Thoughts
comment 1

Belajar Tentang Mendengarkan Suara Hati di Patas Tadi Pagi

Sejak punya anak dan mudahnya menemukan ojek / taksi online, saya mulai jarang naik transportasi umum seperti angkot dan bus. Saya ini sebetulnya ‘penggemar berat’ angkot dan bus kota dengan segala lebih dan kurangnya. Biasanya dari rumah saya akan naik ojek ke gerbang kompleks, naik angkot sekali ke halte terdekat yang dilewati bus berbagai jurusan (dari Senen sampai Kalideres) lalu naik bus. Mungkin ada yang mikir, “Yah, ribet banget… Kenapa nggak naik taksi online aja? Apalagi kalau ada promo.”

Tanpa bermaksud sombong, saya harus bilang kalau saya nggak keberatan secara finansial untuk naik taksi baik konvensional maupun online. Apalagi sekarang saya terhitung jarang pergi-pergi. Namun kalau pergi sendirian (nggak bersama anak atau orang tua), saya berusaha untuk bepergian dengan angkot atau bus seperti biasa. Alasan kedua adalah: saya mencoba untuk nggak mengeluhkan kemacetan sementara saya merupakan bagian dari kemacetan itu sendiri.

Alasan pertamanya: sedikit banyak saya selalu belajar tentang kehidupan di transportasi umum.

Tadi pagi saya janjian dengan teman untuk sarapan di Pacific Place. Berhubung saya sendirian dan SCBD gampang banget dijangkau dengan bus patas jurusan Blok M, jadilah saya naik patas AC05. Perjalanan kali ini membuat saya bertekad untuk nggak terlalu banyak berpikir sebelum beli sesuatu di pedagang kecil.

Flash back ke sebulan dua bulan lalu, saya membaca ‘status’ milik teman baik saya, Mbak Anis. Status tersebut kurang lebih menceritakan bahwa Mbak Anis ini sering beli sesuatu yang dia sebetulnya nggak perlu (seperti tissue atau amplop) cuma karena kasihan sama yang jualan. Sampai pada hari tersebut dia mendapat hal yang nggak disangka-sangka.

Status tersebut ‘menyentil’ dan menginspirasi saya, seperti ada yang membisiki telinga saya, “Tuh, nggak salah kok beli sesuatu kalau memang ikhlas tujuannya ‘membantu’. Kenapa sih kok aku tuh kalau ngeluarin uang yang jumlahnya sebetulnya nggak seberapa tapi kok ya dipikir-pikir banget? Coba aja giliran belanja buku atau makan di kafe yang fancy-fancy nggak pakai banyak mikir, padahal ratus-ratusan ribu sekali makan.”

Kembali ke pagi tadi waktu saya naik bus patas, saya sudah duduk manis waktu ada pedagang yang menjual mainan yang bisa dirangkai menjadi rumah-rumahan. Harganya cuma Rp10.000 dan warnanya terang mencolok banget. Saya langsung menuduh dalam hati, “Wah, ini mah udah pasti lah toxic bangettt… nggak mungkin Antariksa saya kasih ginian.”

Namun di hati saya kok seperti ada yang mengingatkan, “Katanya terinspirasi mau beramal dengan beli sesuatu di pedagang kecil?”

Lalu di otak saya ada yang menjawab, “Lah, beli beginian terus mau diapain di rumah?”

Lalu di hati ada yang berbisik lagi, “Kasihan tau… udah beli aja lah… Coba bayangin ya, Rp10.000 tuh untung buat si yang jual paling berapa ribu? Beliau juga mungkin ditunggu anak istrinya di rumah…”

Begitu sibuk saya mikir akhirnya si penjual mainan tersebut lewat dan turun keluar bus. Saya nggak jadi beli barang dagangannya. Jujur, saya pun menyesal. Seperti ada bisikan lagi, “Tuh, kan… kebanyakan mikir sih. Rp10.000 tuh nggak akan bikin kamu miskin. Ya kalau nggak mau mainannya dikasihin aja ke anak jalanan yang lain. Kan jadi amalan lagi.”

Sesampainya di Pacific Place yang sejuk dan penuh dengan para pekerja kantoran yang rapi dan modis, saya melupakan penyesalan saya di bus patas tadi. Saya senang banget bisa ketemuan dengan teman saya dan cerita-cerita banyak hal. Saya juga senang bisa mampir ke toko buku / concept store favorit saya, Aksara untuk window shopping. Sebelum pulang, saya mampir ke Beard Papa untuk beli kue sus favorit saya tersebut. Rp.102.000 untuk 6 buah kue sus, dan tentu saya beli tanpa banyak mikir-mikir. Lalu saya mampir untuk mencoba produk baru berupa cold pressed-coffee yang sebotol kecilnya dihargai 50.000-an. Apakah saya beli pakai banyak mikir-mikir?

Saya tau sampai di sini pasti ada teman-teman yang mau komentar, “Loh ya beda donggg… kalau beli makanan di mall kan memang kualitasnya terjamin. Kita nggak mau beli barang dari pedagang asongan bukan soal harganya, tapi kan soal keamanannya, dst dst…” Mungkin ada juga yang mau berkomentar, “Lah, ya nggak bisa dong kalau semua dagangan mau kita beli? We can’t save everyone from poverty by buying whatever they sell.” Mungkin juga ada yang berpikir, “Kalau kita beli dari pedagang kaki lima liar, bukannya mereka akan selamanya jadi pedangang kaki lima liar dan bikin sumpek kota kita?”

Iya, iya, saya tau. Saya juga sering mikir gitu kok. Beli barang yang dijual pedagang kecil nggak akan menyelesaikan masalah, apalagi memberantas kemiskinan. Namun selama niatnya baik dan ikhlas, ini adalah sebuah bentuk kebaikan dan undangan untuk berbuat kebaikan seringkali datangnya dari hati, bukan dari pikiran.

Dan pagi ini saya sadar bahwa saya sering nggak jadi berbuat kebaikan karena terlalu banyak mikir. “Aduh, ini ojek pangkalan kalau dilebihin terus nanti kebiasaan nggak ya?” atau “Aduh, ini kalau masukin uang ke kotak amal ini nanti betulan dikasih ke yang berhak atau malah buat pengelola mall ya?” atau “Kalau ngasih makanan ke yang bebersih ini, nanti dia bakal berharap-harap kita kasih terus nggak ya?”

Kenapa kalau berbuat amal kebaikan kita banyak banget mikirnya nanti jangka panjangnya gimana tapi kalau mengeluarkan uang belanja berjuta-juta untuk kita mudah banget?

Pagi ini saya belajar kalau saya harus lebih banyak mendengarkan suara hati.

1 Comment

  1. Dahri says

    Seingat saya dari ceramah yg saya dengar inilah yang Ustad bilang dalam Islam disebut bisikan syaitan yang membuat kita punya seribu perhitungan dalam beramal seribu rupiah.

Leave a Reply