Blogging, Thoughts
comments 13

Apakah Betul Sekarang Informasi Gratis?

Waktu membaca berita soal nasib para pegawai Femina Group yang gajinya dicicil bahkan belakangan tidak dibayar penuh lagi, saya sedih banget. Saya adalah pelanggan setia majalah GADIS sejak SMP dan dulu saya sempat punya cita-cita jadi wartawan majalah, desainer majalah, atau ilustratornya. Pokoknya kerja di majalah karena tampak keren banget.

Waktu kuliah, tahun 2008-2009 saya akhirnya mencicipi pengalaman tersebut. Saya beberapa kali jadi kontributor lepas GADIS yang tugasnya menulis hal-hal remeh temeh semacam ‘mitos masuk angin’ atau meliput konser band grade sekian di Bandung. Namun saya senang banget karena saya belajar cukup banyak. Pastinya ada editor profesional yang mengarahkan dan memeriksa tulisan saya. Saya pun berusaha sangat teliti saat memilih kata-kata atau meletakkan tanda baca. Selain itu honornya alhamdulillah lancar banget dan menurut saya cukup besar saat itu. Pokoknya beberapa kali saya bisa traktir orang tua dan beli kamera LOMO dari hasil nulis.

Sekarang saya sudah nggak langganan koran dan majalah sama sekali. Seperti kebanyakan orang, saya mengakses informasi dari internet. Boleh dibilang semuanya gratis, serba cepat tanpa harus tunggu terbit 2 minggu sekali, dan variasinya pun tanpa batas. Segala jenis informasi yang dulu ada di majalah, mulai dari gosip, tips & trik, resep masakan, sampai horoskop tersedia di internet tanpa harus mengeluarkan serupiah pun.

“Ya hari gini siapa lagi yang mau beli majalah, wong apa-apa gratis?”

Namun demikian saya berpikir-pikir lagi, ‘Apa betul gratis?’ Nggak percaya saya. Soalnya dari dulu Bunda saya selalu bilang, “Di dunia ini nggak ada yang gratis, Nak. Kalau kita nggak bayar pakai uang, minimal harus siap bayar pakai perasaan.” Begitulah falsafah hidup saya, hehehe.

Akhirnya setelah berhari-hari ingin menulis soal ini dan berkontemplasi di kamar mandi (duh!), saya pun sampai pada kesimpulan, kalau nggak hati-hati, informasi yang kita dapat tanpa mengeluarkan uang sepeser pun ini bisa jadi lebih mahal daripada harga beli majalah / koran cetak.

Karena pada akhirnya semua harus kita bayar dengan waktu dan kesempatan.

Begini, mari sejenak kembali ke Majalah GADIS. Berhubung saya punya sedikit pengalaman dan kenal beberapa editornya di masa itu, boleh lah ya dianggap shahih, hehehe. Semua editor yang saya tau dulu, nggak ada yang nggak keren. Semua berkualitas, mulai dari lata belakangnya, pendidikannya, selera audio visualnya. Mantap jiwa. Untuk setiap edisi, orang-orang keren dan kompeten yang (saya yakin) dibayar mahal ini berkumpul dan berunding untuk meramu konten yang akan disajikan kepada pembaca dalam sekian halaman, kemudian mempertanggungjawabkannya. Isinya harus yang terbaik dari yang baik. Ya, bayangin aja, buat nulis artikel soal mitos masuk angin mereka membayar anak ITB. (#ECIEGUE #BAHASTERUSSS muahahahaha)

Begitu majalah terbit, pembaca tinggal menikmati isinya dengan sesekali melihat iklan di lembarannya. Kadang iklannya berupa bonus gimmick pula, bikin seneng anak SMP deh pokoknya. Walaupun pada akhirnya konten-konten anti-mainstream jarang tersorot tapi seenggaknya saya nggak pernah mengidolakan sosok semacam Awkarin. Ya dari dulu sosok macam Awkarin mah ada aja, cuma ya nggak dibikin populer oleh majalah-majalah yang kredibel dan punya standar intelektual tertentu.

Sekarang? Semua hal ‘gratis’ selama kita ‘klik klik klik’. Now almost everyone is a free magazine full of ads. Dulu, berita yang termuat di media cetak harus dipertimbangkan masak-masak mulai dari kualitas sampai aspek redaksionalnya. Sekarang? Jempol kaki Maia Estianty pun bisa jadi berita dengan setidaknya 4 slot iklan yang akan menyia-nyiakan setidaknya 5 menit yang berharga dalam hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, berapa banyak waktu yang kita alokasikan untuk membaca berita-berita tidak bergizi ini (beserta komen-komennya)? Berapa banyak kesempatan untuk belajar hal baru atau kesempatan ngobrol bersama keluarga yang hilang? Saya pribadi harus mengakui kalau saya juga termasuk yang banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal semacam ini. Jujur, dulu saya rajin banget mengikuti akun-akun gosip sejenis Lambe Turah, Lambe Nyinyir, dst. Saya sempet tertarik ngikutin khosip Raffi-Nagita-Ayu Ting Ting sampai dengan teliti ngeliatin foto-foto di akun Instagramnya Marsha Tengker satu demi satu.

Duh, jangan ngomongin dosa dulu deh, dosa mah balik ke keyakinan masing-masing lah ya (yang mana saya meyakini banget kalau ngegosip itu dosa, tapi meyakini juga kalau Allah SWT itu Maha Pengampun). Mari ngomongin waktu yang terbuang aja dulu. Kalau saya pikir-pikir, jangan-jangan kalau menit-menit yang terbuang sia-sia itu bisa saya kumpulin mungkin saya udah bisa bikin buku cerita anak-anak 3 judul, huhuhu.

