Daily Life, Inspiration, Thoughts
Leave a comment

Inspirasi dan Cerita dari Resonation 2017

Hari Sabtu lalu saya ikut sebuah women empowerment conference bertajuk Resonation 2017. Acara ini diselenggarakan oleh Resonance yang digagas oleh Nina Moran. Nina Moran ini lah yang (bersama dengan saudari-saudarinya) membuat majalah Gogirl!. Berhubung majalah Gogirl! ini hits banget waktu saya SMA, saya tentu termasuk salah satu follower Moran sisters.

Resonation 2017 menghadirkan Sophia Amoruso, penulis buku #Girlboss yang menceritakan pengalaman pribadinya mendirikan sebuah bisnis pakaian bekas online Nasty Gal. #Girlboss sendiri sekarang menjadi sebuah brand baru yang dikembangkan oleh Sophia juga dibuatkan serialnya di Netflix. Selain Sophia Amoruso, sederetan wanita (dan pria) keren menjadi pembicara maupun fasilitator untuk sesi group discussion. Waktu membaca publikasi acara ini, saya langsung berminat ikutan dan beli pre-sale ticketnya walaupun jujur saja saya bahkan bukan fansnya #Girlboss (I gave 2 stars for the book).

Saya langsung berminat ikutan karena ingin dapat inspirasi seputar entrepreneurship dan berharap bisa ketemu dengan para wanita hebat yang berpengalaman di bidang bisnis dan manajemen. Acara ini menjawab keinginan saya and it even exceeded my expectation. Inspirasi yang saya dapat bukan cuma soal entrepreneurship. Lebih dari itu. Mudah-mudahan inspirasi serta semangat yang saya dapat bisa terbagi lewat post ini ya :)

Supaya lebih sistematis, saya akan menuliskan hal-hal berkesan yang saya dapat dengan urut sesuai dengan agenda acara ya :)

‘Swedish Dads’ Photo Exhibition

Saya datang pagi-pagi untuk registrasi dan menikmati pameran foto ‘Swedish Dads’ oleh Johan Bävman. Pameran foto ini bercerita tentang sistem cuti melahirkan di Swedia yang sangat ‘royal’ bukan hanya untuk para ibu tapi juga untuk para ayah. Ini merupakan bagian dari penerapan kesetaraan gender di Swedia.

I’m not a gender equality activist, but this exhibition opened my eyes even more about one thing: It’s easier to be a great dad than a great mom. Para ibu, bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, menghadapi berbagai tekanan and even unrealistic standards about being a super/great/good/cool mom. Ibu yang bekerja pontang panting bagi waktu demi keluarga, dibilang career minded lah, dibilang lupa tanggung jawab utama mengurusi anak, dst. Ibu rumah tangga pontang panting di rumah supaya rumah jadi tempat yang nyaman dan ideal bagi keluarga masih saja ada yang bilang, “Ih, sekolah tinggi-tinggi cuma di rumah aja.” Pokoknya suka serba salah deh kalau jadi ibu-ibu.

Meanwhile, how to be called a great dad? Make a living, earn money, lalu alokasikan waktu senggang untuk main dengan anak dan bantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Bam! You’re definitely a perfect dad!

Baca juga: Let Us Not Feel Guilty for Not Being Super Mom

Keynote Session with Sophia Amoruso

I had to admit that I had been quite skeptical about Sophia Amoruso. Seperti yang sudah saya bilang, saya bukan penggemar berat buku #Girlboss dan sebelumnya saya selalu punya pandangan bahwa Sophia ini… alpha female banget, super ambitious and bossy to the bone. Terus di bayangan saya dia agresif dan control freak. Terutama waktu ada berita yang mengatakan bahwa perusahaannya, Nasty Gal, memecat pegawai yang hamil. Big turn off.

Turned out that I was wrong! Ternyata dia mengakui bahwa kadang dia pun merasa insecure dengan dirinya waktu harus bicara di depan umum, merasa, “Apalah gue ini dibanding para audiens gue,” bahkan menurut pengakuannya ketika serial TV-nya di Netflix muncul dia suka bertanya dalam hati, “Am I a clown?” Well, I don’t want to sound mean, but it’s pretty relieving to know that I’m not alone because insecurity happens to everyone.

Yang paling surprising untuk saya adalah ketika membahas tentang keseimbangan antara pekerjaan dan hubungan (relationship). Dia bilang, “Every relationship needs sacrifices.” I didn’t expect that and she even mentioned that wanting to be a mother of a family is a noble thing and very natural. Wow! <3

Bicara entrepreneurship, Sophia pun bicara soal hal-hal yang prinsipil seperti soal fokus, prioritas, komitmen, keberanian untuk menghadapi kritik yang nggak betul dan menjatuhkan. Guess what, she even gave an advice not to compare ourselves based on our social media feeds. Me likey!

