Motherhood, Wanderlust
Leave a comment

Penerbangan Jarak Jauh Bersama Bayi (Part 2)

Menyambung post sebelumnya tentang penerbangan jarak jauh pertama Antariksa ke Paris, saya akan melanjutkan sedikit cerita tentang kisah kasih kami di pesawat. Kemudian saya akan sharing sedikit tips & trik serta daftar barang-barang yang penting dibawa untuk terbang jarak jauh bersama bayi (<1 tahun).

*

Oke, setelah segala drama yang sudah saya ceritakan di part 1, kami pun mendarat di Bandara Charles De Gaulle, Paris (CDG). Kondisi saya sudah lusuh banget dengan bekas muntah di mana-mana, rambut yang sudah offside dari kerudung, dan anak yang sudah skip entah berapa kali makan. Literally saya nggak tahu berapa kali skip makan karena ada beda waktu 7 jam yang bikin saya bingung, ini jamnya makan siang atau malam atau gimana sih? *merenung di pojokan*

Untuk melengkapi semuanya, Antariksa pup lagi waktu kami sedang siap-siap turun dari pesawat. Hahaha. Duh, Nak, kok bisa sih nggak makan tapi pupnya lancar benerrrrr? And then, guess what, ternyata NGGAK ADA nursing room (atau setidaknya space yang layak untuk membaringkan bayi) sebelum lewat imigrasi. Akhirnya kami pun mengantri untuk cek paspor dengan kondisi #seadanya. Rasanya pengen bilang, “Guys, rasain nih kebauan. Siapa suruh bandara internasional ke kota turis nggak punya baby room?!” Hzzzz~

Ini CDG. Futuristik yaa berasa lagi di film sci-fi tapi gimana atuh bayi belom ganti popok…

Alhamdulillah walaupun kondisinya kacau balau dan porak poranda begitu, Antariksa sehat wal afiat. Saya kekeuh menawarkan makan, beliau kekeuh menolak, Gaes. Namun demikian, begitu sampai di apartemen di Paris Antariksa mau makan sedikit bubur instannya setelah saya mandikan dan saya buat nyaman. Saya pun berkesimpulan kalau dia menolak makan karena kondisinya nggak enak banget setelah belasan jam di pesawat tanpa kesempatan gogoleran. Jangankan bayi, saya aja lelah~

Kondisi ini ternyata terulang lagi waktu perjalanan pulang. Dari Paris ke Doha, semua baik dan aman. Antariksa mau makan dan tidur cukup lelap. Namun, begitu penerbangan lanjutan dari Doha ke Jakarta: drama-drama pup dan muntah dan pup kembali terulang! *gubrak* Oke deh, saya pasrah aja kali ini, hahaha.

Anyway, waktu perjalanan pulang saya merasa jauh lebih tenang sih karena 1) Dari pengalaman sebelumnya, tidak makan MPASI ternyata tidak sampai bikin Antariksa sakit karena tercukupi ASI-nya (ini sih asumsi saya doang untuk adem-ademin hati hahaha) 2) Di rumah saya ada Mbak ART yang akan sangat meringankan saya terutama bagian cuci-cuci baju kotor… (Mbak Tuti I miss youuu~) :’)))

Mau sih makan sedikit… tapi lalu muntah… HUHUHU~

Yah kurang lebih begitulah drama dan prahara yang terjadi.

Jadiiii, berdasarkan pengalaman pribadi dan hasil browsing-broswing juga, berikut adalah beberapa tips dan trik penerbangan jarak jauh bersama bayi. Untuk penerbangan jarak pendek saya pernah tulis juga di sini ya.

Tips & Tricks Surviving Long Haul Flights with Baby

  • Persiapan yang matang adalah kunci! Catat rencana perjalanan, waktu flight, jam berapa harus boarding, durasi transit, jam berapa landing, berapa jam beda waktu waktu daerah asal dengan negara setempat, dst.
  • Jika memerlukan baby bassinet, do book in advance! Jangan berasumsi bahwa maskapai akan menyiapkan baby bassinet hanya karena kita book tiket untuk infant. Kita tetap harus request ke maskapai dari jauh-jauh hari salah satunya adalah supaya kita bisa segera di-assign ke bulkhead seats. Apalagi kalau sedang peak season. Seandainya baby bassinet nggak terpakai pun, ruang selonjor yang lebih lega di bulkhead seats membuat kita jauh lebih nyaman.
  • Gunakan pakaian yang nyaman, terutama untuk para ibu ASI yang menyusui langsung. Minimalkan layering supaya kalau terjadi insiden muntah dan pup kitanya nggak terlalu repot :’))
  • Kalau memutuskan untuk bawa MPASI instan, tes dulu di rumah apakah si anak mau makan makanan tersebut. Kalau bisa dibiasakan dulu beberapa kali makan sampai kita yakin bahwa di anak bisa dan biasa makan makanan tersebut.
  • Bawa semua yang sekiranya dibutuhkan untuk bikin bayi nyaman, tapi usahakan untuk menempatkan semuanya dalam satu tas saja. Lalu usahakan mengorganisir tas tersebut dan isinya dengan baik. Misal untuk peralatan makan di bagian A, untuk popok di bagian B, mainan di bagian C. Kenapa? Supaya kita nggak panik dan buang waktu untuk aduk-aduk isi tas. Selain itu kan memudahkan kerjasama dengan pasangan kalau mau minta tolong ambil ini itu.
  • Bawa spare baju dan celana lebih dari biasanya, pilih yang nyaman dan biasa dikenakan anak.
  • Baby wipes adalah kunci! Bawa baby wipes untuk ganti popok dan yang untuk mulut dan tangan. Baby wipes ini terbukti andalan saya banget buat bebersih mulai dari baju sampai kursi pesawat
  • Usahakan bayi dalam keadaan nyaman saat take off dan landing. Kalau saya punya ritual: ganti popok, balurkan minyak telon, lalu usahakan dia mau menyusu.
  • Usahakan kita sebagai ibu tetap rileks dan menikmati perjalanan (walaupun susah, huahahahaha). Jangan sampai kita ikutan nggak mau makan loh yaaa. Ingat rules: Cranky mom, crankier baby.
  • Datang tepat waktu ke bandara supaya nggak grasa grusu. Ini penting banget!

Baby Things to Bring on Board

  • Popok
  • Kaos ganti
  • Celana ganti
  • Kaos kaki ganti
  • Baju hangat
  • Makanan Pendamping ASI (turned out saya paling cocok pakai bubur bayi instan, kalau yang punya aturan makan sendiri silakan sesuaikan aja yaaa) +cemilannya
  • Termos kecil
  • Tempat makan & minum
  • Sendok untuk makan + cadangannya
  • Nursing cover untuk menyusui
  • Obat-obatan darurat (saya bawa obat penurun panas dan obat pilek)
  • Minyak telon
  • Baby wipes untuk ganti popok
  • Baby wipes food grade untuk mulut dan tangan
  • Tissue kering
  • Hand sanitizer
  • Mainan bayi
  • Plastik kresek beberapa untuk buang sampah popok, menyimpan baju kotor ataupun peralatan makan yang belum sempat dicuci

Okeee, sekian dulu dari saya.

Thanks for reading dan semoga bermanfaat yaaa :D

Advertisements

Leave a Reply