Review, Thoughts
comments 3

Belajar Menghargai Makanan Berkat Media Sosial

Pekerjaan saya saat ini adalah pekerjaan yang menuntut saya untuk terus berkutat dengan media sosial. Walaupun kedengarannya mengerikan seolah-olah saya seperti pengguna narkoba yang butuh rehabilitasi, namun sebetulnya media sosial ini mengenalkan saya juga pada orang-orang / akun-akun yang membawa pengaruh positif.

Salah satu contohnya: karena berkolaborasi untuk Living Loving, saya jadi kenal Atit yang sangat rapi, minimalis, dan sedang berusaha menjalani gaya hidup (hampir) zero waste living. Walaupun mungkin saya masih jauh banget dari zero waste living, namun sekarang saya mulai berpikir 2x untuk mengambil sedotan atau menyia-nyiakan kantong kresek. Saya juga ikutan membawa sapu tangan untuk mengurangi penggunaan tissue. Poin pentingnya bukan pada berapa tissue yang saya hemat, tapi mindset untuk mengurangi sampah yang pelan-pelan terbentuk di diri saya (walaupun mungkin ya pelan banget yaaa… hahahaha)

Selain itu, berkat media sosial saya jadi lebih menghargai makanan dan orang-orang yang berjuang untuk menghasilkannya. Sejujurnya saya bukan penggemar makanan sehat dengan embel-embel organik, glutten free, non-GMO, fair trade, vegan, dll. Kenapa? Ya karena asumsi saya makin panjang embel-embelnya makin tinggi harganya, HAHAHA. Namun belakangan saya jadi buka-buka akun-akun makanan sehat dan di situ saya jadi tau cerita di baliknya. Kenapa sih kok mahal? Ya namanya juga beli yang mahal jadi lebih terdorong untuk mencari tau kan :p #MAMAKPELIT

Berkat media sosial saya diingatkan lagi betapa panjang proses makanan untuk sampai bisa tiba di atas meja makan. Bahwa sebetulnya segenggam padi, seikat sayur atau seekor ikan boleh jadi datang dari perjuangan dan perhatian yang kadang kita anggap gampang. Sekali lagi, bukan masalah harganya dan berapa nominal rupiahnya, tapi penghargaan terhadap makanan itu sendiri.

Penghargaan, Pengolahan dan Kemasan

Nggak hanya bikin saya lebih menghargai makanan, dari beberapa akun media sosial saya bisa belajar dan terkagum-kagum pada orang-orang yang punya penghargaan tinggi dan passion besar pada makanan. Tentu saja @kelincitertidur adalah salah satunya. Setiap kali Ai bercerita soal masak dan menyiapkan makanan, saya selalu merasa didongengin sesuatu yang indah :’)

Kale

Kemarin saya mencicipi  produk dari Sunskrisp berupa Kale Chips dan Gomashio Kale Flakes alias abon kale. Yup, kale yang sayuran pahit itu dibikin chips dan abon! Kreatif banget kan? Kok ya bisa kepikiran ya mengolah kale seperti ini, sampai bisa jadi tahan lama dan bisa dinikmati kapan saja. Rasanya? Enak, gurih dan bisa banget dijadikan alternatif penambah rasa untuk anak karena aman, tanpa pengawet dan MSG.

Gomashio Kale Flakes Sunkrisps

Gomashio Kale Flakes Sunkrisps

Kalau melihat Instagramnya, diceritakan bagaimana kale-kale ini ditanam, dijaga dan diperhatikan sedemikian rupa sebelum dipanen dan diproses. Melihat proses treatment-nya membuat saya lebih mengerti kenapa makanan organik itu mahal juga bagaimana harusnya manusia bersyukur untuk setiap suapan yang menghidupi jiwa dan raga kita.

Lele

Itu kale. Berikutnya lele. Kemarin saya juga baca melalui media sosial senior saya di kampus, Ichanx, (yang dulu juga blogger terkenal hahaha) cerita soal panen lele. Lele yang selama ini saya anggap ikan yang beda kasta-nya jauh dengan ikan salmon, ternyata butuh pemeliharaan yang rumit loh mulai dari memberi makan, menguras kolam, membersihkan kotoran, eksperimen untuk campuran probiotik, oksigen, cara menetralisir air asam, dst. Makasih loh, Chanx, nambah pengetahuan.

Ternyata rumit kan?

