Daily Life, Work & Business
comments 15

Being Jack of All Trades

Teman-teman tentu pernah dengar istilah ‘Jack of all trades, master of none’. Istilah ini ditujukan kepada orang yang punya macam-macam kebisaan tapi nggak satu pun dari kebisaan tersebut menjadi keahlian spesifik (mastery). Ibarat main cangkulan, kartunya Jack semua; nggak buruk tapi tetap kalah kalau dihadapkan dengan Queen, King, atau Ace.

Saya sendiri adalah salah satu contoh jack of all trades. Sebetulnya saya banyak mengucapkan syukur Alhamdulillah untuk itu. Sejak SD saya hampir selalu jadi juara kelas, paling nggak ya 5 besar lah. Apakah karena saya jenius? Pastinya….. BUKAN. Saya dapat rangking karena kurikulum di Indonesia ini banyak banget mata pelajarannya, mulai dari Matematika sampai Bahasa Sunda sampai Tata Busana. Nah, terlahir sebagai jack of all trades (plus a multi tasker), saya bisa menghadapi banyaknya dan bervariasinya mata pelajaran. Disuruh ngafalin, oke. Disuruh hitung-hitungan, boleh juga (walaupun begitu SMA mulai musuhan sama matematika). Disuruh mengarang bebas, wuih, jago. Nah tapi coba kalau saya dikirim olimpiade sains? Bubar. Gugur sebelum berbunga.

Beranjak dewasa, saya pun semakin menyadari hal ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sebetulnya bukan hanya potensi saja yang membuat saya jadi jack of all trades tapi juga minat dan keinginan saya untuk belajar banyak hal (dan nggak selalu didukung dengan konsistensi yang mumpuni). Saya suka hal-hal yang berhubungan dengan bahasa (membaca, menulis, bahkan belajar bahasa asing), suka menggambar, desain grafis, juga fotografi. Saya juga tertarik pada bahasan soal hubungan sosial manusia dari komunikasi, hubungan internasional sampai geopolitik. Semua itu kemudian dilengkapi dengan gelar resmi saya sebagai sarjana teknik jurusan geologi. #oraknyambung

Nggak ada yang saya sesalkan sih dari minat saya untuk melakukan / belajar cukup banyak hal. As I mentioned above, I’m happy and grateful about that. Saya punya lumayan banyak aktivitas saat kuliah which led me to know a lot of interesting and brilliant people from various background. Waktu kerja pun, kemampuan-kemampuan sampingan ini bikin saya cukup sering diajak kegiatan ‘ekskul’ dan mengembangkan networking.

However, when it comes to mastery, I can’t have it all. Mendekati akhir usia 20-an ini, saya agak menyayangkan diri saya yang nggak  betul-betul fokus pada bakat / skill tertentu. Ada sebuah teori dari studi tahun 1993 berjudul The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance yang kemudian dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers bahwa seseorang butuh 10.000 jam, konsisten, untuk menjadi mencapai level expert pada sebuah keahlian. Walaupun sebetulnya teori ini banyak diperdebatkan keabsahannya sih (you can google it yourself).

Nggak ada masalah sampai negara api menyerang.

Nggak ada masalah sampai saya resign dan melepaskan identitas resmi saya sebagai geologist. Saya pun mulai menyebut diri saya ‘Working at Home Mama’. Saya melakukan berbagai kerjaan yang dilakukan dari rumah mulai dari menulis, menggambar, bantuin set up blog orang lain, sampai merintis bisnis kecil-kecilan (yang mana dalam menjalankan bisnis tersebut saya juga melakukan semua mulai dari mendesain sampai jualan).

Namun saya bingung harus menyebut diri saya apa. Mantan geologist? Ilustrator? Komikus? Penulis? Blogger? Desainer? Online shop owner? Saya sejujurnya nggak PD untuk melabeli diri saya sendiri karena walaupun saya melakukan semuanya tapi rasanya nggak ada satu hal tertentu yang saya fokuskan dan saya pelajari sampai 10.000 jam sehingga bisa jadi ‘komoditas jualan’ saya. Ya itu tadi, I just feel jack, jack, jack.

Kebingungan ini akhirnya harus saya renungkan saat… mengupdate CV untuk dikirimkan ke sebuah perusahaan start up. Setelah berkontemplasi titel apa yang harus saya berikan kepada diri saya sendiri, saya pun menulis, “Illustrator, Blogger, Mompreneur” dengan mempertimbangkan bahwa saya rutin melakukan dan mendapatkan penghasilan dari ketiganya. Walaupun saya nggak yakin kalau titel tersebut bisa bersaing untuk posisi yang berkaitan dengan digital marketing.

