Review, Wanderlust
Leave a comment

Berkunjung Ke Museum MACAN Bersama Keluarga

Weekend kemarin saya bersama suami dan Antariksa berkunjung ke The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara alias Museum MACAN. Sebelum pergi, saya sudah mempersiapkan cadangan kesabaran karena museum ini disebut-sebut sebagai spot #InstagramableYangBerbudaya2017 :p

Sehari sebelumnya kami sudah membeli tiket online melalui website resmi Museum MACAN. Pembelian tiket online ini mudah dan cepat, nggak perlu diprint dan pembayarannya bisa menggunakan kartu kredit maupun transfer bank. Namun harus diperhatikan bahwa online tiket ini ada periode berlakunya yaitu 2 jam, jadi misalnya kita pilih periode jam 12.00-14.00 artinya kita nggak boleh telat masuk kurang dari jam 12.00 atau lewat dari jam 14.00.

Saya bersyukur atas keputusan beli tiket online, karena antriannya lumayan panjang :’)) Bersyukurnya pun dobel karena kami bertemu Mbak Martha W. Soemantri, Head of Visitor Services & Facilities Museum MACAN yang juga temannya suami :3 Saya jadi bisa nanya-nanya.

Art Turns. World Turns.

Berdasarkan informasi dari websitenya, Museum MACAN ini luasnya 4000m2 dan terdiri dari beberapa lantai. Namun untuk saat ini eksibisi perdana mereka yang bertajuk ‘Art Turns. World Turns.’ atau diterjemahkan sebagai ‘Seni Berubah. Dunia Berubah.’ digelar di satu lantai saja.

Eksibisi ini memiliki 90 karya (dari 800an yang dimiliki oleh Haryanto Adikoesomo) seniman Indonesia mulai dari Raden Saleh, Dullah sampai A.D. Pirous, dan internasional mulai dari Andy Warhol, Mark Rothko sampai Takashi Murakami. Iya, karyanya oma Yayoi Kusama ada juga, tapi berupa sculpture dan instalasi yang sangat heitsss itu: ‘Infinity Mirror’. Semuanya dibagi dalam 4 bagian yang tersusun secara kronologis:

  • Bumi, Kampung Halaman, Manusia (Land, Home, People)
  • Kemerdekaan dan Setelahnya (Independence and After)
  • Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi (Struggles Around Form and Content)
  • Racikan Global (Global Soup)

Modern & Cozy

Berhubung saya nggak punya kapabilitas untuk membahas aspek seni dari karya-karya ini, maka saya akan membahas yang praktis-praktis saja ya, hahahah.

Kalau dibandingkan dengan museum-museum seni di Indonesia yang pernah saya kunjungi, Museum MACAN ini modern dan sangat cozy. Soal kenyamanan dan penataannya, menurut saya saya sudah seperti museum-museum modern di negara-negara maju (Aussie, UK, Singapore, dst). Ukurannya pun saya rasa ‘pas’, nggak terlalu besar untuk ‘masyarakat pada umumnya’ namun lapang untuk memberi spasi yang cukup antar karya. Kalau lagi lengang sepertinya bisa bikin betah berkontemplasi di depan karya deh. #HAZEK

Nyaman dan Kondusif Untuk Anak

Salah satu yang bikin saya bilang kalau ini sudah seperti museum-museum modern di luar negeri adalah: kenyamanan untuk membawa anak-anak. Walaupun waktu saya berkunjung kondisinya ramai, bagi kami masih nyaman membawa Antariksa. Seperti yang sudah saya bilang, ruangannya nggak terlalu sempit, jadi enak untuk dorong-dorong stroller tanpa khawatir menyenggol pengunjung lain apalagi karya.

Selain stroller firendly, Museum MACAN juga menyediakan sebuah nursing / baby changing room yang cukup nyaman dengan wastafel dan dispenser, walaupun belum ada changing pad-nya. Namun oke kok untuk menyusui dan ganti popok.

Selain itu pada ada museum guide khusus untuk anak-anak dan pada karya-karya yang penting ada keterangan dengan bahasa yang lebih sederhana untuk anak-anak. Walaupun Antariksa belum ngerti, tapi saya jelasin saja karena saya juga jadi lebih ngerti (misalnya nih, saya bingung lah ya kalau mau ngejelasin kenapa karya-nya Rothko nilai seni-nya tinggi padahal kaya “ya gitu aja”… Nah dengan keterangan untuk anak-anak jadi lebih gampang memahaminya :’))

Museum Guide untuk Umum dan Anak-Anak

Interaktif :3

Contoh keterangan karya

Keterangan karya untuk anak-anak

Ruang Seni Anak

Furthermore, terdapat Ruang Seni Anak (Children’s Art Space) yang cantiiiiikkk banget, sampai-sampai orang dewasa pun pada foto-foto di sana. Saya nggak tau apakah Ruang Seni Anak ini akan diupdate secara berkala, namun saat ini temanya adalah ‘Floating Garden’ karya Entang Wiharso. Floating Garden ini terinspirasi dari keinginannya agar anak-anak tidak melupakan alam walaupun hidup di kota.

Di sini anak-anak bisa melakukan aktivitas seperti mengarsir, mewarnai dan membuat prakarya dengan alat dan materi yang sudah disediakan.

Chlldren’s Art Space

Kesimpulan

Saya seneng banget akhirnya di Indonesia ada juga museum seperti ini :’) Walaupun kalau saya perhatikan masih banyak pengunjung yang sangat self-centered dan rela nyuruh pengunjung lain yang lagi lihat-lihat karya untuk minggir karena mereka mau foto (!!! UGH !!!), saya berharap Museum MACAN bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk lebih mengapresiasi seni.

Selain itu Museum MACAN juga bisa menjadi alternatif tujuan jalan-jalan keluarga di akhir pekan, yah supaya nggak ke mall lagi, ke mall lagi. Apalagi kalau kita matikan ponsel kita sejenak dan betul-betul menikmati karya-karya hadapan kita (nggak kok, nggak harus mengerti), akan ada banyak topik baru yang bisa diperbincangkan bersama pasangan dan anak :)

Informasi Umum

Museum MACAN

AKR Tower Level MM
Jalan Panjang No. 5 Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530
Indonesia
Telepon +62 21 2212 1888

Buka Selasa – Minggu (Senin tutup)
Jam 10.00 – 19.00
Kunjungan dan penjualan tiket tutup pukul 18.00.

Tiket masuk:
Dewasa: Rp50.000
Pelajar: Rp40.000
Anak-anak <12 tahun: Rp30.000

Fasilitas:

  • Toilet
  • Ruang menyusui
  • Ruang medis
  • Tempat penitipan barang
  • Cafe by 1/15 Coffee

Semoga bermanfaat bagi yang ingin jalan-jalan bersama keluarga ke Museum MACAN :3 Aum!

Leave a Reply