Home & Family, Thoughts
comments 10

Hidup Berkecukupan

Pagi ini, ditemani segelas kopi dan playlist buatan sendiri, saya tergerak untuk menulis soal ini: hidup berkecukupan. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Widya Arif di blognya: ‘Gaya Hidup Vs Hidup Gaya’ yang bercerita soal dia yang merasa cukup-cukup saja walaupun menjadi freelancer yang tidak selalu fee lancar. Kalau Widya punya sudut pandang wanita single, saya akan tulis dari sudut pandang ibu-ibu dengan anak satu, hehe.

Sebelum saya resign dari pekerjaan kantoran terakhir saya, salah satu yang saya pertimbangkan adalah: rumah tangga kami akan kehilangan separuh pemasukan. (yup literally separuh, karena saya dan suami  saat itu bekerja di bidang yang sama dengan pemasukan yang kurang lebih sama, saat itu loh ya, hehe) Kalau boleh jujur, penghasilan tetap dan benefit-benefit karyawan yang saya tinggalkan jumlahnya relatif besar (untuk ukuran orang Indonesia) dan saya berkali-kali bertanya pada diri saya, “Siap nih nggak gajian lagi? Siap kehilangan 50% penghasilan rumah tangga padahal sebentar lagi punya anak?”

Siap nggak siap, I took the leap of faith.

Hari ini anak kami genap berusia setahun. Alhamdulillah, saya rasa kami hidup cukup, lebih dari cukup malah. Tiap bulan kami bisa melunasi segala tagihan, menabung, dan berbagi dengan yang tidak seberuntung kami. Mungkin ada yang bilang, “Ya iyalah, suami lo kan enak kerja di BUMN X, terus lo enak bisa kerja dari rumah, nyambi jadi ilustrator lah, nulis lah, jualan lah, ortu dan keluarga nggak perlu disupport” dst, dst. Ya, itu semua betul, dan saya bersyukur terus dan terus untuk itu semua.

Namun menurut saya semua itu kuncinya adalah bersyukur dan merasa cukup.

Begini, dulu waktu masih kerja dan punya penghasilan sendiri, saya punya hitung-hitungan sendiri seperti ini: Zakat, infaq, sedekah -> kewajiban (tagihan-tagihan) -> investasi -> tabungan -> kebutuhan sehari-hari -> foya-foya. Nah, kebutuhan sehari-hari dan foya-foya ini cukup besar porsinya dan memungkinkan saya hidup dengan cukup gaya.

Makan? Se-enggaknya seminggu 3x makan di restoran / mall. Ngopi? Gerai kopi sejuta umat yang segelasnya Rp40.000-an udah jadi keseharian. Belanja? Kalau lihat baju yang saya suka ya biasanya saya beli aja. Sabun? Body Shop, lah. Butuh beli sepatu olahraga? Ya beli aja, kok repot, paling-paling sejutaan. Traveling? Yuk mari, walaupun traveling hemat pokoknya ke luar negeri deh, semua bisa diatur. Gigs? Yuk kalo masih di Singapur juga sinilah gue jabanin. Perawatan? Yuk mari pijet dan lulur di salon sebulan dua kali.

Sekarang, dengan pemasukan separuhnya, punya bayi dan ART, I can’t afford to live like I used to.

Jadi saya menyesuaikan diri. Kami menyesuaikan diri. Kami membatasi makan di restoran / mall, sesekali untuk selebrasi saja. Saya minum kopi seduhan sendiri di rumah, sesekali saja kalau memang perlu meeting atau ketemuan ya bolehlah ngopi di kafe. Delivery makanan pakai ojek online? Wah jarang banget tuh (dan saya sudah janji ke diri sendiri: kalau nggak bisa ngasih tip yang lumayan generous, batasi penggunaan ojek online). Traveling? Ya nabung dulu dong. Beli buku lucu-lucu, skin care, gadget, dst? Nabung dulu juga dan belinya dari uang hasil gambar / nulis, bukan dari uang belanja. Pergi kemana-kemana? Pakai transportasi umum dong, bis, KRL, angkot. Ulang tahun anak? Ya dirayakan kecil-kecilan saja sama keluarga, goodie bag dan dekorasinya juga bikin sendiri.

Merasa kasihan sama saya? (“Tuh kan, coba nggak resign? Kan nggak perlu gitu-gitu amat?”) Don’t be. Seriously. Saya dan keluarga merasa cukup, kok. Kami nggak pernah punya hutang kartu kredit, alhamdulillah selalu bisa nabung dan berbagi pada sesama. Mbak ART cukup sering dapat bonus. Selalu siap traktir orang tua dan cukup sering dapat rezeki sampai bisa jalan-jalan bertiga.

