Work & Business
comments 6

Yang Nggak Semua Orang Tau Tentang Menjadi Ilustrator

puty puar - illustrator

Mungkin ada teman-teman yang membayangkan kalau menjadi ilustrator lepas adalah pekerjaan dambaan milennials jaman sekarang: sesuai hobi / minat / bakat / passion / ikigai / younameit, bisa dilakukan dari rumah, dan bisa jadi bos bagi diri sendiri. Namun sebenarnya nggak sesederhana itu, loh. Oleh karena itu, saya ingin mencoba berbagi cerita dan mungkin bisa jadi masukan untuk sesama pemula.

First of all, mungkin ada yang mikir: “Siapa elo mau ngasih masukan?”

Well, that’s the point! Justru karena saya masih tergolong baru di industri ini (sekitar 4 tahunan), probably some of you can relate with my case(s). Mungkin justru karena saya nggak sekolah / kuliah jurusan seni, then it’d be less intimidating. Selain itu, saya juga sudah merasakan kerja 5 tahun di dunia yang beda banget: jadi geologist yang kerja kantoran di perusahaan multinasional yang sangat terstruktur dan hirarkikal (tentu dengan posisi dan pemasukan yang sangat aman hahaha), pokoknya beda 180 derajat lah.

Intinya, saya berharap sudut pandang saya relatif lebih luas ketika bicara soal profesi.

Illustrator vs Artist

Sejak awal, saya hati-hati sekali saat menyebutkan titel ‘ilustrator’. Saya nggak berani menyebut diri saya ‘artist / seniman’ karena dalam interpretasi saya keduanya bersinggungan namun nggak selalu sejalan. Bagi saya ilustrator punya tugas untuk mengomunikasikan; membuat suatu cerita atau gagasan menjadi lebih jelas dan tersampaikan. Sementara ‘seniman’, menurut saya lebih prestisius karena benar-benar menciptakan sesuatu yang nggak harus dimengerti tapi dirasakan.

Tentu ada ilustrator yang juga seniman. Namun, berkaca pada kemampuan, pengalaman, dan project-project yang sudah dikerjakan rasanya saya lebih cocok disebut sebagai ilustrator. Gambar-gambar saya cenderung sederhana, mudah diartikan dan memang saya lebih suka menggambar kalau ada arahannya.

Understand and make the others understand

Setelah menjalani proses belajar sembari mengerjakan, saya makin sadar kalau kunci dari membuat ilustrasi adalah pengertian. Sebelum mengerjakan sebuah proyek gambar, saya akan berusaha mengerti dulu apa yang harus disampaikan dan kepada siapa akan disampaikan. Seperti kata Einstein,

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

Sebelum saya membuat ilustrasi sebuah buku, saya akan membaca manuskripnya secara keseluruhan dan berusaha mengerti: apa yang diperjelas dengan ilustrasi, apa yang ingin ditekankan dan diharapkan.

Setelah menggambarkannya saya akan melihat ulang dan minta pendapat orang-orang terdekat: “Ngerti nggak nih aku gambar apa?” Memang kalau saya ingat-ingat lagi, ini sudah jadi kebiasaan saya sejak masih SD. Saya selalu ingin orang lain mengerti apa yang saya gambar.

So, yeah. It’s not only about ourselves but also about the others.

Developing the other skills is also important

Menurut saya, di era internet seperti sekarang ini, ilustrator harus selalu siap berkolaborasi. Kembali lagi berkaca pada pengalaman pribadi, belajar skill lain untuk menunjang karya kita adalah hal yang strategis. Misalnya skill menulis, fotografi, photo editing, videografi, sampai skill mengajar, jualan atau event organizing. Nggak harus jago, namun seenggaknya yah ada ide lah kalau meeting. Syukur-syukur bisa sumbang ide yang masuk akal. Sekali lagi, karena ilustrasi adalah bentuk komunikasi yang bisa diaplikasikan ke berbagai media.

Beyond skills…

You may say this is a cliche, but attitude is always, ALWAYS, a big deal. Sekali lagi, ketika kita bicara profesi, artinya kita harus bersikap profesional. Profesional ya termasuk bertanggung jawab, berkomitmen, nggak ‘baperan’, mau berdiskusi dan bisa berkompromi. Manajemen emosi adalah hal wajib diolah karena kita akan bersentuhan dengan berbagai jenis orang / klien. Lagi lagi berdasarkan pengalaman, ketika kita bisa mempresentasikan dengan tenang, jelas dan santun soal ide / karya kita, diskusi akan berjalan lebih ‘smooth’.

