Category: Photography


Be Careful on Dreaming

March 13th, 2010 — 11:52am

Last night was LFM Awards, and as always, we had fun. The best part was that I got ‘The Most Innovative Photographer’ award. It was given to me because I constantly use my honestly-awful-and-terribly-adorable plastic cameras for shooting the life. Thank you very very much :) :)

It reminded me on one of my dreams when I joined LFM ITB (Liga Film Mahasiswa ITB), when I just bought my first lomo, Diana; that I want to learn & develop alternative photography.

It’s been a year, or more, and I’m doing it. I fell in love. Then that dream seems starting to come true. Insya Allah, I will participate in Festival April 2010 Photo Exhibition, with my Diana black and white shots. The concept is about ‘Desiring Body’. It’ll be held in Goethe Haus, Jl. Sam Ratulangi, Jakarta from 13th to 17th of April 2010 :)

desiring-body

I’m really really excited. Please come there as the festival would be really artsy and out of the box I think :D

The thing is actually not about how big the award or the exhibition. I read a lot of quotes about dreams. I listen a lot of songs and I saw some movies about them. You dream, it may just come true. I dream it, it may just come true. You dream to be famous, it may come true, but will it make you happy, you should start to think about it as well. You dream to be rich, it may come true, but is that it?

So dream wisely, people.

“Be careful what you set your heart upon – for it will surely be yours.”
- James A. Baldwin

11 comments » | Deeper Thoughts, Ordinary Life, Photography, Project & Works

Lomografi Digital, A Review

November 5th, 2009 — 2:25am

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah menulis tentang lomografi. Cukup banyak yang tertarik. Beberapa urung waktu tau bahwa lomo pakai film dan masih harus diproses sambil gelap-gelapan. Beberapa bertanya, “Apakah ada lomo digital?”

Well, beberapa minggu yang lalu, gue membeli adaptor lensa Diana F+ untuk SLR Nikon. Adaptor itu memungkinkan gue memakai lensa Diana di SLR. It’s Diana, and it’s digital.

lensadaptor

At first, gue excited sekali. Gue bisa punya foto-foto Diana, tanpa harus repot-repot bawa ke tukang cuci film, tanpa harus lama-lama nungguin proses scanroll. Kalau hasil kurang memuaskan bisa diulang. Kalau gelap bisa pakai flash (soalnya gue belum punya flash Diana, hehe). Beberapa hari setelah itu gue hunting ke Kawah Putih. Hasilnya seperti memotret gurun dalam mimpi :)

02

01

03

04

Having ‘digital lomo’ is somehow nice. Quick results, checked. Adjustable white balance, checked. Switching to black and white mode easily, checked. Flash, checked. Having all those digital SLR features with plastic lens never sounds so tempting.

But is this it?

Continue reading »

7 comments » | Photography

Photoblog

August 5th, 2009 — 5:21pm

Actually I have one or two drafts to post, but they are not that finished yet. So I’ll just come short.

I’ve just got back from Comic monthly event. Was invited by mas Amal. The theme was about photoblogging with Budi Sukmana and Eric Setiawan as the speakers. Well, I had previously talked a bit about this with mas Budi when we met for 15-rolls-of-KodakEktachrome100PLUS/EPP transaction :P This evening we talked more in group (so nice to meet Pak Budi Rahardjo eventually) :)

We talked about what the real photoblogging is. They showed many photoblogs, and told many out-of-the-box non-commercial photo projects. Like 2 people separately took pictures at the same time, and joined the pictures up. Wonderful! :D

What I could conclude is that photoblogging is not about taking perfect photos, with perfect composition, and perfect lighting. It’s about how you blog with photos. How you story-tell with photos. Even if the picture was blur, maybe it could tell that you had been in such unstable situation, or maybe, you had been laughing a bit too happily at that time. In this case he is my current favorite. WOW!

The meeting brought sooooo much inspiration for me, and maybe for all who attended. I already have some ideas on my mind. Fab! :D

ohphotos

Okay. While waiting for my upcoming personal project (not to mention prewedding lomo shots *evilsmirk at diki*), you can check my own Photoblog, in Oh.Photos.ByPuty.com ;) I don’t know but I love the name, with “Oh!” in front of it. Sounds exciting :D

12 comments » | KOPDAR, Photography, Project & Works

Lomo is Alternative Photography, and Don’t Get It Wrong

July 10th, 2009 — 2:28am

Diana gue dan hasil-hasil fotonya.

Bicara soal fotografi dan lomografi, gue masih sangat awam dalam soal ini. Gue baru mulai belajar fotografi pakai kamera SLR akhir tahun lalu. Lomografi sendiri, baru gue coba awal tahun ini, dimulai dengan membeli sebuah Diana F+ standar. Sekarang gue punya sudah punya 3 lomo. Bulan April gue beli Oktomat (yang bisa mengambil 8 gambar sekuensial pada satu frame dalam 2 detik), dan bulan lalu gue beli FishEye (gampangnya dia mirip intipan pintu deh, hehe.)

Dari awal gue katakan, gue tidak expert soal keduanya. Tulisan ini berasal dari sudut pandang gue pribadi (dan ya, sudut pandang gue sering berbeda sama orang kebanyakan, heheh). Jadi kalau ada kesalahan fakta, CMIIW ;)

**

Foto dan lomo. Hmm. I fall for both. Bedanya apa? Mungkin kalian bisa browsing soal lomografi di sini.

