Thoughts
comments 5

Mungkin Kita Memang Kampungan dan Harus Jalan-Jalan ke Luar Negeri Untuk Belajar Beberes Meja Setelah Makan

Dua hari yang lalu saya membaca sebuah artikel soal turis Indonesia yang nggak membereskan meja setelah makan di restoran yang kemudian menjadi viral (artikel lainnya di sini). Saya nggak kaget kalau orang Indonesia melakukan hal ini. Saya malahan kaget waktu tau kalau katanya banyak sekali yang berkomentar kalau turis-turis Indonesia tersebut kampungan. Setau saya, kecuali di IKEA, orang Indonesia nggak pernah ‘dipaksa’ membereskan meja mereka setelah makan di restoran.

Bukannya saya mau membenarkan kelakuan tersebut, namun faktanya orang Indonesia memang terbiasa dengan sumber daya manusia yang ‘berlimpah’ baik jumlahnya, waktunya dan tenaganya. Selalu ada tenaga kerja yang bisa dibayar dan salah satu tugasnya adalah untuk membereskan jejak makan para pelanggan baik di meja maupun di lantai.

Saya pribadi biasanya bebersih ‘seadanya’ dengan tissue yang tersedia lalu menumpuk alat makan yang terpakai untuk menghemat beberapa detik waktu milik pramusaji yang akan membereskan meja kami. Yah, setidaknya walau nggak sampai beres (biasanya karena memang nggak selalu tersedia tempat sampah yang dedicated atau rak untuk mengembalikan baki dan peralatan makan) tapi nggak berantakkan banget lah. Beberapa kali saya mendapat komentar, “Biarin aja lah, Put.” Bahkan pernah saya diledek, “Sekalian ya, Put, cuci piringnya biar gratis.” I know it was a joke, but it hinted that I did something uncommon.

Nggak usah ngomongin piring bekas dulu deh. Coba ke coffee chains di Jakarta, kalau berdasarkan pengalaman saya sih, saya masih sering lihat gelas plastik / kertas yang kosong di atas meja plus sampah kertas bekas pembungkus sedotan yang baru ditinggalkan begitu saja. Padahal kalau sekedar gelas plastik kan apa susahnya sih dibuang sendiri? Tentu sebagai SOP, sampah-sampah tersebut akhirnya dibersihkan oleh pegawai.

Apa kita pernah lihat ada pegawai Indonesia yang berani menegur, “Pak / Bu / Mbaksis / Masbroh, dibuang sendiri dong sampahnya… Nggak inget apa ya pelajaran PPKn dulu?” Saya sih belum pernah dan saya pikir-pikir kalau ada yang berani menegur jangan-jangan malah ‘disemprot’ si customer yang sudah ‘mahal-mahal’ beli kopi 50 ribuan.

Well, mungkin masih ada yang menganggap perihal beberes meja atau buang sampah ini hal yang sepele, tapi kalau menurut saya ini merepresentasikan nilai dasar yang sangat penting dalam diri seseorang dan masyarakat: tanggung jawab. Mungkin ini  juga bisa menjawab pertanyaan kenapa negara kita nggak bisa semaju Jepang. Ya mungkin karena hal-hal-yang-dianggap-sepele-tapi-sangat-penting ini: tanggung jawab, rasa menghormati dan menghargai orang lain (termasuk peran, waktu dan tenaganya), dan tentunya disiplin.

Ya mungkin memang orang-orang Indonesia harus ke Jepang dulu kali ya supaya belajar? :p

Tenang, walau saya sudah belajar beberes meja setelah makan di rumah saya di Bekasi, saya juga harus jauh-jauh ke Trondheim, Norwegia untuk belajar… turun bus. Hahaha.