Namun ya se-smooth-smooth-nya juga sih yang namanya revisi mah ada aja…

Klien dan agency secara umum juga sopan-sopan pas ‘tek-tokan’. Namun ya kalau ada satu dua yang mungkin kurang sreg di hati, artinya kita dapat kesempatan untuk melatih manajemen emosi. Kalau prinsip saya, you can’t always choose whom you’re going to deal with, and most of the times, you can’t change it. Jadi ya tetap  harus dihadapi dengan positif, selama nggak melanggar hak-hak kita. #tsaelah

It’s not hobby, it’s a job!

Mungkin Ridwan Kamil benar saat berkata, “Pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar.” Namun perlu diingat kalau hobi kita sudah naik tingkat menjadi pekerjaan, artinya kita nggak bisa melakukannya saat kita senang saja atau saat kita ‘in the mood’. Ada masanya saya nggak ‘mood’ menggambar, namun dikejar editor / agency / klien. So you can’t be a spoiled brat. You’ve got to do your job. You’ve got to meet tight deadlines. You’ve got to work under pressure sometimes (well, most of the times).

puty puar - illustrator

Oh iya, dan ketika memutuskan untuk jadi ilustrator professional, jangan pernah menyepelekan perkara administrasi. Making quotation, invoices, and other reports aren’t my favorite things and sometimes I wish I had a secretary. Namun, ya harus dijalani. Selalu ada ‘inyi minyi’ yang tidak selalu ‘fun fun fun’.

Consistency is always the key

Kalau sedang booktalk atau sharing session, cukup banyak yang nanya: “Bagaimana sih cara memulai jadi ilustrator?”

Pertanyaan itu selalu saya jawab bagaikan Aa Gym: “Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang.” Hahahah tapi ini betulan. You can start simply by uploading a picture and the story behind on Instagram.

Harusnya pertanyaannya: bagaimana bisa konsisten?

Semua kembali ke orang masing-masing, namun untuk saya yang penting adalah: aiming for progress. Yup, tentu mendengarkan feedback dari orang lain akan membuat kita berkembang, but it doesn’t mean that you have to focus on how many likes you get for a work on Instagram. Yup, tentu mencari referensi dan inspirasi adalah hal yang wajib dilakukan, but comparing your work with the others won’t make you better. It’s consistency of progressing that will make you better!

Getting another hobby is another key… to sanity!

Hahaha, ini adalah hal yang penting banget karena dulu gambar adalah pelarian saya sepulang kantor setelah berkutat seharian dengan Petrel. Nah, sekarang setiap hari saya berkutat dengan gambar, jadi kalau saya lagi betul-betul ‘nggak mau’ kerja saya akan baca buku. Bagi saya, punya hobi selain pekerjaan sangat menunjang kebahagiaan, karena ya seperti yang saya bilang di atas: walaupun mungkin kedengarannya enak, tapi ya namanya kerja pasti ada lah nggak enaknya.

Sekian dulu dari saya. Mungkin kapan-kapan bisa dilanjut lagi, atau kalau ada yang mau request pembahasan lainnya boleh komen yaa, mudah-mudahan bisa jadi beberapa posts, hehehe.

Cheers!

6 Comments

  1. karena ‘hobby’ sudah dijalani jadi income.,
    maka sudah saatnya income dijadikan hobby
    *HLH

  2. ada strategi pemasaran khusus nggak Mbak selain rajin posting? hhe.. kan mengenalkan produk baru pasti butuh waktu dan taktik yaa.. *mau mulai usaha nihh

  3. maya says

    aku follow mba puty dari duluuu banget.. sekarang liat progress mba puty sbg illustrator berasa ikut ngeliat proses mba puty : waktu masih kerja minyak, single, terus sekarang udah jadi ibu-ibu dan jadi WAHM :’)

  4. maya says

    aku follow mba puty dari duluuu banget.. sekarang liat progress mba puty sbg illustrator berasa ikut ngeliat proses mba puty : waktu masih kerja minyak, single, terus sekarang udah jadi ibu-ibu dan jadi WAHM :’)

  5. Aku juga kerasa banget mba ketika lebih “serius” nulis i always look up on you menjadi penulis sudah tapi kalau mau jadi penulis sukses itu butuh waktu. Makasi ya mba selalu kasih kita support positif di setiap post.

    Sukses terus mba :)
    http://www.petitesecondroom.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.