Books, Review
comment 1

Book Review: Imaji Terindah

Sebuah kebahagiaan bagi saya menerima kiriman buku dari Sitta Karina. Pikiran saya langsung kembali ke tahun 2004, waktu saya masih duduk di bangku SMA. Yup, saya adalah pembaca novel Lukisan Hujan edisi pertama. Sebagaimana anak umur 13 tahun pada umumnya, saya jatuh cinta banget pada Diaz Hanafiah (dan seluruh keluarga Hanafiah-nya). Kalau bahasa jaman sekarangnya sih: baper berat!

Sitta Karina mampu menceritakan detil-detil setting adegan dan bikin lutut lemas. Di novelnya Sitta Karina menghadirkan sosok anak-anak konglomerat Hanafiah yang luar biasa (kaya raya, ganteng, jago ini itu, kalau jalan-jalan ke luar negeri entengknya bagaikan jalan-jalan ke dari Tebet ke Salemba), romantis dan ‘menyerah’ pada cewek yang biasa-biasa saja. Siapa juga cewek dari kalangan warga sipil biasa yang lutut dan hatinya nggak jadi lemas? :p

Kembali ke tahun 2017, saya sudah jadi ibu-ibu dengan sedikit banyak asam garam kehidupan (cieee…) dan manis pahit percintaan (ECIEEE… kenapa jadi dangdut begini?) Saya sudah jadi sosok yang lebih realistis dan tentunya sudah sadar kalau nggak ada laki-laki yang sempurna (kalau kesempurnaan cinta ya lagunya Rizky Febian, oke sip). Saya juga sudah tau kalau buku-buku yang jualan sosok pria-pria yang bikin baper are not my cup of tea anymore. (Mohon maaf ya untuk para fansnya Ika Natassa, hehehe)

Kembali ke tahun 2017, saat saya menerima novel ‘Imaji Terindah’ yang diterbitkan ulang setelah 12 tahun. Novel ini bercerita tentang Chris Hanafiah, bagian dari keluarga konglomerat Hanafiah yang belum pernah jatuh cinta kemudian menemukan maknanya pada seorang anak baru di SMA-nya, pindahan dari Osaka bernama Kianti atau disapa Aki. Cerita pun bergulir seputar rasa penasaran Chris pada Kianti yang ceria namun rapuh, pertemanan Chris dengan Alde (keduanya tergabung dalam klub otomotif di sekolah) dan Arimbi (cewek populer di sekolah, pentolan cheerleaders team, dst), dan potongan-potongan perkenalan pada anggota keluarga Hanafiah lainnya.

Saya merasa harus membaca buku ini dengan kacamata anak SMA dan menemukan saya bernostalgia dengan diri saya 14 tahun yang lalu. Saya berusaha melupakan rasa sinis pada kisah cinta yang terlalu manis and just… let it flow. Saya membayangkan diri saya sebagai Kianti (Aki) dan memang beberapa part bikin senyum-senyum sendiri membayangkan Chris. Walaupun agak terganggu, saya juga menerima kenyataan bahwa untuk anak SMA, brand adalah hal yang penting untuk dideskripsikan (contoh: sweater Urban Outfitters, atau sandal Steve Madden).

Walau demikian, sekalipun dengan kacamata SMA, saya merasa bahwa jalan cerita dan kisah kasih Chris dan Aki terlalu cepat. Saya tidak menemukan ‘gong’ kejadian yang membuat keduanya saling jatuh cinta tanpa pandang kelas sosial.

Kesimpulannya, saya cukup menikmati nostalgia ini. Saya salut banget sama Sitta Karina yang punya kerangka saga yang kuat. Hubungan karakter pada seri Hanafiah terasa kuat, konsisten dan smooth. I guess it’s a great idea to republish the series karena masih relevan kok untuk anak zaman sekarang (dengan beberapa modifikasi). Kalau saya nggak salah, yang sudah diterbitkan kembali adalah Lukisan Hujan, Imaji Terindah dan Dunia Mara.

Recommended untuk ibu-ibu untuk yang ingin bernostalgia seperti saya untuk santai-santai sambil me time, supaya nggak stress baca buku parenting terus-terusan. Seperti yang saya bilang, karena masih relevan dengan situasi anak zaman sekarang, jadi oke juga untuk dedek-dedek SMA :3 Above all, pastinya harus dimiliki oleh para penggemar Sitta Karina dan Hanafiah klan.


 

Detail

Paperback, 290 pages
Published: December 2016 by Literati (first published 2005)
Original Title: Imaji Terindah
ISBN: 139786028740609
Series: Hanafiah

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply