Motherhood, Thoughts
comments 5

Apakah Menjadi Ibu di Rumah Artinya Mundur Dalam Aktualisasi Diri?

Hari Sabtu lalu saya ketemuan dengan rekan seperjuangan waktu kerja sebagai wellsite geologist dulu. Berhubung jumlah wellsite geologist perempuan nggak banyak, mau nggak mau kami jadi dekat satu sama lain (eh, saya sih berasa dekat banget ya, mudah-mudahan kalian merasakan hal yang sama HAHA *sedih dong kalau nggak diakui*).

Sudah 4 tahun berlalu sejak terakhir saya naik rig dan kalau dingat-ingat jadi kangen, hehe. Mungkin nggak semua orang suka kerja di rig tapi saya termasuk yang bisa menikmati. Saya introvert, suka kerja di malam hari, dan saya punya hobi yang bisa dilakukan di rig kalau bosan: baca buku, menulis, dan gambar-gambar. Saya juga menikmati banget hidup minimalis, nggak usah repot dandan sebelum kerja, baju juga cukup 2 stel, kantor jaraknya cuma beberapa langkah dari kamar dengan stok kopi dan cemilan unlimited, plus makanan selalu tersedia 4x sehari. Gaji awet, cuti pun banyak, hehehe.

Kantor waktu di rig.

Tentu yang diingat-ingat  di atas adalah yang indah-indahnya. Lain waktu lagi ya cerita soal tekanan dan resiko kerja yang super tinggi :p Ya namanya juga lagi kangen, pasti yang diinget yang indah-indahnya dong. *kasih mic buat curhat ke para jomblo yang lagi kangen sama mantannya*.

Ahem.

When I was 22!

Sekarang saya dan geng wellsite geologist wanita yang seangkatan sudah pada ‘pensiun’. 4 sudah berkeluarga dan 3 sudah punya anak. Kalau ketemuan pasti ada sesi ngetawain masa lalu. Ya, masa-masa galau mencari pasangan hidup (alhamdulillah ya ketemu…) atau masa hidup foya-foya.

“Gila ya, kalau dipikir-pikir dulu kita keren banget. Berangkat kerja naik helikopter segala. Sekarang ya mah gojek aja lah.”

“Gila ya, dulu kita jagain sumur jutaan dolar. Sekarang beli kerupuk di tukang sayur aja dibanding-bandingin mana yang lebih murah.”

“Haha, duit belanja kita sekarang mah buat beli sekrup di rig aja ga cukup.”

“Dulu gue deal-dealan sama drilling mau hemat berapa ratus ribu dollar. Sekarang nyatet pengeluaran di Excel beda seratus ribu rupiah aja mikir keras kemana, tau-taunya lupa abis jajan Jco, haha.”

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Walaupun lucu-lucuan namun kadang bercandaan seperti itu menyiratkan sebuah pertanyaan: apakah dengan jadi ibu dan kerja di rumah saya jadi selangkah mundur?

Saya yakin saya nggak sendirian menghadapi pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang datang kepada para ibu yang berhenti bekerja, meninggalkan potensi karir yang bagus untuk stay full time di rumah menjaga anak dan mengurus keluarga. Pertanyaan yang mungkin datang saat siang sudah datang, rumah berantakan, ibu belum mandi dan anak nggak mau makan. Pertanyaan yang berkembang pelan-pelan saat melihat timeline teman-teman seangkatan yang karirnya super cemerlang.

(baca juga:  ‘The Others’ Highlights and Our Behind the Scenes’)

Salah satu dari sedikit foto yang sempat diambil di rig floor

Adalah tantangan tersendiri bagi para ibu ketika perbandingan bukan dilakukan dengan orang lain tapi dengan diri sendiri di masa sebelum menjadi berkeluarga. Begitu menjadi punya anak segala rencana dan prioritas pasti berubah. Walaupun nggak ada urutan prioritas yang baku, saya yakin semua ibu ingin yang terbaik untuk anaknya. Apakah definisi ‘baik’ itu? Tentu kembali ke masing-masing orang. Ada yang memilih melanjutkan bekerja, ada yang memilih tidak.

Ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan kerja di rumah, saya sudah menduga bahwa saya akan mempertanyakan tersebut di kemudian hari: apakah saya mundur dalam aktualisasi diri?

Saya dan Cinoy, jarang-jarang naik bareng hihi

Hampir setahun saya berhenti kerja dan sesuai dugaan saya, setiap hari pertanyaan itu muncul. Di pagi hari saat saya mengantar suami sampai pagar untuk berangkat ke kantor, di siang hari waktu saya bablas ketiduran sambil menyusui, di sore hari waktu saya nggak berhasil menyelesaikan pesanan gambar, ataupun di malam hari kalau saya nggak berhasil membubuhkan ceklis di to-do-list saya. I’ve been trying to figure out how to be a super mom, a super working at home mom just to prove that I’m NOT a step backward.

Pertanyaan ini di satu sisi menjadi motivasi besar bagi saya untuk produktif bekerja dari rumah, berkarya, belajar bisnis, dan menjadi istri dan ibu yang hebat. I’m not perfect but I make sure I’m doing my best. Namun apa yang terjadi ketika saya nggak berhasil melakukan apa yang saya targetkan? I feel like I’m saying ‘yes’ to the question.

