Thoughts
comments 9

Salah Paham Pada Introvert (Versi Saya)

introvert

Setiap kali saya menyebutkan bahwa saya adalah seorang introvert, banyak orang yang nggak percaya. Teman-teman yang baru kenalan dengan saya ataupun tau saya dari dunia maya biasanya bilang, “Hah, masa sih introvert? Kok bisa rame?” atau “Kok suka jayus?” (<– kalau ini bawaan lahir kali ya?) atau “Kok kayanya ramah-ramah aja?”, dst.

Sebelum kenal MBTI aliasMyers–Briggs Type Indicator, saya termasuk orang yang menganggap diri saya sendiri kurang pintar bergaul. Saya nggak selalu merasa nyaman ada di lingkungan baru dengan orang-orang yang belum saya kenal. Hidup di Indonesia yang menjunjung keramahan dalam bentuk ‘ketemu di angkot bisa langsung ngobrol dari harga cabe sampai curhat soal cicilan’, ada masa-masa saya menganggap diri saya ‘aneh’.

Saya lupa kapan tepatnya tapi saya ingat betapa leganya saya saat mengetahui bahwa saya nggak ‘aneh’ karena berdasarkan teori psikologi memang ada tipe manusia yang dapat energi kalau berinteraksi dengan orang lain, yaitu extrovert, dan ada pula yang justru harus menggunakan energinya untuk bersosialisasi sehingga kalau energi ini habis perlu di-charge dengan cara menyendiri.

Introversion is the state of being predominantly interested in one’s own mental self. Introverts are typically perceived as more reserved or reflective. Some popular psychologists have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. This is similar to Jung’s view, although he focused on mental energy rather than physical energy. […]

[…] An introvert is likely to enjoy time spent alone and find less reward in time spent with large groups of people, though they may enjoy interactions with close friends. Trust is usually an issue of significance: a virtue of utmost importance to introverts is choosing a worthy companion. They prefer to concentrate on a single activity at a time and like to observe situations before they participate, especially observed in developing children and adolescents. They are more analytical before speaking. […]

[…] Mistaking introversion for shyness is a common error. Introversion is a preference, while shyness stems from distress. Introverts prefer solitary to social activities, but do not necessarily fear social encounters like shy people do. […]

Wikipedia

Yang Orang Sering Salah Mengerti…

Seperti yang saya bilang, sebelum era internet dan interaksi melalui teks dan media sosial seperti sekarang, menjadi introvert di Indonesia adalah sebuah tantangan, hehehe. Namun menginjak tahun-tahun terakhir di usia 20-an, saya bisa dengan mantap menyatakan bahwa saya adalah seorang introvert and there’s nothing wrong about being one.

Berikut adalah hal-hal yang sering disalahartikan banyak orang tentang orang-orang introvert berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Introvert adalah penyendiri dan nggak punya teman

Bahkan saat saya masih menganggap diri saya nggak pintar bergaul, saya selalu punya sahabat dalam setiap tahap kehidupan saya: SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, bahkan saat sekarang sudah menjadi ibu-ibu. A lot of people think that introverts hate people, but in fact, we are good at deeper lever of friendship. Or most of us, I guess. I’ve never been good at party going, constantly waving hi-bye and probably will never be one. However, I’m pretty good at making my best friends feel special, or sending people hand made birthday card.

So yeah, introverts can have friends & best friends, and we can make and be ones as well :)

Introvert orangnya pasti kaku / nggak ramah

Menurut saya nggak juga, karena yang pasti kaku adalah kanebo kering. #apasih Jadi kalau saya baru pertama kali bertemu seseorang, saya cenderung mengamati dulu bagaimana respon atau penerimaan orang tersebut kepada saya. Seperti yang sudah disebutkan di petikan artikel Wikipedia di awal, “[…] They prefer to concentrate on a single activity at a time and like to observe situations before they participate […]” Saya pribadi pun begitu. Nah, kalau sekiranya saya sudah punya gambaran tentang orang-orang yang akan saya temui, saya lebih nyaman untuk memulai interaksi.

