Movies, Review
comments 7

Nonton ‘Dilan 1990’, Manisnya Masih Nempel

Sebetulnya saya sudah menjadwalkan sebuah blog post untuk besok, namun saya merasa saya harus buru-buru posting soal yang satu ini: Film ‘Dilan 1990’. Hahahahaha #HEBOH

Yup, jadi semalem saya nonton film yang lagi hits ini bersama suami. Suami saya memang salah satu followers Ayah Pidi Baiq dan dengan iming-iming “Ini settingnya Bandung tahun 1990 loh…” beliau pun rela menemani saya. Untung ikhlas :’) (Eh ikhlas kan, Bang?)

Sebetulnya dari awal saya sudah penasaran karena komentar orang-orang yang rata-rata bernada positif. Kemudian tengok-tengok timeline kok pada bilang “Ga kuat manisnya…” Sebagai mamak-mamak pecinta komedi romantis dan senang digombalin ya tertarik dong! Saya sendiri sebetulnya bukan pembaca novel ‘Dilan’ karena pernah ngintip di toko buku terus nggak tergugah untuk baca sampai habis :p Namun saya sudah familiar dengan kutipan-kutipan Pidi Baiq yang out of the box: romantis tapi suka absurd. Yah, khas anak seni rupa lah. #SOTOY #yatapikanKak #akubicaraberdasarkanpengalaman #UHUK

Jadi datanglah kami ke bioskop dekat rumah. Seperti dugaan saya, isinya kebanyakan ABG-ABG cewek fansnya Iqbal yang kayanya udah nonton untuk ketiga kalinya. Ya udah lah, pasrah :’) Walaupun suudzon di awal, eh setelah 110 menit di bioskop bersama ABG-ABG tersebut saya kok malah ikutan jadi ABG lagi. #pret #hahaha

Singkatnya saya harus bilang kalau ‘Dilan 1990’ ini:

SURPRISINGLY GOOD!

Kenapa ‘surprisingly‘? Karena sebetulnya saya dateng nggak bawa ekspektasi apa-apa. Saya juga nggak begitu ngeh Iqbal CJR itu yang mana dan baru pertama kali mau lihat Vanesha akting. Selain itu, kalau baca sinopsisnya ya ceritanya begitu-begitu aja tentang kisah cinta masa SMA.

Cerita yang Begitu-Begitu Aja

Seperti bukunya, kisah yang berlatar Bandung tahun 1990 ini diceritakan dari sudut pandang Milea (Vanesha Prescilla) yang merupakan anak baru di SMA di daerah Buah Batu, Bandung, pindahan dari Jakarta. Milea ini kemudian ditaksir oleh Dilan (Iqbal Ramadhan), teman sekolahnya yang juga panglima tempur geng motor yang sweet tapi absurd. Sebetulnya Milea ini punya pacar di Jakarta bernama Benny (Brandon Salim) dan ditaksir sama ketua kelasnya plus guru les privatnya yang mahasiswa ITB. (Mon maap, saya juga kalo jadi mereka mah pasti bakal naksir juga ama Vanesha… Thanks)

Film ini pun bergulir seputar PDKT Dilan ke Milea, teleponan, ngasih kado, jalan-jalan naik motor, lalu Milea yang akhirnya harus putus sama Benny karena LDR, galau karena Dilan sempat ngilang, dst. Intinya mah biasa weh.

Dilan dan Milea

Jadi Apa Yang Tidak Biasa?

Nah, menurut saya untuk cerita cinta-cintaan anak SMA yang saya bilang biasa tadi, dialog-dialog dan kata-kata di dalamnya sangat nggak biasa dan dengan baik menerjemahkan keabsurdan dan romantisme Pidi Baiq menjadi sebuah film. Salut saya sama Pidi Baiq yang sukses tetap jadi dirinya sendiri yang unik dan original!

Perhatian Dilan yang manis-aneh-gemas ke Milea diperankan dengan ‘tepat’ oleh Iqbal, dan diterima dengan ‘tepat’ juga oleh Vanesha. Walaupun saya yakin banyak yang merasa aneh dengan cara Dilan ngomong, tapi lama-lama terasa pas aja. Reaksi Milea yang GR campur bingung campur seneng campur campur juga ‘dapet’ banget.

