All posts filed under: Daily Life

Terpikir Mencoba Bullet Journaling?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah satu hal wajib menjelang akhir tahun bagi saya adalah: beli planner baru untuk setahun ke depan. Saya pernah menulis soal planner-planner sejak tahun 2005 di sini, dan yang pasti semuanya masih saya simpan. (JUDGE ME, MARIE KONDO. I’M NOT LETTING THEM GO! hahahahaha) Sejujurnya untuk tahun 2018 saya sudah membeli planner Daiichi yang jadi favorit saya sejak tahun 2009. #wanitayangsetia Namun seiring dengan mulai bervariasinya kegiatan saya sekarang (cieee), saya mulai berpikir untuk mencari planner yang lebih tebal dengan halaman yang lebih banyak untuk mencatat ini itu. Belakangan saya mulai terpikir untuk memulai bujo (bujo loh ya bukan burjo!) aliat bullet journal. Jadi untuk teman-teman yang belum kebayang bullet journal ini apa, bisa baca artikel ini: :‘WTF Is A Bullet Journal And Why Should You Start One? An Explainer’. Intinya, kalau dengan sistem bullet journal ini kita bisa lebih bebas bikin template untuk berbagai jenis rencana kita, dan bisa dibentuk jadi macam-macam: checklist, grafik bar, piechart, dll. Untuk yang suka doodling, bullet journal pun lebih fleksibel untuk dihias-hias dan digambari. Misalnya begini: …

Advertisements

Pintu-Pintu

“When one door closes, another opens.” – Alexander Graham Bell Sudah seminggan ini saya cukup sibuk dengan beberapa meeting, project, deadline, dan commission sampai-sampai nggak sempat menulis di blog, padahal ada beberapa hal yang sudah terpikirkan untuk di-post. Setiap kesempatan untuk menjadi produktif sungguh saya syukuri. Rasa syukur ini kemudian membawa saya untuk meluangkan sepotong pagi untuk menulis blog post singkat ini. Waktu resign dari kerjaan saya 1,5 tahun lalu, saya sempat berpikir bahwa menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan jika dilihat dari sisi karir dan sosial. Mungkin kalau dilihat dari sisi tersebut saja ada benarnya. Saya harus berhenti menjadi geologist dan membangun jaringan dalam lingkup profesi saya. Saya juga harus berhenti solo traveling dan menyimpan rapat-rapat dulu mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadi saya pikir waktu itu: ya harus ikhlas, namanya juga pengorbanan. I closed the door and I had to move on.