Masih soal lele, tahun lalu saya dikenalkan kepada Fish Express. Fish Express merupakan produk olahan ikan berupa filet yang dimiliki oleh salah satunya Teh Ulu ‘Bandung Diary’ dan berasal dari kolam keluarganya. Kolamnya ada di Ciparay, dan melalui akun Instagramnya, Fish Express kadang menceritakan soal ikan-ikannya, misalnya di post ini. Sebetulnya sudah lama saya pengen bikin blog post khusus untuk Fish Express, namun belum sempat-sempat, jadi saya putuskan untuk menulisnya sedikit di sini.

FIlet Ikan

FIlet Ikan

Fish Express ini menyediakan filet 3 jenis ikan yaitu lele, dori dan gurami. Berhubung bentukannya filet jadi mudah banget untuk dimasak bagi kita terutama para ibu-ibu yang khawatir anaknya keselek duri ikan. Sekali lagi saya belajar untuk bersyukur bahwa ada orang-orang hebat yang membesarkan ikan-ikan ini, memanennya, dan mengolahnya hingga bisa ada di atas meja makan dalam keadaan bebas duri :’)

Kemasan Juga Bentuk Penghargaan

Saya juga mengikuti Pipiltin Cocoa di Instagram. Tag line Pipiltin Cocoa adalah ‘chocolate from scratch‘. Sesuai dengan slogan tersebut, melalui website dan media sosialnya Pipiltin juga menceritakan proses panjang yang dialami biji cacao untuk sampai menjadi chocolate bar dengan kemasan cantik yang siap dinikmati.

Yup, walaupun bukan segalanya tapi saya yakin kemasan juga salah satu bentuk penghargaan terhadap makanan dan proses panjang di belakangnya.

Pipiltin Cocoa

Hmm, sebelum terlalu panjang post-nya, dicukupkan tiga dulu deh. Nggak cuma akun-akun produk sih yang membangun kesadaran, akunnya Rara dan Ben pun sejak mereka tinggal di New Zealand pun sangat menginspirasi suami untuk mulai berkebun. Walaupun masih jauh dari #RaraBenHomeGarden dan saya masih nggak punya minat untuk berkebun. Namun berkebun kecil-kecilan dengan modal nanyain suami, “Gimana, tumbuh nggak tanamannya?” saya jadi mikir, “Ya ampun susah ya ngerawat tanaman itu. Mana kan lama banget tumbuhnya. Mulai sekarang kalau dikasih timun di nasi goreng harus diabisin deh!”

Kesimpulannya…

Kesimpulannya adalah: Yes, social media can be toxic but it can be source of inspiration and starting point of A LOT OF positive movement! Tergantung siapa yang kita follow dan bagaimana memaknai-nya. Bagaimana memaknai pasti kembali ke orang masing-masing juga sih, kalau kitanya juga penuh pikiran negatif, ya apa-apa pasti akan dinyinyirin. Namun kalau kita mau berpikiran positif dan membuka diri, banyak banget pelajaran yang bisa kita ambil :)

Bagaimana dengan teman-teman? Sudahkah belajar sesuatu dari media sosial hari ini?

3 Comments

  1. Tanggal 21 kemarin adalah Hari Peduli Sampah Nasional, saya nonton di CNN Indonesia kalau masyarakat Indonesia adalah terbesar kedua setelah Arab Saudi yang paling banyak membuang sampah makanan. Rata2 dalam setahun setiap orang di Indonesia menghasilkan 500 kilogram sampah makanan. Ironis sekali jika dibandingkan dengan masih banyaknya negara-negara yang rakyatnya kelaparan. Semoga kita terus disadarkan untuk terus bergerak melawan diri sendiri untuk tidak membuang makanan dan konsisten untuk belajar bersyukur ?

  2. Setuju banget soal media sosial. Walaupun banyak orang (sampe media-media besar) bilang kalo socmed bisa bikin ketergantungan dan ga baik buat hidup, semua balik lagi ke diri sendiri. Aku juga punya pengalaman, temenku ceramah soal ga pentingnya socmed, jadi sebel sendiri. Padahal semua tergantung apa yang kita share dan kita ikuti. Btw kita sama banget mbak, aku juga suka ngikutin orang2 yg mbak sebut di atas, kayak Kak Ai dan Rara. Lihatnya aja adem dan bahagia hehe.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.