Motherhood, Wanderlust
comments 2

Penerbangan Jarak Jauh Bersama Bayi (Part 1)

Ada teman yang menagih salah satu janji saya sepulang dari Paris: menulis soal pengalaman terbang jarak jauh dengan bayi. Nah, berhubung Insyaallah kami mau sudah mau ngetrip lagi (ecieee…) jadi sebaiknya janji ini segera saya lunasi, hehe.

Kalau ditanya kenapa kami memilih pergi ke Paris waktu Antariksa masih berumur 8 bulan, jawabannya adalah: terpaksa, hahaha. Jadi sebetulnya saya dan Antariksa nebeng suami yang ada tugas negara ikut konferensi. Nah, mumpung suami dibayarin kantor tiket dan akomodasinya, pergilah kami sekeluarga. (Tenang, saya dan Antariksa bayar sendiri kok, nggak ikutan dibayarin negara :p)

(Baca juga: Bepergian Dengan Pesawat Bersama Bayi)

Kami pilih naik Qatar Airways karena jadwal terbangnya ‘enakeun’ (berangkat dari Jakarta tengah malam, djadwalkan sampai Paris siang) dan transitnya di Doha, jadi baik penerbangan Jakarta-Doha maupun Doha-Jakarta nggak terlalu lama, masing-masing sekitar 7 jam. Selain itu saya juga punya pengalaman baik terbang dengan maskapai ini sebelumnya (dan betul sih jadi Airline of The Year lagi tahun 2017).

Pada penerbangan pertama dari Jakarta ke Doha semua berjalan lancar. Kami take off tengah malam, pukul 00:20, yang mana sudah masuk jam tidurnya Antariksa. Sebelum boarding Antariksa nggak bisa tidur dan kami biarin saja di stroller (nggak maksa menyuruh tidur tapi nggak maksa dia untuk tidur juga), dengan harapan tidurnya akan nyenyak sepanjang perjalanan. Seperti biasa, sebelum naik pesawat, saya ganti pampersnya dan balurkan minyak telon di perut, punggung dan telapak kakinya. Harapan kami pun terkabul pada penerbangan pertama. Antariksa sukses tidur setelah menyusu. Yes!

Oh iya, sebetulnya disediakan baby bassinet untuk bayi. Kami sudah request bassinet in advance dengan pikiran positif: nggak harus memangku Antariksa sampai 7 jam.

Ternyata oh ternyata: Antariksa udah nggak muat di baby bassinet, saudara-saudara! Mentok. Hahahaha. Sebetulnya beratnya ngepas banget dengan limit berat yang diperbolehkan untuk tidur di bassinet yaitu 11 kg. Namun kok pas diletakkan dia… mentok dan… nggak betah :’))) Akhirnya saya pasrah dan legowo memangku Antariksa sepanjang perjalanan, hihi.

Penampakkan Antariksa di Baby Bassinet

Sedikit tambahan informasi, ada aturan yang cukup ketat untuk penggunaan baby bassinet ini. Bayi harus dalam keadaan berbaring (nggak boleh duduk) dan ada pengaman berupa zipper khusus yang harus selalu dalam keadaan menutup. Selain itu bayi nggak boleh ada di bassinet ketika terjadi turbulens atau setiap lampu seat belt menyala (cuaca buruk misalnya). Hal ini yang bikin repot banget, apalagi kalau penerbangannya malam hari karena setiap ada turbulens si bayi harus diangkat. Gimana kalau kita ketiduran? Dibangunin dong sama pramugarinya. Pokoknya PR banget deh :’)))

Sesampainya di Doha kami transit di Hamad Airport selama 3 jam. Di Hamad Airport sendiri disediakan stroller gratis untuk dipakai dan memang seyogyanya dimanfaatkan karena bandaranya GEDE YA, GAES! Belum lagi kan ya Mamak mau cuci mata lihat-lihat belanjaan duty free :p Waktu transit ini saya gunakan lah untuk mencoba kasih makan Antariksa.

Di sinilah drama-drama mulai terjadi, hahaha.

