Movies
comment 1

Gala Premier & Review Film ‘Kulari Ke Pantai’

Kulari Ke Pantai

Salah satu film yang paling berkesan dalam hidup saya adalah ‘Petuangan Sherina’ (2000). Mungkin bukan hanya untuk saya tapi juga untuk anak-anak lain seusia saya dan tentunya untuk dunia perfilman Indonesia yang saat itu dianggap ‘mati suri’. Sejak saat itu saya jadi penggemar karya-karya Mira Lesmana dan Riri Riza.

Begitu tau bahwa tahun 2018 ini Miles Films memproduksi kembali sebuah film anak yaitu ‘Kulari ke Pantai‘, saya langsung SEMANGAT BANGET mengikuti perkembangannya sampai rilis. Apalagi saya kenal beberapa anggota tim publisis digitalnya. Nggak heran rasa memiliki saya terhadap film ini tinggi banget :’) Premier ‘Kulari Ke Pantai’ pun menjadi momen yang saya nantikan selama berbulan-bulan. Alhamdulillah acara ini bisa saya hadiri tanggal 23 Juni kemarin di Epicentrum XXI, Epiwalk, Jakarta.

Gala Premier Dengan Suasana ‘Kulari ke Pantai’ Betulan

Di hari H, ternyata suami sedang dinas sehingga saya datang bersama Bunda dan Zakki. Senang banget bisa pergi bareng mereka karena rasanya seperti nostalgia. Saya pertama kali menonton ‘Petualangan Sherina’ di bisokop berduaan sama Bunda dan setelahnya, nggak kehitung berapa kali saya dan Zakki nonton ulang filmnya di VCD.

Premier ‘Kulari ke Pantai’ yang digelar di atas karpet biru ini suasananya santai dan hangat dengan dresscode pantai serta dihiasi spot-spot foto gemas. Salah satu yang paling menarik perhatian saya tentu saja mobil kucing yang sudah bikin saya penasaran sejak muncul di trailernya.

Mobil kucing yang mengingatkan kita pada Neko Busnya Totoro

Gala premier dan pemutaran film ini dihadiri banyak undangan dari kalangan perfilman serta rekan media. DAAANNN… ADA SHERINA DONG. Ya Allah, starstruck bangettt sayaaa~ Sayangnya karena ramai dan riweuh banget jadi saya nggak enak mau maksa foto bareng :’) (Begitu sampai rumah baru nyesel, HAHAHA.)

Sebelum pemutaran film, ada penampilan live dari RAN, Glenn Fredly serta kedua pemeran utama Maisha Kanna dan Lil’li Latisha yang membawakan soundtrack film ‘Kulari Ke Pantai’ dan lagu ciptaan pemenang Lomba Cipta Lagu Anak 2018 yang merupakan kerjasama Miles Films dengan BEKRAF. Saya langsung bisa melihat betapa berbakatnya kedua pemeran utama ‘Kulari ke Pantai’ ini.

Ran, Maisha & Lil’li

Review Film ‘Kulari ke Pantai’

Jenis Film: Drama, komedi, keluarga
Durasi: 112 menit
Produser: Mira Lesmana
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, Arie Kriting
Produksi: Miles Films
Pemeran: Maisha Kanna, Lilli Latisha, Marsha Timothy, Ibnu Jamil, Suku Dani, Varun Tandjung, Karina Suwandi, Lukman Sardi, M. Adhiyat

Sinopsis

Sam (10th), si anak pantai asal Rote-NTT, beserta Ibunya, Uci, akan melakukan perjalanan darat berdua saja. Rencana perjalanan adalah dari Jakarta dengan tujuan akhir Banyuwangi, untuk menemui surfer idola Sam, Kailani Johnson, di pantai G-Land. 

Namun, sehari sebelum keberangkatan, sepupu Sam, Happy (12th), yang sangat berbeda dengan Sam, berulah saat kumpul keluarga di Jakarta. Di hadapan banyak orang, Happy merendahkan Sam. Ibu Happy, Kirana, meminta Happy ikut dalam perjalanan Sam dan Uci dengan harapan ia bisa mengenal & menghargai sepupunya lebih baik. 

Perbedaan keduanya membuat perjalanan darat dengan mobil menjadi penuh tantangan dan tidak sesuai rencana. Berbagai situasi tak terduga muncul dan berbagai karakter unik dan lucu mereka temui dalam perjalanan.

Sebelum menonton, saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi pada film ini. Tentu sulit untuk tidak membandingkan ‘Kulari Ke Pantai’ dengan ‘Petualangan Sherina’, apalagi kedua pemeran utamanya terlibat pada ‘Petualangan Sherina’ versi teater.

Gambar dari Kularikepantai.com

Gambar dari Kularikepantai.com

Namun ternyata film ini memenuhi ekspektasi saya dan berhasil keluar dari bayang-bayang ‘Petualangan Sherina’. ‘Kulari ke Pantai’ bukan film musikal, lebih santai dan ceritanya tidak se-grand ‘Petualangan Sherina’. Konflik-konfliknya lebih sederhana bahkan terasa kurang kuat. Ada beberapa bagian yang bikin saya merasa, “Hmm, begini aja kok jadi berantem yaaa…” Namun setelah saya pikir lagi, justru ini lah yang bikin ‘Kulari ke Pantai’ cocok disebut sebagai hadiah untuk anak-anak Indonesia zaman sekarang.

Isu-isu yang diangkat ‘Kulari ke Pantai’ terasa sangat relatable dengan kondisi anak-anak zaman sekarang yang ‘canggih’ banget dan jarang bersentuhan dengan alam. Saya bisa mengerti bahwa kini banyak anak yang seperti Happy di film ini: gadget minded, selalu berbahasa Inggris, dan nggak bisa menerima perbedaan hingga menjurus ke bullying. Sosok Suku Dani yang bule namun justru fasih berbahasa Papua bisa menjadi sebuah pengingat / penyentil bagi anak-anak Indonesia untuk lebih mencintai bahasa dan alam Indonesia.

Film ini juga banyak memberikan ‘sentilan’ kepada kita orang dewasa, termasuk soal obsesi kita untuk berfoto saat liburan. Selain menyentil, film ini berhasil menghibur saya, Zakki dan Bunda yang berasal dari generasi yang berbeda. Komedinya segar dan secara umum bisa diterima segala umur walaupun mungkin ada beberapa jokes yang off.

Gambar dari Kularikepantai.com

Saya salut banget tapi kepada para pemerannya, terutama Maisha dan Lil’li! SANGAT NATURAL DAN BIKIN GEMES! Cast-cast lain pun rasanya cocok banget untuk peran masing-masing. Bahkan peran-peran pendukung semacam tukang sate disko atau girl band Korea wannabe membumbui film ini dengan pas. Belum lagi mobil kucing yang super iconic dan cute. Tentu saja semuanya berlatar alam indah Indonesia.

Kesimpulannya: Ini film keluarga yang wajib ditonton!

Yuk, jangan lupa tonton ‘Kulari ke Pantai’ mulai 28 Juni 2018 di bioskop-bioskop kesayangan kita. Jangan lupa ajak keluarga, sepupu, keponakan, pokoknya semuanyaaa :3

Maju dan sukses terus film anak Indonesia!

Kulari ke Pantai

1 Comment

  1. Indah says

    Yeaay ada foto akuuu ?
    btw, aku bisa foto bareng sherina dong mbak..hahahhaha..*antara anak / bundanya yg maksa sih ;))))

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.