Anyway, setelah berkontemplasi lebih lanjut sambil menghabiskan kue nastar yang tersisa, saya pun memikirkan lagi untuk mulai mencoba serius menekuni ketiga hal tadi, apalagi semuanya masih ada hubungannya. Kalau saya harus pensiun umur 58 (dengan asumsi hidup sampai umur segitu ya… hmm…), artinya saya masih punya 30 tahun lagi atau sekitar 262.800 jam lagi. I guess it’s not bad. Not bad at all.

Despite the fact that I’m a jack of all trade by nature, it doesn’t mean that I have to be master of none, does it?

Kalau teman-teman gimana? Any jack fellows here? :)

Advertisements

15 Comments

  1. Hai, sudah sering baca blog & ngikutin IG-nya, tapi baru komentar sekarang (btw, saya juga tinggal di komplek perumahan yang sama lho :D)
    kalau boleh dibilang saya sebagai lulusan Teknik Industri ya begitu. diajak ngobrol tentang IT bisa, tentang matematika bisa, sama orang sipil bisa, orang elektro bisa, sama orang mesin bisa, bahkan ngomongin spaceX juga bisa we lah. tapi apa saya benar-benar paham sama yang saya omongin? apa saya bener-bener bisa ngikutin apa yang saya dengerin? apa saya bisa bilang saya ini mastering industrial engineering field? hmm nggak juga. mendefinisikan TI aja saya awuoawuo. walaupun skrg sudah S2 juga masih bingung hehehe. lebih bingung lagi sekarang mau (sok2an) apply PhD tapi bingung nentuin research topic. ke sini mau ke situ mau. ke sini boleh ke situ boleh. terus bertanya, bisa nggak ya? memang punya kemampuan.
    kalau ditanya bawaan lahir, saya nggak tau saya apa. tapi kuliah di jurusan ini membuat saya jadi jack-jack-an yang ndak terlalu bisa apa-apa.

    • Woww, tetanggaaaa :D Kapan-kapan main atuhh hihihi…

      Wah, sama, ayahku juga jurusan TI lalu s2nya ambil manajemen. Generalist sejati pokoknya. Alhamdulilah akhirnya beliat menemukan topik yang dia suka banget yaitu manajemen kinerja, dan akhirnya fokus ngerjain itu. The thing is, pengalaman dan ilmu segala hal macam2 yang dia kerjakan mulai dari logistik sampai audit ternyata kepakai banget buat spesialisasinya di bidang manajemen kinerja. So yesss… kesimpulannya, orang TI juga bisa jadi spesialis yang banyak pengalaman :D

      Semangat!

  2. Daku Jack juga kayaknya. Jack Sparrow (gak deeeeng!)! Kerja jadi jr. AE, ngeblog, lettering, motret juga, as a geek juga, tapi not even signifies me enough. But at least we’re bring jack of all trades we like and who knows, be a master of something! Kalo dirunut, bisa-bisa gelarnya lebih panjang dari Mother of Dragons ?

    • Iya setujuu… sebetulnya bukannya nggak mungkin jadi masters dalam beberapa hal, tapi ya kan harus konsisten dan kerja keras banget task jugglingnya hihih… kalau emang berhasil sih pantes dapet gelar setara Mother of Dragons. :p

  3. Iyessss mba… Sering bgt masih merasa i am Jack all of trade. Even dlm menulis sekalipun masih galao bgt mau fokus jd blogger apa… Hahahaha..

    Well.. mksh sharing2 y. Menarik.

    • Betull, aku setuju kalau jadi jack of all trade tergambar pada blog yang topiknya macem-macem bangetttt :’))) Aku pun begitu… tapi berhubung blog ku lebih ke blog pribadi ya gapapa lah dicampur aja semua hihihi…

  4. But I think you are a brilliant illustrator! Mungkin kalo diitung-itung jam sketching dan bikin illustrasi pasti lebih dari 10.000 jam

    • THANK YOU, hahahah aduh jadi mesem-mesem. Bisa jadi 10.000 jam yaaa kalau dihitung2 sejak SD dan termasuk jam kuliah yang dipakai buat gambar-gambar di belakang buku heheheh :p

  5. Being jack of all trades itu…jadi kebingungan memilih hal yang saya suka (dan saya bisa juga) atau ambisi melanjutkan kemampuan yang sudah diakui orang lain. :D

  6. Halo Mba Puty! :) aku udah lumayan lama baca blog kakak dan seorang follower di ig juga hehe. Pengen curhat aja soalnya topiknya nyambung karena aku juga bisa relate gitu.. I’m a fresh high school graduate thats taking a gap year due to an unfortunate circumstances and im still at lost with my jurusan choices sometimes…

    Dari kecil personally aku bisa dibilang jago dalam hal mata pelajaran, hafal bisa, ngitung (dengan banyak latihan) bisa, seni dan musik juga aku suka… Kalo ditanya matpel favorit aku apa aku biasanya bilang kalo aku semuanya ato aku suka seni.

