Motherhood, Thoughts
comment 1

#ModyarHood: 4 Pelajaran Penting Dari Buku-Buku Parenting

Hahaha, first of all, saya mau memperkenalkan sebuah… apa ya, program kecil-kecilan bernama #ModyarHood dengan semangat ‘Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud’.

Program ini sebetulnya ide awalnya dari Mbak Okke ‘Sepatumerah’ yang sekarang sudah bertransformasi menjadi Mamamolilo, hahaha. Jadi #ModyarHood ini akan menginisiasi sebuah topik setiap bulannya (rencananya) seputar motherhood yang kemudian akan dijadikan blogpost oleh kami berdua. Diharapkan para buibuk lainnya bisa ikutan menulis blogpost dengan topik tersebut. Tujuannya untuk menampilkan lebih banyak sudut pandang tentang motherhood itu sendiri sehingga kita bisa lebih arif dalam menyikapi perbedaan. HAZEK!

Nah, topik perdana #ModyarHood ini adalah seputar buku parenting. Ide ini berasal dari saya, karena sudah lama saya pengen sharing buku-buku parenting apa saja yang sudah saya baca, namun ya ituuu belum sempat :p

Alasan saya suka baca parenting:

  • Secara umum bisa dipertanggung jawabkan, selama penerbitnya kredibel
  • Kita tau konteks sebuah teori atau pemikiran dari latar belakang penulisnya, misalnya zen parenting akan merefer ke nilai-nilai spiritual Buddha, sementara western parenting cenderung menjunjung kebebasan, dst
  • Saya memang suka baca aja… hahahaha

Sejak hamil (2016) sampai hari ini saya sudah membaca 13 buku seputar bayi, anak, dan parenting. List lengkapnya bisa dicek di sini. 13 buku tersebut cukup beragam, ada yang ditulis oleh psikolog, ahli zoologi sampai insinyur sipil; pria maupun wanita; dari timur sampai barat; dari yang zen banget sampai yang ambisius banget. Mudah-mudahan kapan-kapan saya sempat bahas satu persatu, namun yang pasti di post ini saya ingin sharing 4 pelajaran penting dari baca buku-buku parenting.

Oke, mari kita mulai:

1. Baca satu buku aja nggak cukup

Secara garis besar saya baca buku parenting yang mewakili parenting style dari timur sampai barat. Ternyata isi dan rekomendasinya beda-beda dan kadang berseberangan banget! Misalnya Amy Chua sang Tiger Mom yang menganut Chinese parenting style. Untuk dia anak harus ikut apa kata orang tuanya dan dia memaksa kedua anaknya untuk tetap latihan biola dan piano saat liburan! Umur 2 tahun, anaknya bahkan sudah bisa berhitung dan hafal beberapa aksara Mandarin. Nah, ini jelas berseberangan sama pola happy parenting ala Denmark yang membebaskan anak untuk bermain sebanyak-banyaknya agar kelak si anak bisa menjadi pribadi yang ‘slow’ dan nggak cepat stress.

Beda banget kan? Ya beda lah, kondisi negara dan keluarga masing-masing kan beda. Di Denmark penduduknya jarang dan negaranya sangat protektif pada hak-hak warga negaranya sehingga hidup berkeluarga pun lebih hygge. Pasti pola pendidikan anaknya beda dengan negara yang penduduknya dari lahir pun harus bersaing dan banting tulang.

Oleh karena itu…

2. Jangan memaksakan pandangan kita ke orang lain, karena setiap orang tua sama ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi beda-beda cara dan kondisinya

Untuk saya, membaca berbagai buku parenting akhirnya membuat saya lebih bijak sebelum menjudge orang tua lain. Misalnya nih, dulu saya suka sebel sama orang tua yang ngebiarin anaknya pukul-pukulan sama anak lain, “Kok ya ini orang tua anaknya bukan diurusin malah dibiarin aja berantem…”

Nah, sejak baca beberapa buku parenting, saya jadi tau bahwa memang ada aliran parenting yang membiarkan anak yang berantem dan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau dipikir-pikir ya ada betulnya juga sih… Mungkin dari pengalaman berantem kecil-kecilan gitu anak jadi belajar menghadapi konflik tanpa campur tangan orang tuanya.

Namun perlu diingat sekali lagi kalau…

3. Nggak semua teori di buku parenting bisa diterapkan

Kredibilitas dan daftar pustaka yang bisa dipertanggungjawabkan biasanya datang bersama teori dan studi-studi statistik. Nah, kadang teori-teori ini menyebabkan kita terpaku, seolah-olah kalau nggak sesuai teori berarti nggak bener. Misalnya nih teorinya: anak harus disiplin makan di highchair tanpa gadget, tanpa mainan, dan harus konsenstrasi menikmati makanannya. Kenyataannya? Berapa banyak sih yang mampu begitu :’)))))

Untuk saya sendiri, baca banyak buku parenting bikin saya nggak terlalu insecure kalau kita nggak sesuai sama teori di suatu buku ya bisa menghibur diri dengan bilang, “Teori bisa macem-macem alirannya, anak juga bisa macem-macem jenisnya.”

Jadi…

4. Tetap berpegang teguhlah dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut

Pada akhirnya, setelah sekian banyak buku yang saya baca, saya semakin bahwa orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak.

Namun ya balik lagi, ‘terbaik’ adalah sesuatu yang personal dan tentu tergantung pada prinsip dan nilai-nilai yang kita anut. Menurut saya, itulah yang harus kita pegang teguh agar anak bisa mencontohnya langsung dari kita dan konsisten dalam penerapannya.

*

Begitulah pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari membaca buku-buku parenting. Mudah-mudahan bisa mencerahkan. Kalau buibuk di sini termasuk yang hobi baca buku parenting seperti saya atau yang let it flow berdasarkan instinct saja seperti Mbak Okke?

Untuk postnya Mamamo bisa cek di link ini ya :D

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: #Modyarhood: Menjadi Orang Tua (yang Lebih) Bijaksana dengan Membaca Parenting Books – Fitrah MP's Blog

Leave a Reply