Untuk gue, keduanya sama-sama menyenangkan. Disaat fotografi menuntut kesempurnaan teknik; fokus, lighting, dengan hasil gambar yang tajam, warna yang ideal, atau bayangan yang sesuai; lomo nggak menuntut kesempurnaan itu. Sepertinya banyak yang salah menangkap esensi ‘nggak menuntut kesempurnaan‘ itu dengan ‘asal jepret‘. Well, memang semboyan lomo adalah “Don’t Think, Just Shoot”, dan salah satu dari ‘10 Golden Rules of Lomo‘ nomer 5.nya adalah “try the shot from the hip”.

Gue sendiri nggak pernah melakukan itu. ‘Not think then shoot’. Atau ’shoot from the hip’. Masalahnya lomo kan analog (masih pakai film), jadi mahal, hehe. Tapi gue menangkap rules ini dalam artian, lomo menekankan pada proses seni memotretnya yang seperti bermain, bukan cuma pada hasilnya. Kalau pada fotografi yang ciamik, kita harus memposisikan diri dan situasi demi hasil yang bagus. Pakai tripod, pakai flash dibeberapa tempat, pakai reflektor, pakai payung, dll. Waktu motret, kita nggak boleh ketawa-ketawa (bisa shake dan hasilnya blur dong, hehe). Harus serius. Gue sendiri ngerasa, kalau hunting foto, gue akan sangat konsen dengan ‘apa nih yang mau gue foto’, sehingga bahkan saat liburan sama keluarga pun, gue merasa terlalu sibuk dengan kamera.

Kalau pakai lomo, berasa bedanya. Tadi udah gue sebut: seperti bermain. Dimana-mana yang namanya main itu senang, kan? Heheh :) Didukung dengan bentuk lomo yang mirip mainan, menurut gue playful banget. Kita nggak bisa menebak apa yang dijepret oleh lomo kita karena nggak persis apa yang kita liat di viewfinder (bahkan kita bisa gak sadar bahwa tutup lensanya belum kebuka, hehe). Sekali lagi ini soal proses. Setelah jepret pun hasilnya pun nggak bisa dilihat langsung. Ada unsur menunggu, berharap, surprised, atau kecewa dalam lomografi. Kalau hasilnya bagus, gembiranya bisa dobel, karena itu tadi, ada efek nunggu, dan surprisednya. :D

Hasil Lomo FishEye.

Tapi kalau dibilang lomo kamera asal-asalan, gue nggak setuju. Dari segi pengorbanan aja, udah gede. Beli film, masukin film, belum lagi kalau yang udah ahli, film itu akan didevelop sendiri, bisa di xpro, lalu discanroll, atau dicetak. Pengorbanannya besar loh itu :P

Lalu hasilnya? Menurut gue hasil jepretan lomo itu khas. Nggak sempurna. Sering blur, nggak tajam, kepotong (karena soal viewfinder itu tadi). Tapi feelnya beda. Dan gue juga nggak setuju sama pendapat seperti, “kalau jelek, yaudahlah, lomo ini.” Memang sepertinya begitu, tapi kesannya jadi hasil lomo = jelek. Padahal bukan itu esensinya. Lomo bukan mengejar gambar yang blur, overexposed atau underexposed. Hasil yang diinginkan menurut gue tetaplah gambar yang bagus, khas, dan dapet feelnya. Ketidaksempurnaan yang dimaksud sebagai hasil lomo adalah faktor kelemahan kamera itu sendiri yang terbuat dari plastik, dan ringkih (makanya khas, seperti efek leakage), dan bukan soal penggunanya yang nggak punya skill (no offense untuk anak gaul yang pakai lomo cuma buat gaya-gayaan ya, haha :P)

Hasil Lomo Oktomat.

Jadi tetep aja menurut gue pakai lomo juga nggak bisa asal-asalan. Main, iya, tapi kalau gue tetep pakai sense of composition, tetep memperhatikan, apakah objek tersebut menarik atau nggak untuk dijepret, tetep memperhatikan teknis lomonya sendiri. Misalnya Diana F+, dia tetep punya aturan harus disetting di kekuatan cahaya macam apa, berapa lama harus ditahan, berapa jarak fokusnya. Itu tetep gue perhatikan. Dan hasilnya, kalau yang gue bilang bagus ya bagus, kalau yang gue bilang jelek ya jelek, kalau gagal ya gagal. Kalau gambarnya blur banget, itu bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang shake. Kalau overexposed, bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang salah setting cuaca. Gambar jelek bukan tujuan lomografi.

Bicara soal lomo Diana sendiri, Allan Detrich, seorang expert Diana bilang begini,

“It (Diana camera) levels the playing field for all photographers. It lets the photographer’s talent show through because if a photographer can take a great photo with a Diana, he truly is a great photographer.”

Dan kenyataannya memang susah banget mendapatkan hasil yang bagus dari Diana (lagi lagi, bagus jangan diartikan seperti gambar yang sempurna dalam fotografi, ya). Kalau kita bisa, then it means, we’re so damn good at it :D

Sekali lagi, lomo adalah fotografi alternatif. Maknanya jangan disempitkan jadi fotografi asal-asalan, jangan juga dilebarkan jadi film photography.

Soal fotografi film ini, mengutip sebuah website anti lomo:

Anti Lomography? Yes, we hate the fact that film photography seems to be reduced to crappy images produced with the mantra “Don’t think, just shoot”. We are totally against this doctrine, we not only think, we study, we learn, we follow and most importantly we shoot from the heart not the hip.

Kalau menurut gue? Foto dan lomo hanya berbeda. Jangan dibandingkan, jangan dipersamakan, tapi jangan juga diremehkan :)

17 comments » | Deeper Thoughts, Photography

Back to top