Oleh karena itu, kalau ada acara gathering / sharing session, saya seperti sudah punya bayangan, “Hmm, nanti bisa ngobrol seputar topik ini atau itu deh pas ketemuan.” Dengan demikian masa-masa awkward untuk observasi bisa diminimalisir, makanya mungkin ada berpendapat kalau saya ramah. WELL, I SINCERELY AM, just give me some time and some books for the following evening :’)

Introvert nggak bisa bicara di depan umum

FYI, saya dulu lumayan sering juara pidato loh, hahaha. Menurut saya public speaking sebetulnya adalah sebuah skill yang bisa dilatih. I have to say that I’m not a natural one. Sebelum presentasi atau acara, saya harus latihan dulu beberapa kali untuk meningkatkan rasa percaya diri saya. Biasanya saya juga berusaha cari tau dulu seperti apa audiens saya. So, yeah, I can do public speaking properly, though not really naturally or spontaneously. Saya meyakini para introverts lainnya pun begitu.

Silakan simak petikan artikel berikut:

“At least half of people who speak for a living are introverted in nature,” according to Jennifer B. Kahnweiler, Ph.D, a certified speaking professional, executive coach and author of Quiet Influence: The Introvert’s Guide to Making a Difference.

Introvert nggak bisa kerjasama / kerja tim / kolaborasi

Yes, I prefer working alone, but I surely can do team work. I like brainstorming and I don’t hate meetings. I like ideas other than my own dan tentu saya senang berbagi tugas agar lebih ringan dan cepat selesai. Namun ketika sudah waktunya eksekusi, saya memang lebih suka mengerjakan apa yang menjadi bagian saya sendirian. Waktu kuliah pun saya mencoba belajar bareng di kosan teman dan saya nggak bisa konsentrasi. Energi saya seperti harus mengalir untuk 2 kegiatan: belajar dan berinteraksi, sehingga rasanya melelahkan banget.

So, yes, I can do collaboration :)

Introvert nggak asyik

Well, this one might be true if your definition of ‘asyik’ is partying or clubbing all night long, hehehe. Coba kalau diajak crafting bareng, I think I’m pretty good and ‘asyik’. #LAH #SELFPROCLAIM

Sekali lagi, ini berdasarkan pengalaman pribadi saya saja loh ya. Kalau mau membahas MBTI lebih jauh, introvert pun bisa terbagi jadi 8 jenis. Namun menurut saya, mengetahui diri kita adalah langkah awal untuk menerima dan mencintai diri kita sendiri :)

Apakah ada teman-teman introvert yang pernah mengalami apa yang saya alami? Atau justru malah baru tau soal introvert / extrovert setelah baca tulisan ini? Hehehehe…

9 Comments

  1. akuuu akuuu kak puty. Terutama part belajar bareng. Itu beneran nguras enegi hafus pay attention sama temen dan juga harus belajar diwaktu yang bersamaan.
    Prefer ngutak ngatik bikin handmade ketimbang partying aku nggak kuaaaf mba interaksi teflalu banyak orang melelahkan .

    Lebih senengan jalan sendiri. Karena kalah ada temen capek harus memahamj hahaha

  2. Aku zaman sekolah ekstrovert mba… sampai akhirnya pas kuliah malah berubah jadi introvert bgt hehe… sempet nggak pede sama dri sndiri pas awal-awal, ngerasa aku kok ya gini. Tapi beberapa bulan terakhir jadi pede sih krn aku nulis ttg hal tu dan trnyata jd kekuatan sndr buatku. Pdhl aku kuliah jurnalistik. Hrus wwncra org setiap saat dan itu ujian bgt krn aku gabisa yg duluan deketin orang, nggak suka nanya2 :’). Jd introvert kdg dipenuhi ketakutan, takut salah sikap, takut slah ngomong, bener banget penuh pertimbangan dalam hidupny :’)

    Sila berkunjung jg di tulisan saya hehe https://retnonurulaisyah.wordpress.com/2018/03/04/seorang-ekstrovert-yang-menjadi-introvert-lalu-menjadi-ekstovert/

  3. Tulisannya bagus, Mbak. Informatif sekaligus menghibur. =))

    Pas baca ini, beberapa kali merasa ‘ih aku banget!’, hahaha. Misalnya, musti latihan berkali-kali untuk presentasi/public speak biar lebih percaya diri, energi yang tersedot saat berinteraksi dengan orang lain, kebutuhan me-time untuk recharhe energi, dan ‘making my best friend feel special’. Atau kayaknya semuanya sama deh. Terutama bagian ‘jayus’-nya. ?

