Books, Review
comments 2

The Rosie Project & The Rosie Effect

Salah satu hal yang jarang saya tulis di blog namun menarik dan boleh jadi bermanfaat adalah tentang buku yang saya baca. Sebetulnya alasan utamanya adalah karena saya nggak selalu baca buku yang baru terbit, malahan cenderung random karena saya doyan cari buku bekas dan diskonan. Kalau Bahasa Sunda-nya mah jadi kagok. Kagok kalau mau nge-review dan kasih rekomendasi, toh belum tentu juga bukunya bisa dibeli di toko buku terdekat.

Namun setelah saya pikir lagi, nggak ada salahnya dicoba menulis tentang buku-buku yang berkesan untuk saya. Saya akan coba salinkan lebih banyak fakta atau quotes yang inspiring dari buku yang bersangkutan, bukan sekadar rating atau penilaian pribadi.

Kali ini saya akan membahas soal buku The Rosie Project (2013) & The Rosie Effect (2014). Kedua novel ini memiliki cerita yang bersambung dengan tokoh dan latar yang sama. Saya cenderung mengkategorikan keduanya sebagai novel chicklit walaupun ditulis oleh seorang pria yang kayaknya nggak ‘chicklit writer material’ banget hehehe.

Nggak ‘chicklit writer material’? Yup sedikit informasi penulisnya adalah Graeme Simsion yang merupakan mantan konsultan IT berusia 50-an dengan gelar PhD di bidang data modelling. Guess what he wrote before ‘The Rosie Project’? Data Modeling Essentials dan Data Modeling Essentials. Keren abis!

Namun demikian saya, sebagai penggemar chicklit, harus bilang kalau ‘The Rosie Project’ dan ‘The Rosie Effect’ ini menarik banget dan menyenangkan untuk dibaca. Keduanya diceritakan dari sudut pandang Don Tillman, seorang profesor di bidang genetika dengan IQ yang super. Don Tillman ini sangat rasional dan kehidupannya nyaris tidak melibatkan faktor emosional sama sekali. Bisa ditebak kalau kecerdasannya sosial minim banget sampai-sampai untuk mengetahui apakah omongannya menyinggung perasaan seseorang dia harus menggunakan metode deduksi dari ekspresi orang tersebut.

Hal lain yang menurut saya menarik dan kocak adalah Don Tillman yang selalu mengoptimalkan efisiensi dalam hidupnya sampai-sampai untuk makan dia menggunakan Standardized Meal System yaitu memasak menu yang sama pada hari yang sama setiap pekan. Kenapa? Karena dengan begitu kandungan gizi dari tiap asupan dapat dioptimalkan. Selain itu nggak perlu ada waktu yang terbuang untuk memikirkan “Makan apa ya enaknya?” dan mencatat daftar belanjaan lagi. Pertimbangannya lainnya adalah dengan memasak menu tertentu secara rutin akan membuat seseorang sangat mahir dan bisa memasak dengan kecepatan terbaik. Voila! Best efficiency.

Sounds freak? Not really. Walaupun tidak pernah dinyatakan langsung, Don Tillman sebenarnya merepresentasikan sudut pandang orang dengan autisme atau Asperger syndrome. (Walaupun tidak dimaksudkan dan dijelaskan, ini diakui Graeme Simsion sendiri dalam sebuah jawabannya di Goodreads.)

Nah bayangkan kalau Don Tillman tersebut mencari istri.

‘The Rosie Project’ dimulai dengan pencarian Don Tilman akan seorang istri dengan cara yang paling rasional dan efisien: menggunakan kuesioner untuk memeriksa kompabilitas! Proyek mencari istri ini pun disebut dengan ‘The Wife Project’.

Don Tilman pun bertemu dengan Rosie Jarman, seorang mahasiswi kedokteran yang sedang mencari ayah kandungnya. Rosie diceritakan sebagai sosok yang spontan, impulsif dan suka telat (surely marked as No Go on Don’s wife questionnaire). Singkat cerita Don mengalihkan fokusnya dari ‘The Wife Project’ untuk membantu Rosie untuk menemukan ayah kandungnya yang kemudian disebut sebagai ‘The Rosie Project’. Nah dalam proyek inilah Don dan Rosie terlibat dalam kisah kasih yang berujung bahagia.

See? It’s chicklit formula. A guy and a woman who were unlikely to be with each other fell in love. :p Walaupun begitu, cerita cinta biasa bisa menjadi tidak biasa ketika diceritakan lewat sudut pandang Don Tillman. Love story is usually all about feeling which Don Tillman isn’t all about.

Hanya berselang satu tahun, terbit ‘The Rosie Effect’ yang merupakan sekuel dari ‘The Rosie Project’. Saya sendiri baru selesai membaca ‘The Rosie Effect’ bulan ini setelah membaca ‘The Rosie Project’ pada tahun 2014.

Pada ‘The Rosie Effect’ diceritakan bahwa Rosie Jarman hamil dan Don Tillman akan menjadi seorang ayah! Menurut saya yang ini jauh lebih menarik dan Graeme Simsion menuliskannya dengan baik. Syukur banget saya membaca ‘The Rosie Effect’ setelah punya anak sehingga bisa menghayati yang dirasakan oleh Rosie dan memahami apa yang dipikirkan oleh Don *waving hello to those parents-to-be who take ‘What To Expect When You Are Expecting’ religiously~*

Selain kisah kasih kusut Don dan Rosie ada cerita beberapa tokoh dari buku sebelumnya seperti Gene (profesor genetika, rekan Don) dan Dave (ahli reparasi dan instalasi lemari pendingin, teman Don) juga tokoh baru seperti George, seorang rocker yang menjadi landlord Don dan Rosie. Kalau di buku sebelumnya saya fokus banget pada “Gimana dan kapan nih mereka jatuh cinta?” di buku ini saya lebih menikmati alur ceritanya.

Selain ‘The Rosie Project’ dan ‘The Rosie Effect’ ada beberapa novel lain dengan sudut pandang tokoh dengan austime atau Asperger syndrome yang saya suka banget:

Semuanya saya rekomendasikan untuk dibaca! Teman-teman ada yang punya rekomendasi buku setipe yang menarik untuk dibaca? Boleh kasih tau donggg…

Oh iya, sebagai penutup saya kemarin menemukan sebuah video yang bagus banget untuk mengenal autisme dan mungkin sedikit lebih memahami Don Tillman :)

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply