Motherhood, Review, Wanderlust
Leave a comment

Jalan-Jalan Bersama Antariksa: Singapura (Part 2)

Mumpung belum lupa dan belum kelamaan, saya mau lanjut cerita jalan-jalan ke Singapura bersama Antariksa yang usianya 5 bulan.

Baca juga: Jalan-Jalan Bersama Antariksa: Singapura (Part 1)

Oh iya, ngomong-ngomong soal 5 bulan nih, saya cukup sering bertukar cerita dengan teman-teman yang suka traveling bareng anak. Menurut mereka traveling dengan anak pada tiap jenjang usia ada suka dukanya masing-masing. Cukup banyak yang bilang kalau usia 3-6 bulan adalah usia yang cocok untuk mengajak bayi jalan-jalan karena belum terlalu banyak ‘pecicilan’ kesana kemari dan masih usia ASI / PASI eksklusif, jadi nggak perlu repot bawa bahan + perlengkapan untuk makan makanan tambahan. Namun berhubung pada umumnya bayi usia 3 – 6 bulan belum bisa duduk tegak tanpa bantuan, jadi lebih ‘tricky’ saat memangku sepanjang penerbangan dan menggendong kalau lagi ngambek sama strollernya.

Day 2 – Peranakan Museum, Strolling Around Albert Center & Bugis, i Light Marina Bay

Hari kedua di Singapura bertepatan dengan hari Jumat. Saya dan suami memutuskan untuk lebih santai, jadi kami jalan-jalan ke satu spot saja lalu pulang di siang hari untuk istirahat, makan di hotel dan suami bisa Shalat Jumat di sekitar hotel.

Spot yang kami pilih adalah Peranakan Museum. Sebetulnya saya sudah pernah kesini, dan ini adalah salah satu museum favorit saya di Singapura. Peranakan Museum ini bercerita soal budaya peranakan (keturunan perantau dari Cina di tanah Melayu). Berhubung tempatnya nggak jauh, kami memilih untuk jalan kaki. Sebelum berangkat kami sarapan dulu di hawker halal tepat di depan hotel. Saat sarapan pula kami sadar kalau langit mendung dan ramalan cuaca mengatakan akan turun hujan.

Jadi strollernya Antariksa kami plastikin, hahaha seru abis!

Antariksa happy dan anteng-anteng selama di perjalanan. Saya langsung geer dan mengambil kesimpulan bahwa anak ini bakal suka jalan-jalan irit.

Sesampainya di Peranakan Museum ternyata Antariksa ketiduran! :D Sedikit informasi, peranakan museum ini terletak di Armenian Street, buka dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Museum ini terdiri dari 3 lantai, mencakup permanent & special exhibition. Lantai 1 menceritakan sejarah dan asal-usul serta ragam peranakan. Lantai 2 & 3 menceritakan soal pernikahan, bahasa, pakaian, aspek agama dan spiritual, serta masakan. Museum ini sebetulnya sederhana namun tetap memiliki multimedia yang memadai untuk memberikan informasi. Museum ini juga cukup interaktif untuk anak-anak dengan adanya buklet dan aktivitas khusus anak-anak (misalnya mengumpulkan stempel dengan simbol-simbol khas peranakan yang tersebar di seluruh penjuru museum).

Sayangnya Peranakan Museum ini nggak begitu stroller friendly karena tempatnya lumayan sempit dan terdapat undak-undakan antar galeri. Sebetulnya dari pintu depan pun kami sudah harus mengangkat stroller untuk melewati tangga depan, namun tentu tersedia lift yang menghubungkan lantai 1 -3. Oh iya, di sini pun nggak terdapat nursery room (CMIIW).

Well, not bad lah ya Nak untuk kunjungan perkenalan kepada museum :) Semoga Antariksa kelak bisa menjadi orang yang menghargai sejarah dan kebudayaan nasional hingga dunia ya.

*

Setelah Peranakan Museum, kami kembali ke hotel seperti rencana awal. Antariksa menyusu dan istirahat, saya makan siang, dan suami Jumatan di masjid terdekat. Menurut saya, istirahat siang adalah hal yang cukup penting waktu jalan-jalan bersama bayi supaya moodnya tetap bagus.

Sorenya kami kembali jalan-jalan. Tujuan utamanya adalah iLight Marina Bay yang diadakan 3 – 26 Maret 2017. iLight Marina Bay ini sebetulnya merupakan festival yang memiliki rangkaian program dan instalasi seni dengan lighting sebagai unsur utamanya. Program utamanya adalah pertunjukan tata cahaya pada landscape gedung-gedung di Marina Bay Waterfront. Ya, kurang lebih seperti Symphony of Lightsnya Hong Kong.

Kembali kami memutuskan untuk: JALAN KAKI. Hahaha. Sebetulnya ya memang karena menurut kami Singapura ini tempat yang enak banget untuk jalan kaki dan ‘menikmati santai’ di tengah hiruk pikuk kota sambil photography street hunting (yang mana hampir mustahil kalau jalan-jalannya sama bayi, hehe). Kami sempatkan melewati Albert Center & Bugis Street sebelum ke Marina Bay.

*

Di perjalanan menuju Marina Bay, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Raffles City Mall untuk….. ke nursery room. Salah satu keuntungan jalan-jalan di pusat kota Singapura adalah banyaknya mall yang juga memudahkan para ibu mencari tempat ‘singgah’ untuk menyusui dan ganti popok anak, hehe. Selain itu kami sempat juga mencari cemilan karena tau makan malam bakalan masih lama.

Sebetulnya saya tau banget kalau Antariksa harus mulai kelonan dan tidur jam 7 malam. Namun saya pikir sayang juga kalau melewatkan lighting show yang nggak selalu ada. Belum tentu ke Singapura lagi dalam waktu dekat kan? Jadi kami nekad ‘melanggar’ jam tidurnya si Antariksa. Maaf ya, Nak. Huhuh.

Bisa ditebak, begitu sampai sana dan baru nonton pertunjukan 5 menit, Antariksa nangis-nangis minta ‘kelonan’ :’))) Ditenangkan dengan cara apapun nggak mau, kecuali digendong saya. Diajak foto pun begini hasilnya:

G A G A L D E H :p

Kami pun menyerah dan memutuskan untuk pulang. Namun seperti yang saya bilang, lewat dari jam tidurnya, Antariksa pun nggak mau diam di stroller. Akhirnya saya harus menggendong si bayi 10 kilo ini all the way back to hotel. Haha. Kalau diingat-ingat sekarang lucu juga, bagaikan ada sound effect “TETOT!” Namun saya menikmati banget setiap momen seperti ini. I guess I have to say that when we’re traveling with baby, the baby is already half of the adventure and the joy! :D

*

Demikian part 2 perjalanan kami. Ditunggu ya part 3-nya :D

Leave a Reply