Itu baru akun gosip ya. Lengkapi dengan neverending vlog subscription. Oh iya, belum lagi akun becandaan dan komik-komik yang lebih sering nggak lucunya. Oukay, newspaper / magazine in general always gave us dry humors, but there were only 2 -3 of them for every edition, and everyone forgave them. Voila~

Karena pada akhirnya semua harus kita bayar dengan waktu dan kesempatan.

Hmm, jadi kesimpulan post ini apa? Mari berhenti berpikir bahwa punahnya majalah, koran dan profesi wartawan yang berintegritas sebagai hal yang nggak  memprihatinkan. Mari mulai menghitung berapa banyak waktu yang kita habiskan di internet untuk konten-konten nggak bermutu. For a start, saya mulai mengkonversi waktu yang saya punya ke nilai rupiah yang berpotensi saya hasilkan kalau saya mengerjakan commission. Lumayan sih, walau masih suka keasyikan baca Buzzfeed, saya sudah unfollow semua akun-akun Lambe-Lambe-an.

I don’t want to be preachy (am I?) but I guess, it’s a reminder mostly for myself. That I used to be a part of media with moral responsibility and now I’m a bit like a free magazine, I should do better. I’m monetizing my blog and Instagram account but I hope that I can give something worth your 2 – 5 minutes. Semoga teman-teman yang baca blog atau berinteraksi dengan saya di media sosial merasa begitu yaa.

Pada akhirnya, saya berharap jalan keluar yang terbaik untuk para pegawai Femina Group :’) Mudah-mudahan kita semua bisa beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa merugikan orang lain.

Amin.

Advertisements

13 Comments

  1. Aku sudah lama terpikir hal yang sama Put. Aku kadang mempertanyakan apakah memang itu murni kesalahan kita dengan membuang-buang waktu seperti itu atau memang sekarang kita sudah terlalu banyak diracuni hal-hal semacam itu. Tapi menurutku memang sulit berusaha mengerem diri sendiri kalau lingkungan kita dijejali hal yang seperti itu terus menerus.

    Aku merasa blogger (/vlogger) kondang seperti Puty :P adalah sebagian orang yang bisa mengedukasi bahwa memang wajar kalau kita sekedar menonton video Tasty di Instagram atau mengomentari nikahan artis. Tapi semua ada batasnya dan sudah saatnya kita tahu kapan harus berhenti memberikan fokus kepada hal-hal tersebut secara berlebihan.

    • Iya Cup, dan aku yakin sebetulnya sudah mulai banyak yang sadar akan hal ini. Bahkan NET TV bikin campaign khusus soal bijak menggunakan waktu :’) Mudah-mudahan kita bisa sama-sama mengingatkan yaaa…

  2. Bacaan yang kucari-cari ini :”) akhirnya ada juga yang ngebahas soal tergerusnya media cetak di era serba internet ini. Kemarin ikut galau waktu tahu kawanku dan hai! Sudah nggak produksi secara cetak lagi. Eh sekarang Cosmo Girl! Juga. Sebagai salah satu pembaca aktif majalah rasanya kaya sedih gitu, jujur saya nemuin panutan-panutan bagus dari majalah.

    Saya setuju sama pernyataan Mbak Puty soal “Walaupun pada akhirnya konten-konten anti-mainstream jarang tersorot tapi seenggaknya saya nggak pernah mengidolakan sosok semacam Awkarin. Ya dari dulu sosok macam Awkarin mah ada aja, cuma ya nggak dibikin populer oleh majalah-majalah yang kredibel dan punya standar intelektual tertentu”

    Konten majalah itu seolah petunjuk yang ngarahin saya untuk berfikir kreatif dan aktif buat terus mencari informasi baik. Artis yang mereka jadiin profil juga nggak sembarangan. Dan saya duluu juga sempet bercita-cita jadi editor majalah :”) jadi nggak kepikiran lagi setelah lihat keadaannya yang begini.

    • Mudah-mudahan kita bisa semakin bijak memilah dan memilih konten untuk dinikmati yaa.. Setidaknya jadi editor untuk diri sendiri aja dulu :’)

  3. Sabrina says

    Setuju banget, aku juga penggemar majalah kertas sejak jaman majalah bobo. Sekarang udah hampir lupa rasa bahagia nya tiap mas mas loper koran dateng nganterin majalah langganan (terutama kalo edisi baru bakal ngasih hadiah semacam poster, pouch, kalender, dll).

  4. Setuju banget dengan Mbak Puty tentang masalah ini. Saya jadi keinget lagi dengan berapa banyak waktu yang dihabiskan tanpa terasa di sosial media. Harus lebih selektif lagi nih dalam memilah dan memilih informasi (terutama di sosial media). Kalaupun berselancar di dunia maya, harus jelas ingin mencari apa dan mendapat apa.

    Btw, saya juga dulu penggemar Gadis. waktu bentuk majalahnya masih lebar itu, hehehe…

    • Mudah-mudahan kita semua makin bijak pilah pilih konten yaaa :’) Iyaaa, aku juga langganan dari majalahnya masih segede gambrenggg… huhuhuh kangenn

  5. Mbak Puty tulisannya bagus sekali. saya jadi sadar memang gak ada yang gratis di dunia ini, jaman makin maju arus informasi makin gak kebendung, yang dituntut cerdas memilah ya jadi pembaca nya :’)
    selamat tinggal informasi bergizi yang dulu siap saji.

    btw, toss dulu ah, saya anak majalah Gadis banget nih! dulu, sampe nekat daftar jadi gadis sampul, peserta yang daftar 500 saya urutan 505 :’)

Leave a Reply