Motherhood, Wanderlust
Leave a comment

Jalan-Jalan Bersama Antariksa: Singapura (Part 3) -END

Tulisan ini akan menyelesaikan seri dari jalan-jalan bersama Antariksa ke Singapura. Kali ini saya akan menulis tentang hari ke-3 yang diisi dengan melaksanakan misi kami yaitu ke ‘NASA – A Human Adventure’ Exhibition dan hari kepulangan kami ke Indonesia.

Baca juga:
Jalan-Jalan Bersama Antariksa: Singapura (Part 1)
Jalan-Jalan Bersama Antariksa: Singapura (Part 2)

Day 3 – NASA Exhibition @ ArtScience Museum, Strolling Around Marina Bay, Last Minutes Escape to Bugis Street

Tiba juga saat untuk menjalankan misi kami, mengenalkan Antariksa pada dunia per-astronotan, huahaha. Setelah sarapan take away kaya toast ala Singapura, kami langsung naik bis ke ArtScience Museum di Marina Bay.

Kami sengaja datang di hari Sabtu karena untuk pameran NASA ini sudah masuk hari-hari terakhir dan juga masa ‘Buy 1 ticket get 1 ticket’ :D Saya bahkan sudah beli in advance secara online tiketnya supaya nggak ngantri. Ternyata strateginya tepat karena museum ini dipastikan penuh setiap weekend!

Actually the exhibition was lower than our expectation. Areanya nggak terlalu besar dan koleksinya nggak sebanyak yang kami bayangkan. Namun demikian cukup menarik kok membaca kisah-kisah astronot dan kosmonot sejak masa perang Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Salah satu hal nggak penting yang saya dan suami bahasa adalah: bahwa propaganda Uni Soviet dan Yuri Gagarin (termasuk tanda tangannya!) lebih keren kalau head to head dengan NASA, hahaha. Ditampilkan juga replika beberapa bagian dari roket, lunar rover, bahkan kokpit pesawat luar angkasa. Dipajang juga contoh kostum para astronot, perbekalan makanan mereka, sampai-sampai ada juga… toiletnya astronot.

Apakah Antariksa excited? BELIAU TIDUR, WAHAI SAUDARA-SAUDARA :’))

Mungkin karena memang sudah jam tidurnya ditambah suasana yang adem dan remang-remang kali ya, jadi kondusif untuk tidur walaupun agak ramai. Namun demikian kami berdua senang misi utama sudah tercapai. Mungkin next target ke Houston ya, Nak :p

Setelah keluar dari Art Science Museum kami mampir ke shopping area Marina Bay Sands untuk makan siang dan selonjoran. Suami janjian dengan salah seorang teman lamanya, Rizky, yang menikah dengan warga lokal Singapura. Kami pun melanjutkan ngobrol sambil jalan untuk mencari laksa.

Seperti yang sudah saya sebutkan, ketika traveling, saya selalu tertarik meeting and talking with the locals. Ketika ngobrol langsung, banyak hal baru yang nggak selalu bisa kita ketahui dari browsing internet. Misalnya nih, kami ngobrol soal harga tempat tinggal di Singapura. Pretty sure we all know that it’s crazy expensive (sekitar 2.5 milyar untuk 1 bed room apartment), but how exactly expensive is that for Singaporean? Kami juga ngobrol soal sistem permanent residence, KPR, jaminan kesehatan di Singapura dan masih banyak hal lain yang bikin saya makin kagum sama negara yang luasnya cuma ‘seuprit’ ini.

Definitely a well spent Saturday

 

*

Setelah kembali ke hotel, memandikan Antariksa, dan sholat Maghrib, saya sempat kabur ke Bugis street. Bugis Street ini adalah surganya oleh-oleh souvenir Singapura (yang sudah pasti bukan buatan Singapura, hahah) Sebagaimana orang Indonesia yang baik, saya mau mencarikan oleh-oleh untuk Mbak ART di rumah (walaupun sebetulnya si Mbak sudah pernah kerja di Singapura). Saya pun membiarkan suami menjaga Antariksa yang sudah tidur.

Begitu di Bugis Street saya ingin cepat-cepat kembali ke hotel. Mungkin ini yang disebut insting seorang ibu. Begitu saya kembali ke hotel, Antariksa ternyata sudah bangun dan nangis-nangis ‘bombay’. Moral of the story: Nggak heran kalau ada ibu-ibu yang jadi avid online shopper, lah pergi belanja sebentar aja nggak tenang :p

Hari ketiga pun saya tutup dengan… packing. #nasibibuibu

Day 4 – Back to Jakarta (or Bekasi? Or Should we say Tangerang?)

Kami memilih untuk pulang hari Minggu pagi. Harapannya supaya nggak terlalu susah mencari taksi begitu sampai di Bandara Soetta. Namun yang saya lupa pertimbangkan adalah: berarti harus bangun super pagi untuk siap-siap plus harus spare waktu kalau misalnya ternyata si bayi rewel.

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Antariksa tidur di stroller selama perjalanan ke Bandara dengan MRT. Kami cukup awal sampai Changi sehingga ada kesempatan untuk menyusui, membalurkan minyak telon, dan mengganti popok Antariksa. Pokoknya membuat dia nyaman deh. Saking bersyukurnya kami Antariksa nggak rewel, saya dan suami berkesimpulan kalau Antariksa ini memang doyan jalan-jalan :p

Baca juga: Bepergian dengan Pesawat Bersama Bayi

Di Changi kami menyempatkan sarapan dan pijat gratis di mesin OSIM terdekat! Enak banget :’)) Duty free shopping? Lewat!

Demikian cerita liburan kami berakhir, ditutup dengan gambar kenikmatan duniawi waktu duduk di kursi pijat

*

Kesimpulannya: Singapura baby & kids friendly banget, cocok untuk liburan bersama bayi. I’m so glad we did this trip and we managed to stick with the budget. Intinya jalan-jalan hemat tetap bisa dilakukan bersama bayi, ya walaupun nggak backpacking-backpacking amat sih. Nanti saya akan tulis post khusus tips-trik traveling dengan bayi (infant) <6 bulan yaaa :)

Cheers & catch you later! 

Leave a Reply