Morning Panel – Breaking Your Barries

Setelah keynote session dengan Sophia Amoruso, acara dilanjutkan dengan morning panel bersama Misty Maitimoe (Deputy Managing Director – Ogilvy PR Indonesia), Clair Deevy (Head of Economic Growth Initiatives APAC – Facebook), Stephanie Kurlow a hijabi ballerina, dan Indira Abidin (Fortune PR). Sesi ini membahas tentang apa penghalang (barrier) bagi para wanita untuk terus maju. Sesi ini menjadi begitu menarik karena pembicaranya berasal dari rentang umur dan latar belakang yang berbeda.

Kesimpulannya yang saya dapat dari sesi ini: barriers mostly come from inside ourselves and it happens to everyone.

Namun dari sesi ini ada hal yang mungkin tidak dihighlight oleh semua orang namun berkesan bagi saya. Clair Deevy dengan titel supernya itu ternyata punya 3 anak yang masih kecil-kecil! She’s definitely a master of task juggling. Waktu ditanya bagaimana menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga, kurang lebih dia bilang begini, “That’s different between every Mom. For some, it’s separation. You strictly separate work and family. For me, it’s mixing everything in and be totally flexible. The important thing is to be less hard on yourself.” Super cool!

Engaging Content Class by Facebook #SheMeansBusiness

Kelas ini diadakan oleh Facebook #SheMeansBusiness dan dibuat terbatas untuk 150 peserta yang terpilih. Menurut saya materinya bagus dan mencakup hal-hal dasar yang sebaiknya diperhatikan dalam membuat konten untuk mempromosikan bisnis kita via Facebook dan Instagram.

Namun, hal yang menurut saya paling menarik adalah program #SheMeansBusiness sendiri. Program ini ternyata sudah berjalan setahun lebih dan bertujuan untuk memaksimalkan potensi besar dari perempuan Indonesia yang pada dasarnya bersifat sangat entrepreneurial namun masih terkendala pada akses finasial, keahlian bisnis serta akses dan networking. Saya pikir kalau program ini diteruskan dan disebarluaskan lalu dilengkapi dengan workshop-workshop dasar seperti basic image editing akan sangat amat besar impactnya.

Plus, I love the tagline: “Saat perempuan berhasil, kita semua menang.”

Reflection Session (Group Discussion)

Sesi refleksi ini dibuat untuk para peserta agar bisa mendiskusikan personal barriers mereka pada forum yang lebih kecil (<15 orang per-grup). Seperti tagline acara Resonation 2017 ini: “What’s stopping you?”

Setiap grup dipimpin oleh seorang fasilitator yang berpengalaman di bidang bisnis dan manajemen >5 tahun. Daftar fasilitator sendiri dipenuhi dengan wanita-wanita hebat yang kadang membuat kita merasa bagaikan ‘remah-remah rempeyek di dasar kaleng Khong Guan’. Fasilitator grup saya adalah Jane Nawilis yang merupakan CFO (alias direktur finance) dari Bengkel Nawilis. Sedikit informasi kalau Mbak Jane ini sudah generasi ketiga yang memegang Bengkel Nawilis ini. Isi grup kami pun beragam, ada yang backgroundnya marketing, desainer grafis, sampai management consultant.

Walaupun selama ini saya merasa cukup banyak mengenal perempuan dari berbagai latar belakang, sesi sharing soal cita-cita dan mendiskusikan tantangannya ini membuka sudut pandang baru bagi saya. Saya juga sampai pada kesimpulan: sehebat / sekeren apapun, seseorang tetap punya rasa insecurity yang datang dari diri sendiri akibat selalu membanding-bandingkan.

Selain itu saya terinspirasi banget waktu Mbak Jane cerita kalau ayahnya mendidik dia untuk mandiri dan harus belajar jualan. Menurut ayahnya Mbak Jane, kalau mau sukses seseorang harus belajar jualan karena banyak sekali pengalaman yang akan didapatkan. So she once had a job selling knives door to door. O M G. Detik itu saya langsung berencana mengajarkan anak saya hal yang sama!

*

Sayangnya setelah Reflection Session saya harus langsung pulang karena sudah ditunggu oleh Antariksa di rumah. I missed the men panel and summary by Nina Moran. Namun saya merasa beruntung banget berkesempatan hadir di Resonation dan mudah-mudahan akan lebih banyak lagi acara seperti ini ke depannya.

Because women surely need to empower each other and do more collaboration in the future. Cheers to that!

Advertisements

Leave a Reply