat bahwa di depan kami hanya ada 2 antrian, namun 3 jam betul-betul di luar ekspektasi kami, hihi. Salut untuk penyederhanaan birokrasi! :)

Oh iya, pendaftaran haji ini harus dilakukan oleh masing-masing calon jamaah, tidak bisa diwakilkan / secara kolektif. Untuk yang pekerja kantoran bisa cukup izin / cuti setengah hari untuk mengurusnya.

Untuk catatan, prosedur dan persyaratan ini adalah untuk Kota Bekasi. Menurut orang bank, prosedur dan persyaratannya sebetulnya mirip-mirip saja dengan daerah lain. Adapun perbedaan misalnya, ada daerah yang tidak perlu surat keterangan domisili, ada yang harus melampirkan surat keterangan kesehatan dari puskesmas, dst. Catatan terakhir adalah: fotokopi beberapa kali dokumen-dokumen yang dibutuhkan maupun yang sudah diurus, lebih baik kelebihan daripada kekurangan, dan ini berlaku juga untuk pas foto.

Demikian dulu sharing dari saya. Mudah-mudahan post ini tidak dianggap riya karena sesungguhnya niat saya betul-betul ingin sharing dan muji soal proses pendaftaran haji yang surprisingly nggak ribet seperti yang saya pikirkan. Yah, siapa tau juga kan ada pembaca muslim/muslimah yang jadi keidean untuk mulai buka tabungan haji :)

10 Comments

    • Tenang Oom, didoakan nanti sekali ngisi lagi langsung lunas buat setoran awal hihihi :D Aamiin, makasihhh…

  1. myfloya says

    pas banget mbak, aku baru buka tabungan haji bulan ini tapi di BNI Syariah.. hihi
    makasih infonya ya mbak

  2. kukira setoran awalnya sama seperti besaran buka rekening tabungan lainnya, tapi beda ya, lumayan gede juga, huhu. tapi makasih banyak infonya kak, jadi punya gambaran nih buat ke depannya :D

    • kalau untuk setoran awal tabungan bebas aja kok Mbak :D yang 25 juta adalah setoran awal untuk daftar hajinya. jadi nggak apa2 nabung dulu berapa aja, nanti setelah 25 juta baru bisa didaftarkan :)

Leave a Reply