Month: February 2018

Cerita Ruam Popok: Mencegah Pasti Lebih Baik

Setelah Antariksa menginjak toddlerhood alias sudah setahun lebih, sebagai ibu saya merasa lebih ‘santai’ dalam banyak hal. Rasanya kok, “Ya udahlah ya, udah bukan bayi lagi.” Sampai-sampai kalau ditanya Antariksa umur berapa bulan, saya harus ngitung dulu pakai jari dia sudah berapa belas bulan :’))) #jangandicontohyha Selain makanan pendamping ASI-nya sudah boleh pakai gula dan garam, hal yang saya nggak terlalu khawatirkan lagi adalah soal perawatan kulitnya. Yup, bicara perawatan kulit, saya termasuk beruntung karena Antariksa sudah terbukti nggak punya kulit sensitif. Kadang saya merasa take it for granted juga sih, huhuhu maafin Ibu ya, Nak :p Salah satu ‘perkara’ yang kadang kejadian akibat ‘kesantaian’ saya itu adalah ruam popok, walaupun alhamdulillah sampai saat ini paling parah di tingkat ‘mild rash‘ saja. Namun ya sebagai buibu kasihan dong kalau lihat anak garuk-garuk, apalagi kalau kukunya panjang bisa sampai lecet. Nah, untuk para calon ibu atau ibu baru, seandainya belum ngeh saya bahas sedikit ya soal ruam popok ini. Ruam popok adalah radang atau infeksi kulit pada anak yang terjadi di area yang kontak dengan popok …

Belajar Menghargai Makanan Berkat Media Sosial

Pekerjaan saya saat ini adalah pekerjaan yang menuntut saya untuk terus berkutat dengan media sosial. Walaupun kedengarannya mengerikan seolah-olah saya seperti pengguna narkoba yang butuh rehabilitasi, namun sebetulnya media sosial ini mengenalkan saya juga pada orang-orang / akun-akun yang membawa pengaruh positif. Salah satu contohnya: karena berkolaborasi untuk Living Loving, saya jadi kenal Atit yang sangat rapi, minimalis, dan sedang berusaha menjalani gaya hidup (hampir) zero waste living. Walaupun mungkin saya masih jauh banget dari zero waste living, namun sekarang saya mulai berpikir 2x untuk mengambil sedotan atau menyia-nyiakan kantong kresek. Saya juga ikutan membawa sapu tangan untuk mengurangi penggunaan tissue. Poin pentingnya bukan pada berapa tissue yang saya hemat, tapi mindset untuk mengurangi sampah yang pelan-pelan terbentuk di diri saya (walaupun mungkin ya pelan banget yaaa… hahahaha) Selain itu, berkat media sosial saya jadi lebih menghargai makanan dan orang-orang yang berjuang untuk menghasilkannya. Sejujurnya saya bukan penggemar makanan sehat dengan embel-embel organik, glutten free, non-GMO, fair trade, vegan, dll. Kenapa? Ya karena asumsi saya makin panjang embel-embelnya makin tinggi harganya, HAHAHA. Namun belakangan saya …