Antariksa nggak mau makan! Jeng, jeng. Memang untuk perjalanan ini saya bawa MPASI instan yang dalam jar maupun yang bentuknya bubuk dan biskuit. Lengkap. Namun semuanya beliau tolak. Mamak sedih dan khawatir. Namun berhubung sudah mendekati waktunya untuk boarding penerbangan selanjutnya (Doha-Paris), saya pun melakukan ritual wajib: ganti pampers, ganti baju yang nyaman, dan balur-balur minyak telon.

Just when we were about to board, Antariksa PUP, dan bocor pula! HUAHAHAHA… (Sekarang sih ketawa, pas kejadian mah muka ketekuk 10) Jadilah sebelum take off saya harus langsung ganti pampers, celana dan baju beliau. Kena pula ke baju saya. GROAR~ Yo wis. Inhale, exhale, berpikiran positif lagi sambil membayangkan nikmatnya makan macaron di Paris.

Setelah take off, drama dimulai kembali. Antariksa kembali melancarkan GTM alias Gerakan Tutup Mulut! Saya mulai panik dooonggg… Soalnya sudah sekian jam dia nggak makan (kelongkap 2x makan kalau nggak salah), hanya menyusu. Heboh lah saya menawarkan segala jenis makanan baik yang sudah saya siapkan maupun yang diberikan pihak maskapai. Setelah acara nangis-nangisan dan nggak mau makan akhirnya dia tidur, itupun penuh perjuangan juga (which I assumed because he was hungry).

Setelah bangun tidur, saya kembali dengan gigih menawarkan makanan. Lumayan, Antariksa mau makan bubur instan. Saya pun lega. Untuk sesaat saja. Guess what, setelah itu dia muntah dong saudara-saudaraaa! Hancur hatiku hancur. :(

Singkat cerita, 7 jam penerbangan dari Doha ke Paris tersebut adalah penerbangan paling menyiksa seumur hidup saya. Pikiran saya sudah macam-macam banget, “Gimana kalau nanti di Paris dia sakit? Apa coba Bahasa Perancisnya ‘Masuk Angin’? Kan susah?”

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk… pasrah. Termasuk waktu Antariksa nggak mau main mainan yang saya bawakan dan hanya mau main… KANTONG MUNTAH! HAHA. Saya cuma bisa banyak berdoa dan berusaha untuk menyusui Antariksa sesering mungkin sambil rutin membalurkan minyak telon.

Yeah, whatever.

Jadi apakah yang terjadi selanjutnya? Seperti apakah nasib kami begitu sampai di Paris? Bersambung ke part 2 yaaa… Insyaallah, di part berikutnya saya akan tuliskan juga tips & trik serta apa saja yang sebaiknya dibawa ke cabin kalau terbang jarak jauh bersama bayi :)

Untuk menutup post ini, berikut Pros & Cons jalan-jalan dengan bayi <1 tahun versi saya:

Pros:
+ Tiket infant murah banget… Boleh dibilang nyaris gratis hihi
+ Bayi sudah bisa duduk, jadi kalau menurut saya relatif lebih santai waktu duduk di pesawat dibanding waktu saya yang harus memangku non-stop Antariksa umur 5 bulan
+ Bayi belum bisa jalan, jadi belum repot kejar-kejaran
+ Pada full board flight, bayi berhak mendapat baby bassinet sehingga kita akan ditempatkan di bulkhead seats yang mana sudah tentu LEGA!
+ Selain itu kalau penerbangan nggak penuh, kursi di samping kita biasanya akan dikosongkan oleh maskapai…

Cons:
– Repot MPASI-nya :p
– Ada kemungkinan si bayi nggak muat lagi di baby bassinet
– Harus siap-siap muka ‘badak’ kalau ada penumpang yang sinis hahaha…

Cheers, and thanks for reading!

Advertisements

2 Comments

  1. iksokta says

    Kalau baca cerita gini bisa ikut ketawa2x..tapi buat ngulanginnya lagi, u wish lah ??? ..kalau aku curiga nih bayi2x suka GTM tuh mungkin mreka nervous dan perutnya ga nyaman tapi ujungnya malah muntah masuk angin ?

Leave a Reply