Highlight, Motherhood, Wanderlust
Leave a comment

Bepergian dengan Pesawat Bersama Bayi

Nggak terasa sudah hari Senin lagi dan besok sudah hari terakhir di bulan pertama 2017. Seminggu belakangan saya lumayan produktif berkarya; mempersiapkan koleksi ketiga Fat Bunny byputy, rapi-rapi web Fat Bunny, dan mengerjakan beberapa commission. Saya juga menyelesaikan buku Momma Zen: Walking the Crooked Path of Motherhood dan lanjut membaca buku seputar parenting lainnya yaitu Bringing Up Bébé dan Bébé Day by Day. Insya Allah kalau sempat saya akan tulis hal-hal menarik yang saya dapat dari buku-buku yang saya baca ya :)

Berhubung mood dan situasi sedang oke, saya ingin menunaikan rencana saya di post sebelumnya yaitu sharing pengalaman soal penerbangan pertama Antariksa ke Yogyakarta kemarin. Penerbangan Jakarta-Yogyakarta ini menurut saya rute yang ideal untuk ‘latihan’ karena ditempuh kurang lebih satu jam saja (yang ‘latihan’ di sini maksud saya adalah orang tuanya…. heheh). Saat itu Antariksa berumur 3.5 bulan, masih mengonsumsi ASI eksklusif  dan belum bisa duduk sendiri.

Sebelum hari keberangkatan saya sempatkan browsing berbagai pengalaman, tips dan trik soal terbang bersama bayi. Saya pun baru tau kalau ternyata tiap maskapai menerapkan aturan yang berbeda soal usia minimum bayi untuk naik pesawat, dimulai dari 2 HARI (dengan surat keterangan dari dokter) Namun kebanyakan artikel merekomendasikan usia bayi setidaknya 3 bulan saat diajak jalan-jalan.

Menurut saya pribadi memang sebetulnya lebih nyaman untuk orang tuanya juga karena setelah 3 bulan orang tua akan lebih ‘punya feeling’ soal mood si bayi dan timing yang tepat, baik untuk si bayi tidur, menyusu, ganti popok, dst. Berikut sedikit catatan, tips & trik hasil baca-baca serta dari pengalaman keluarga kami ya.

  • Teorinya: Pastikan kebijakan maskapai yang akan kita gunakan terkait soal bepergian bersama bayi, misalnya umur minimum bayi dibolehkan naik pesawat, apakah harus melampirkan surat keterangan dari dokter, data diri apa yang dibutuhkan untuk si bayi check in, baby stroller policy, dll
  • Teorinya: ambil penerbangan saat jam tidur bayi, terutama kalau penerbangan jarak jauh, usahakan terbang di malam hari.
  • Namun jika nggak bisa ambil penerbangan malam seperti saya kemarin, pertimbangkan pola tidur dan rutinitas bayi sebelum tidur. Untuk soal pola atau jadwal tidur pada bayi kalau mau dibahas bisa jadi satu buku sendiri, oleh karena itu kembali ke orang tua masing-masing yang paling mengerti bayinya. Kemarin kami ambil flight sore sekitar jam 4. Pola tidur Antariksa kalau siang nggak ‘saklek’, yang penting dia kenyang dan nyaman. Jadilah sejak pagi saya hitung-hitung dan usahakan supaya sekitar 1 – 1.5 jam sebelum boarding dia baru bangun tidur lalu nggak tidur lagi sampai boarding.

    Antariksa menunggu boarding saat di Adi Sucipto, Yogyakarta

  • Pastikan bayi dalam keadaan nyaman saat boarding. 30 menit sebelum boarding saya ke nursing room untuk ganti popok, membalurkan minyak telon ke seluruh badan termasuk telapak kaki, mengecek apakah baju dan celananya kering, juga merapikan jaket Antariksa.
  • Untuk menyukseskan kedua poin sebelumnya, sebaiknya datang lebih awal ke bandara jadi nggak buru-buru.
  • Pastikan semua perlengkapan bayi yang dibutuhkan ada di cabin, but remember the rule of packing: less is always more. Berikut versi saya:
    • Pampers ganti
    • Cleaning wipes / tissue basah
    • Tissue basah
    • Minyak telon
    • Nursing cover / apron untuk menyusui
    • Satu set baju ganti plus kaos kaki
    • Mainan / teether
    • Selimut
  • Teorinya: pilih aisle seating agar lebih mudah jika harus menenangkan bayi dengan membawanya berjalan atau seandainya harus ke kamar mandi. Waktu kemarin saya dan suami nggak kebagain di aisle, tapi berhubung penerbangan jarak pendek jadi nggak masalah. Nah kalau lebih dari 2 jam sepertinya memang lebih baik di aisle sih, hehe.

    Window seating, still okay laaa~

  • Usahakan agar bayi menyusu waktu take off & landing (baik menyusui langsung ataupun dengan dot) karena aktivitas menelan bisa mengatasi sakit telinga akibat perubahan tekanan. Selain itu supaya bayi merasa lebih tenang dan nyaman juga :)
  • Try to relax and enjoy the ride! Menurut beberapa pengalaman yang saya baca, kalau si ibu sudah stress duluan, takut bayinya nangis lalu dilempari pandangan sinis oleh para penumpang lain, biasanya si bayi pun akan ikut stress. Oleh karena itu sejak panggilan boarding saya berdoa, menarik napas lalu berusaha tenang. Sambil menggendong Antariksa saya bilang, “Antariksa anak pinter yaaa… Nanti di pesawat mimi lalu bobo yaa, kita mau jalan-jalan nih…”
  • Tambahan: untuk para orang tua, buat diri sendiri juga senyaman mungkin. Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, menyerap keringat, jangan lupa makan dan cukup minum air putih ya :) Cranky mother will come with crankier baby.

Alhamdulillah selama di perjalanan pergi dan pulang Antariksanya tidur lelap setelah kenyang menyusu saat lepas landas. Oh, minyak telon, you are my savior!

Semoga bermanfaat ya catatan serta tips & triknya :)

Oh iya, kalau ada yang ingin ditambahkan atau pengalaman seru, kasih tau di bagian komentar yaaa… Siapa tau bisa jadi masukan untuk trip kami selanjutnya :D

Leave a Reply