All posts filed under: Love & Marriage

#ModyarHood: Nge-Date Setelah Punya Anak

Hola! Kembali lagi berjumpa dengan saya di sesi #Modyarhood. Copy paste lagi yaaa kali-kali ada yang belum ngeh, #ModyarHood adalah program kecil-kecilan saya bersama Mamamolilo (a.k.a Okke Sepatumerah sebelum jadi ibu hahaha) dengan semangat ‘Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud’. Jadi #ModyarHood ini menginisiasi sebuah topik setiap bulannya (Insyaallah, doain. #terDilan) seputar motherhood yang kemudian akan dijadikan blogpost oleh kami berdua. Diharapkan para buibuk lainnya bisa ikutan menulis blogpost dengan topik tersebut. Tujuannya untuk menampilkan lebih banyak sudut pandang tentang motherhood itu sendiri sehingga kita bisa lebih arif dalam menyikapi perbedaan. Dua topik pertama kami adalah seputar buku parenting, dan GTM alias Gerakan Tutup Mulut. Nah, kali ini ceritanya mau menyesuaikan tema di bulan Februari yang identik dengan hari kasih sayang. Walaupun saya termasuk orang yang percaya bahwa Valentine’s Day adalah hari gimmick perusahaan cokelat sedunia, namun menarik juga kayanya untuk membahas soal waktu berduaan bersama pasangan. Ejie jieee :p Untuk topik kali ini kami sudah menyiapkan hadiah kheseus untuk buibu yang mau ikutan berpartisipasi! Caranya nanti baca di akhir postingan yaaa :3

Pintu-Pintu

“When one door closes, another opens.” – Alexander Graham Bell Sudah seminggan ini saya cukup sibuk dengan beberapa meeting, project, deadline, dan commission sampai-sampai nggak sempat menulis di blog, padahal ada beberapa hal yang sudah terpikirkan untuk di-post. Setiap kesempatan untuk menjadi produktif sungguh saya syukuri. Rasa syukur ini kemudian membawa saya untuk meluangkan sepotong pagi untuk menulis blog post singkat ini. Waktu resign dari kerjaan saya 1,5 tahun lalu, saya sempat berpikir bahwa menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan jika dilihat dari sisi karir dan sosial. Mungkin kalau dilihat dari sisi tersebut saja ada benarnya. Saya harus berhenti menjadi geologist dan membangun jaringan dalam lingkup profesi saya. Saya juga harus berhenti solo traveling dan menyimpan rapat-rapat dulu mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadi saya pikir waktu itu: ya harus ikhlas, namanya juga pengorbanan. I closed the door and I had to move on.