Seperti yang saya sering baca di timeline,

“Cukup untuk hidup, nggak akan pernah cukup untuk gaya hidup.”

Saya nggak mau munafik, kalau lagi lihat-lihat Instagram ya kadang terbersit juga: “Duh, enak ya si X begini begitu, si Y begini begitu, gadget paling mutakhir, baju-bajunya keren, jalan-jalannya jauh, makanannya fancy, dst” Saat itu lah saya jadi ingin, ingin, ingin. Maunya beli, beli, beli. Ada keinginan untuk menjadi si X, si Y, padahal kemampuan saya ya kemampuan si Puty. Gap macam inilah yang saya yakin bikin orang-orang selalu merasa nggak cukup.

Jadi, keinginan ya harus sesuai dengan kemampuan.

Ingin liburan ke Iceland, tapi kemampuannya liburan ke Malang. Ya ke Malang aja.
Ingin mainan anak merk ELC, tapi kemampuannya mainan Pasar Gembrong. Ya beli di Pasar Gembrong aja, atau tunggu ada yang endorse (lah?)
Ingin makan sushi, tapi budget rumah nggak mengizinkan. Ya nggak pergi. Toh di rumah ada makanan juga walaupun bukan sushi.

So yeah, after year and a half, I can say that this statement is valid:

Kalau dicukup-cukupin ya cukup.

Walaupun bukan ahli keuangan, saya punya beberapa rules dalam mengelola keuangan:

  • Tunaikan segala kewajiban dulu begitu gajian: bayar cicilan & segala tagihan.
  • Save then spend. Not spend then save.
  • Jangan pernah ambil tabungan kecuali untuk yang sifatnya darurat atau produktif (akan menghasilkan uang lagi)
  • Kalau nggak ada budgetnya, then you don’t deserve makan-makan atau ngopi-ngopi fancy.
  • Bukukan pemasukan dan pengeluaran karena ini penting untuk review aktivitas keuangan yang sudah lewat dan memproyeksikan yang akan datang. Saya tau ini nggak gampang, tapi beneran deh, bisa karena biasa. Kalau sudah terbiasa mencatat pengeluaran, akan terus terbiasa :)
  • Jangan lupa berbagi. Jangan pelit kasih tip supir Uber atau mamang Gojek. Alokasikan sekian persen penghasilan untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

Demikian dulu dari saya.

Selamat bersyukur dan (merasa) hidup berkecukupan :)

Note: Mohon tulisan ini jangan dimaknai sebagai sindiran bagi para ibu bekerja untuk resign ya. Pembahasan ibu-ibu resign mah bisa panjang banget. Saya hanya berbagi pengalaman pribadi, sementara perlu diingat bahwa kondisi setiap keluarga beda-beda. Tulisan ini ditujukan bagi kita semua, bapak-bapak, ibu-ibu, working mom maupun stay at home mom, yang single and ready to mingle, PNS, freelancer, pokoknya semua deh, hehehe.

Advertisements

10 Comments

  1. Wah ini jadi pengingat aku lagi buat spend money wisely. Dulu waktu masih kerja, juga bagi-bagi pendapatan ke beberapa bagian termasuk foya-foya buat reward. Tapi agak pelit buat makan dan minum fancy hehe jadi selalu bawa tempat minum kemanapun berada dan untungnya ga bisa ngopi jadi bisa banget ngeles kalo diajak ngopi di coffeeshop. Thank you for sharing this, Mbak Puty

  2. Mashan98 says

    “Cukup untuk hidup, nggak akan pernah cukup untuk gaya hidup.” << setuju bgt

  3. Thanks mbaa bermanfaat bgt aku jd rethink lagi.. mba kapan2 mau dong tips keuangan zaman mhsswa. Saya sush bgt krn tmen2 sekitr pd loyal soal hepi2an heuu

  4. Baiq Nadia says

    Nicely crafted, Puty. Nggak kerasa dimarah-marahin, karena tarafnya mengingatkan dengan contoh tervalid di dunia: diri sendiri! Hihi. Pe-er-nya emang masih struggling buat mencari penengah antara selalu merasa cukup dan kurang punya keinginan untuk maju/ambisius. Bingung ya? Ah, samaaa.

  5. Ihihi, makasih sudah buat jadi reminder, Puty.
    Kalo ngomongin rejeki dalam hal duit emang gak ada habisnya. Manusia mah (gue) penuh rasa iri. Padahal mah musti banyak bersyukur, huhu…

  6. Setuju, Put! Memang pada akhirnya kuncinya ada di diri kita sendiri: sejauh mana kita bisa merasa bersyukur dan cukup dengan apa yang kita miliki, sejauh mana kita bisa memposisikan diri kita untuk hidup sesuai dengan kemampuan kita.Thanks for sharing this, Puty :)

Leave a Reply