Waktu itu adalah pertama kalinya saya ke Eropa. Sebelumnya saya sudah pernah ke Malaysia dan Singapura namun biasanya kemana-mana naik LRT atau MRT yang selalu berhenti di setiap stasiun. Ceritanya saya mau pulang ke rumah host family saya dari tempat acara student festival. Biasanya bus selalu ramai, namun waktu itu kebetulan sepi dan nggak ada yang turun bareng di halte tujuan saya, Høiset. Bus pun dengan santai melewati halte tempat saya harusnya turun. Saya dong yang nggak santai. Saya langsung ngadu ke supir bus yang intinya, “Loh, kok lo nggak berhenti di Høiset?” Langsung dong saya dibentak, “HEY, I didn’t stop because NOBODY PRESSED THE BUTTON. You didn’t press the button, DO YOU THINK I CAN READ YOUR MIND?”

Lah, ternyata kalau mau turun bus harus pencet bel ya :’))) Lah, ya maklum dong, seumur-umur saya mah kalau naik bus kota kan selalu ada kondektur yang kasih aba-aba (dan perhatian buat yang merasa kurang perhatian) sambil teriak, “YAK, SALEMBA, SALEMBA, SALEMBAAA… Ati-ati Neng awas keserimpettt… Kaki kiri dulu Nenggg…”

Kampungan? Iya sih waktu itu malu banget saya, tapi ya kan jadi belajar.

Nah, ini TKPnya… saya sampai cari di Google Map segala :p

Kesimpulan saya: Pada akhirnya diri kita sendiri yang akan memutuskan, mau belajar lebih beradab atau nggak. Mau tetap kampungan atau mau jadi lebih sophisticated ala world citizen. Mau mengambil pelajaran dari traveling itu sendiri atau sekedar mengambil foto-foto untuk Instagram.

Mungkin kita memang harus jalan-jalan ke luar negeri untuk belajar hal-hal yang sebetulnya sederhana.

Masa iya?

Filed under: Thoughts

by

Puty Puar. F/27. Indonesian. Former rocker, blogger, freelance illustrator, book enthusiast, who is running little business while homemaking. Started this blog in 2002.

5 Comments

  1. kiya says

    I am so happy to find this post! It has been long since my first time being commented for simply clearing the table, and almost a year since my 2 km unintended walk to Anchorpoint as I didn’t know I was supposed to pres the button :’) will surely share this!

  2. lala says

    Betul sekali mbak, kalau kesimpulan saya dan suami, orang Indonesia itu terbiasa dilayani (saya nggak tau ada hubungannya dengan sejarah atau tidak ya). To be frank ya, mulai dari hal kecil membereskan makan di restoran sampai mengerjakan pekerjaan rumah!

    Btw, di Burger King juga ada tempat pembuangan sampah dan penyimpanan baki mbak. Tapi sayangnya masih banyak orang yang ninggalin bekas makanan di meja begitu saja.

  3. kak puty, ngomongin soal ngebiarin sampah bekas makan di meja, aku gemesnya sama yang suka buang sampah bekas makan/minum di bawah kolong tempat duduk angkot :’) dan nyambungin lagi sama nggak berani menegur, aku juga nggak berani negurnya, takut berantem, padahal bukan kerjaanku juga ngebuangin sampah di angkot haha.

    suka banget sama tulisan ini. share this already on my timeline. semoga awareness orang indonesia soal bertanggung jawab and play by the rule (in this case, ikutin kebiasaan negara tempat tujuan traveling) juga makin tinggi ya karena toh nggak ada yang salah dengan adopting the goodness bits from what we have seen outside the country to our own :)

  4. Menurut aku ini masalah budaya & semua kembali lagi sama diri orangnya masing2, karena ada orang yg aku kenal kalau di LN dia bersihan banget, taat peraturan dll, pas balik ke Indonesia ya balik lagi seperti orang kebanyakan yang ngga ngurusin sampah dll.

    Budaya orang Indonesia yang memberikan service berlebihan dibidang jasa emang bikin kita malas, dan bukan hanya orang Indonesia aja, orang2 bule di kantor aku yg kelamaan tinggal di Indonesia pada males pulang ke negaranya karena disini SDM berlimpah dan mereka dilayani dengan sedemikian rupa bagaikan raja/ratu :D #justsaying

Leave a Reply