    Pas smp aku bener2 gatau apapun tentang perkuliahan (ui pun aku ga kenal :/ ) yang aku tau itu is that learning is enjoyable and i love playing haha! Nah ketika pas sma tiba-tiba aku dikenalin tentang sbmptn, snmptn, um, wow… Pusing!

    Biasanya orang tua suka memberi arahan kepada anaknya ke jurusan-jurusan tertentu, tapi aku diberi kebebasan dan I can’t say whether it’s a blessing or a curse because i can’t pick anything in the end (even though yes i did take snm and sbm, but somehow I’m still so unsure…)

    Aku jujur pengen tau pengalaman kakak ketika milih jurusan karena even from so many advices i got, i still can’t choose a specific road. Sorry for the long rant!

    • Hihihi… nggak semua orang punya kesempatan merasakan gap year, termasuk aku.

      I feel you. Mungkin latar belakang dan potensi kita mirip ya (except that of course, I don’t play music hihihi). Namun situasinya berbeda banget karena orang tuaku sejak aku SMP sudah mengarahkan aku untuk tidak ambil jurusan yang sifatnya ‘seni’. Ayahku orangnya sangat realistis dalam mengambil keputusan dan strategi ke depan terutama mempertimbangkan prospek kerja dan karir, jadi aku disuruh masuk geologi. Jedarrr, hahahaha…

      Thank God I’m soooooo jack of all trades, jadi aku bisa survive dan malah jadi suka sama ilmu geologi. Aku pun akhirnya lanjut dan alhamdulillah dapat kerjaan yang bagus sebagai geologist.

      That was my story.

      Saran dari aku? At least pikirin dulu kamu akan paling optimal kerja seperti apa. Kantoran – rutin kah? Wirausaha kah? Freelance kah? Dari situ biasanya akan lebih mengerucut jurusan yang akan diambil. Selain itu pilihlah jurusan berdasarkan potensi yang paling kuat dengan prospek kerjaan yang paling baik.

      Semoga berhasil :)

  7. iksokta says

    Kayanya kalau yg dibesarkan dengan pendidikan di Indonesia mostly Son of Jack deh ? Atmosfer dunia kerja disini kayanya masih milih orang2x yg paketnya lengkap. Apalagi kalau kerjanya di pemerintahan or bumn. Pernah punya pengalaman ada new chick di kantor seorang interior designer lulusan LN, trus dikasi kerjaan yg pake excel, dan dia ga bisa. Hebohlah. Gitu aja kok ga bisa. Yah kan dia interior designer. Why should she know about excel??

    Dengan kondisi kaya gini kalo menurut aku, saat kamu itu jack of all trade banget, you’ll survive more ? Tinggal pinter2x ngatur nama label di CV sesuai keahlian yg diminta.

  8. Waaa, mba Puty, aku langsung pengen tos baca blogpost ini. Bisa relate banget! Ahaha. Aku juga punya kesukaan yg mirip-mirip sama mba. Terutama yang berhubungan dengan aksara dan visual. Jadi mulai dari baca, nulis, bahasa asing, desain, gambar, foto, video, prakaryaan, semua-muanya mau, dan semua-muanya aku suka ahaha.

    Dulu pas SMA juga karena di jurusan IPA kan tiap hari ada Lab, terus aku jatuh cinta sama kimia dan elektro. Dulu bahkan sampe pernah ikutan olimpiade kimia ahaha. Tapi ya itu, gugur sebelum berbunga.

    Pas kuliah, aku ngambil jurusan DKV tapi sekarang kerjanya ngurusin copy, socmed dan community. Tapi syukurnya per-jack-jack-an itu jadi bermanfaat. Karena harus ngurus yg berhubungan dengan pendaftaran, budgeting, planning content, komunikasi sama orang-orang, jadi berguna.

    Tapiiii, yang bikin bingung adalah, after this what? ((eh jadi curcol)). Karena banyak yang disuka, jadi bingung mau fokus ke mana and what to pursue next, huhu.

Leave a Reply