    Saya juga seorang introvert, bahkan pernah mengalami masa-masa di mana menyesali diri yang terlahir sebagai introvert, kenapa nggak extrovert aja gitu. Karena in some ways, kepribadian ini agak bikin ‘susah’. Tapi, sekarang sih daripada menyesali, saya lebih ke menangani dan menyiasati supaya bisa melakukan apa yang extrovert bisa. Setidaknya, saya mau buktiin kalau seorang introvert juga bisa?walau usahanya lebih, hehe.

    Waduh, kok jadi panjang gini ya komennya, hahaha. Salah sangka lapak ngeblog nih kayaknya, kebiasaan ngetik panjang saya jadi kambuh. ? Pokoknya, keep writing and inspiring, Mbak Puty!

  4. Awalnya saya merasa diri saya introvert tapi setelah menilik lebih dalam, saya juga bisa seringkali bisa berbaur dengan orang banyak. Hanya saja, lebih nyaman mengerjakan sesuatu sendiri dan hanya bisa fokus pada satu kerjaan di satu waktu tertentu.

    Baca tulisan teh puty jadi merasa mantap kalau saya ini introvert. Sebelumnya saya merasa aneh juga dengan karakter ini. Tapi, sepertinya tidak ada yang salah dengan menjadi introvert. well, this is gift.

  5. Introvert dan ekstrovert sebenernya sifatnya kayak kutub aja sih mba, jadi ngga saklek mutlak gitu masuk satu kategori itu. Masing2 dr kita punya dua kutub tsb, cuma mana yg dominan aja and it may grow kl dr yg pernah aku baca ?

    Aku udh ngeh aku introvert dr SMP, keseringan baca majalah Gadis isi kuis2an ? Tapi pas kuliah disodorin teorinya dan ikut tes, mayan surprise pas liat kadar extro ku juga mayan tinggi ? So, I don’t define my self into one pole only, fleksibel ajah meski sejatinya ku naque intro deep down inside hahah!

    Ttg bgn introverts are good speaker itu bnr bgt, dosenku dl ada yg begitu. Keliatan ekstro tp aslinya intro ? Aku jg suka di-misjudge, katanya cerewet. Padahal mah cerewet kl udh nyaman sm lingkungannya aja hahaha

  6. Anggie says

    Baca ini, dannn, “ini gw banget” wkwk
    Terlihat tidak ramah
    Bukan berarti tidak bisa menjalin suatu hubungan ? ga semua orang yg diem dilingkungan ramai itu judes, mungkin dia masih mengumpulkan energi untuk memulai :”)
    agak berat untuk hidup menjadi seorang introvert dan bekerja dilingkungan yang harus berbaur dengan banyak orang.
    Tulisan ini sangan informatif buat temen-temen lain yang blm tau apa itu introvert. Thanks mbak puty!! ???

  7. Riema says

    Yuhuu.. Tulisannya edukatif + informatif. I’m also an introvert Mbak Puty.. Tapi buatku pribadi, the art of being introvert is.. we can still enjoy our “own time” without feeling lonely (yeah?), but if we meet someone else, just switch!!! without losing our identity.. Saya seneng jadi introvert, and there’s nothing wrong dengan itu.. ?

  8. aku merasa introvert, tapi berkali-kali ambil tes tetep aja introvert ga pernah dominan :D Cenderung fifty-fifty, jadinya ambivert. Emang sih, aku mah diajak party hayuk (kalo lagi mood), diem di rumah baca buku seharian hayuk pisan. Jalan-jalan sendiri paling suka, jalan-jalan barengan juga gapapa asal jangan grup besar dan jangan seharian penuh.

Leave a Reply