Ya bingung nggak sih lau kalo gebetan nyuruh bawa pulang kerupuk separo buat dimakan di rumah? #menurutngana

Intinya menurut saya chemistry antara Iqbal & Vanesha juara! Selain itu perhatian dan gombalan-gombalannya sangat bikin gemas pengen jejeritan. (LAH SIAPA YANG DIGOMBALIN SIAPA YANG PORAK PORANDA PERASAANNYA?)

Dilan dan Milea SO SWEET

Oh iya, terus yang bilang Iqbal kurang Sunda, kok malah menurut saya pas banget yaaa jadi cowok-cowok Bandung yang momotoran gitu. Ada adegan Dilan minta tolong temennya bawain motornya karena dia mau jalan kaki sama Milea pake Bahasa Sunda sehari-hari, et dah menurut saya pas banget kok ya? :’)))))

Apa Kurangnya?

Saya bukan kritikus film jadi saya mau nulis yang bikin saya merasa kurang sreg aja yaa:

  • Alurnya… Mungkin karena ada faktor durasi juga? Rasanya lompat-lompat dan nggak begitu smooth pindahnya. Terus kok yang tiba-tiba Milea cepet banget akrabnya sama ibunya Dilan terus langsung beberes kamar segala :’))) That escalated too quickly.
  • Ada adegan naik mobil lalu dari jendelanya diedit jadi suasana Bandung tahun 1990an. Nah, ini kelihatan banget editannya :’)))) Jadi malah ganggu menurut saya.

Selain itu, jujur saya saya merasa nggak bisa relate sama kisah dan settingnya. Ya mungkin karena saya kuliah di Bandung belasan tahun kemudian kali yaa, jadi beda gaya hidupnya juga mungkin. Sebagai perbandingan, salah satu contoh yang saya bisa relate adalah Ada Apa Dengan Cinta, mungkin karena zamannya pas, hehehe.

Jadi, Ibu-Ibu Perlu Nonton Nggak Nih?

Kalau suka rom com kaya saya harus nonton!!!

Menurut saya ini film yang begitu selesai masih bikin kebayang-bayang soalnya manisnya tetep nempel sampai pulang hahaha. Saya aja yang tadinya kesel sama ABG-ABG fans Iqbal eh pas keluar bioskop langsung pengen grup hug sama bikin gelang persahabatan. #APAANSIH

Untung inget anak di rumah udah balita. HAHAHA.

Begitulah kira-kira review jujur dari saya :p

Di sini ada yang udah nonton? Pada setuju ga nihhh? #CARITEMEN

7 Comments

  1. Samaan mba Puty, waktu novelnya heboh saya coba baca dikit di google play book dan nggak habis karena ngerasa “duuh cinta-cintaan ABG begini saya udah bukan jamannya”. Sekarang filmnya yang heboh dimana-mana, berhubung disini nggak ada bioskop (hiks) saya beneran beli bukunya di google play book. Duuuh, berasa saya yang jadi Milea, senyum-senyum sumringah dirayu Dilan yang tengil. hihihi.

    Walau inti cerita sebenarnya biasa aja, kayak cerita ABG pada umumnya tapi memang Pidi Baiq mampu menyajikannya dengan gaya yang berbeda. Yang di kotanya ada bioskop harus banget tuh nonton :D saya? baca-baca review begini aja :’)

  2. Setuju kak Puty :”) tadinya mah aku ragu gitu kl si Iqbal yg meranin Dilan karena Dilan kan slengean, tapi liat akting Iqbal jd Dilan aslik langsung kesengsem. Film ini sukses memvisualkan isi buku jadi sesuai bayangan poko’e. Sukak

  3. Nissa says

    Aku udah punya batita.. Di bioskop mesem mesem sendiri. Sampe rumah gagal move on. Sampe donlod soundtrack nya sampe download ebook novel nya. Udh 2minggu berlalu masih aja nihh gagal move on. Hehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.