Pada titik ini saya merasa ada yang nggak betul dengan pemikiran saya, trying hard to compete with my own past.

Saya pikir-pikir lagi, sebetulnya nggak adil dan nggak sehat kalau saya membandingkan aktualisasi diri saya sebagai pekerja kantoran yang belum menikah dengan saya sebagai ibu rumah tangga beranak satu. Nggak apple-to-apple kalau saya harus membandingkan nilai menjaga sumur minyak jutaan dolar dengan menjaga anak saya. Jelas saya bicara pada skala yang berbeda saat menyebutkan penggunaan spreadsheet (Excel) untuk memperkirakan cadangan gas dan penggunaan software yang sama untuk membuat tabel pengeluaran sehari-sehari.

Saya pikir-pikir lagi, menjadi ibu adalah bentuk aktualisasi diri yang tidak dapat dibandingkan-bandingkan. Tidak dapat dibandingkan dengan diri sendiri (di masa lalu) ataupun dibandingkan dengan orang lain. Kalau kembali ke definisi, mengutip dari Wikipedia, ‘Aktualisasi Diri’ adalah ‘Ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya.’ Correct me if I’m wrong, tapi aktualisasi diri mungkin memang seharusnya menjadi hal yang personal.

Saya pikir-pikir lagi, fase hidup dengan bekerja under pressure di tengah laut (which I’m pretty proud of) atau menganalisis fluida 3000 meter di bawah permukaan bumi (which sounds pretty cool, right?) tersebut sudah saya selesaikan dengan baik, dengan penuh dedikasi serta tanggung jawab dan harusnya semua pengalaman tersebut saya jadikan bekal untuk menjalankan peran saya saat ini sebagai seorang istri dan ibu di rumah, bukannya malah membuat saya merasa ‘turun tingkat kekerenan’.

Mungkin bisa dianalogikan begini. Seorang lulusan Fakultas MIPA jurusan astronomi kemudian bekerja menjadi management trainee di sebuah bank. Selama kuliah yang dipelajari hitungannya selangit (literally). Namun begitu bekerja di bank hitungan yang dipakai sebatas ilmu hitungan bumi saja. Apakah dia kemudian bisa dikatakan ‘turun tingkat’ atau ‘mundur’? Menurut saya sih nggak, selama dia tetap bermanfaat bagi orang lain. Lalu ilmu hitungan langitnya? Ya walaupun sudah nggak dipakai tapi tetap merupakan modal besar untuk mendukung dia menyelesaikan soal hitung-hitungan yang membumi kan?

Jadi kalau saya pikir-pikir dan pikir-pikir lagi, nggak ada yang namanya kemunduran dalam aktualisasi diri kalau saya tetap melakukan yang terbaik. It’s just, a matter of growing up. Things change, priorities get rearranged, sekarang saatnya saya aktualisasi diri sebagai ibu dengan segala kemampuan saya untuk berkarya di rumah dan menginspirasi keluarga tanpa harus membanding-bandingkan dengan apa yang saya lakukan waktu bekerja kantoran.

I’m utterly grateful that I had great adventures so I can tell my kids later, “You, know, there were times I & your dad went to work by helicopter. You guys should do better, go to work by rocket, maybe?”

*hahaha terus menekan anak :p*

To be honest, I love being on a helicopter.

Well, to all moms, no matter what our choices are, we should keep on moving forward and we keep on shining. Maybe we aren’t as fast as we used to be, but this time we will go long long way, with our family.

Cheers to the present! <3

Saya, Nadia & Cindy sekarang.

Advertisements

5 Comments

  1. keseeeeelllllll knp ada bandingin harga kerupuk segalaaaaaa~~

    menohok huahahahhahaha berartibga cm gue diang ya itu hahahahahahahah udah mah ditanya masih baru apa ngga, trus nyari yg murah wkwkwkwkwk

    btw, keren tulisannya iniiiii *ciyuuummm *ciyum antariksa maksutnya *lhaaa ??

  2. Puty, buat seorang ibu yang memutuskan tetep bekerja kantoran pun ga luput dari pertanyaan yang sama. Bekerja saat single, belum punya anak, dan udah punya, berbeda rasanya. Kadang ngerasa ga all out ke kantor lagi & segala passion2 yg ga seberapi2 sebelumnya.

  3. I feel you mbak put!! sedang dihadapkan dengan 3 minggu menjelang cuti melahirkan dan prospek being stay home mom :3

  4. even setelah kamu jadi makmak sama kaya aku, ttp aja mba putynya lebih kewl dan wise! Zbl! IRI (as always [><,] ) #emangajakomitbuatirisamaputi ;p

  5. Salam kenal mba puty,aku hilma ibu satu anak(8mo).. thanks buat sharingnya yaa.. Honestly, you inspiring me.. Mau bgt bisa bermanfaat juga buat manusia walaupun jadi ibu rumah tangga, paling ga dengan menulis kyk mba put :)

Leave a Reply