
Diana gue dan hasil-hasil fotonya.
Bicara soal fotografi dan lomografi, gue masih sangat awam dalam soal ini. Gue baru mulai belajar fotografi pakai kamera SLR akhir tahun lalu. Lomografi sendiri, baru gue coba awal tahun ini, dimulai dengan membeli sebuah Diana F+ standar. Sekarang gue punya sudah punya 3 lomo. Bulan April gue beli Oktomat (yang bisa mengambil 8 gambar sekuensial pada satu frame dalam 2 detik), dan bulan lalu gue beli FishEye (gampangnya dia mirip intipan pintu deh, hehe.)
Dari awal gue katakan, gue tidak expert soal keduanya. Tulisan ini berasal dari sudut pandang gue pribadi (dan ya, sudut pandang gue sering berbeda sama orang kebanyakan, heheh). Jadi kalau ada kesalahan fakta, CMIIW ;)
**
Foto dan lomo. Hmm. I fall for both. Bedanya apa? Mungkin kalian bisa browsing soal lomografi di sini.
Untuk gue, keduanya sama-sama menyenangkan. Disaat fotografi menuntut kesempurnaan teknik; fokus, lighting, dengan hasil gambar yang tajam, warna yang ideal, atau bayangan yang sesuai; lomo nggak menuntut kesempurnaan itu. Sepertinya banyak yang salah menangkap esensi ‘nggak menuntut kesempurnaan‘ itu dengan ‘asal jepret‘. Well, memang semboyan lomo adalah “Don’t Think, Just Shoot”, dan salah satu dari ‘10 Golden Rules of Lomo‘ nomer 5.nya adalah “try the shot from the hip”.
Gue sendiri nggak pernah melakukan itu. ‘Not think then shoot’. Atau ’shoot from the hip’. Masalahnya lomo kan analog (masih pakai film), jadi mahal, hehe. Tapi gue menangkap rules ini dalam artian, lomo menekankan pada proses seni memotretnya yang seperti bermain, bukan cuma pada hasilnya. Kalau pada fotografi yang ciamik, kita harus memposisikan diri dan situasi demi hasil yang bagus. Pakai tripod, pakai flash dibeberapa tempat, pakai reflektor, pakai payung, dll. Waktu motret, kita nggak boleh ketawa-ketawa (bisa shake dan hasilnya blur dong, hehe). Harus serius. Gue sendiri ngerasa, kalau hunting foto, gue akan sangat konsen dengan ‘apa nih yang mau gue foto’, sehingga bahkan saat liburan sama keluarga pun, gue merasa terlalu sibuk dengan kamera.
Kalau pakai lomo, berasa bedanya. Tadi udah gue sebut: seperti bermain. Dimana-mana yang namanya main itu senang, kan? Heheh :) Didukung dengan bentuk lomo yang mirip mainan, menurut gue playful banget. Kita nggak bisa menebak apa yang dijepret oleh lomo kita karena nggak persis apa yang kita liat di viewfinder (bahkan kita bisa gak sadar bahwa tutup lensanya belum kebuka, hehe). Sekali lagi ini soal proses. Setelah jepret pun hasilnya pun nggak bisa dilihat langsung. Ada unsur menunggu, berharap, surprised, atau kecewa dalam lomografi. Kalau hasilnya bagus, gembiranya bisa dobel, karena itu tadi, ada efek nunggu, dan surprisednya. :D

Hasil Lomo FishEye.
Tapi kalau dibilang lomo kamera asal-asalan, gue nggak setuju. Dari segi pengorbanan aja, udah gede. Beli film, masukin film, belum lagi kalau yang udah ahli, film itu akan didevelop sendiri, bisa di xpro, lalu discanroll, atau dicetak. Pengorbanannya besar loh itu :P
Lalu hasilnya? Menurut gue hasil jepretan lomo itu khas. Nggak sempurna. Sering blur, nggak tajam, kepotong (karena soal viewfinder itu tadi). Tapi feelnya beda. Dan gue juga nggak setuju sama pendapat seperti, “kalau jelek, yaudahlah, lomo ini.” Memang sepertinya begitu, tapi kesannya jadi hasil lomo = jelek. Padahal bukan itu esensinya. Lomo bukan mengejar gambar yang blur, overexposed atau underexposed. Hasil yang diinginkan menurut gue tetaplah gambar yang bagus, khas, dan dapet feelnya. Ketidaksempurnaan yang dimaksud sebagai hasil lomo adalah faktor kelemahan kamera itu sendiri yang terbuat dari plastik, dan ringkih (makanya khas, seperti efek leakage), dan bukan soal penggunanya yang nggak punya skill (no offense untuk anak gaul yang pakai lomo cuma buat gaya-gayaan ya, haha :P)

Hasil Lomo Oktomat.
Jadi tetep aja menurut gue pakai lomo juga nggak bisa asal-asalan. Main, iya, tapi kalau gue tetep pakai sense of composition, tetep memperhatikan, apakah objek tersebut menarik atau nggak untuk dijepret, tetep memperhatikan teknis lomonya sendiri. Misalnya Diana F+, dia tetep punya aturan harus disetting di kekuatan cahaya macam apa, berapa lama harus ditahan, berapa jarak fokusnya. Itu tetep gue perhatikan. Dan hasilnya, kalau yang gue bilang bagus ya bagus, kalau yang gue bilang jelek ya jelek, kalau gagal ya gagal. Kalau gambarnya blur banget, itu bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang shake. Kalau overexposed, bukan karena dia lomo, tapi karena gue yang salah setting cuaca. Gambar jelek bukan tujuan lomografi.
Bicara soal lomo Diana sendiri, Allan Detrich, seorang expert Diana bilang begini,
“It (Diana camera) levels the playing field for all photographers. It lets the photographer’s talent show through because if a photographer can take a great photo with a Diana, he truly is a great photographer.”
Dan kenyataannya memang susah banget mendapatkan hasil yang bagus dari Diana (lagi lagi, bagus jangan diartikan seperti gambar yang sempurna dalam fotografi, ya). Kalau kita bisa, then it means, we’re so damn good at it :D
Sekali lagi, lomo adalah fotografi alternatif. Maknanya jangan disempitkan jadi fotografi asal-asalan, jangan juga dilebarkan jadi film photography.
Soal fotografi film ini, mengutip sebuah website anti lomo:
Anti Lomography? Yes, we hate the fact that film photography seems to be reduced to crappy images produced with the mantra “Don’t think, just shoot”. We are totally against this doctrine, we not only think, we study, we learn, we follow and most importantly we shoot from the heart not the hip.
Kalau menurut gue? Foto dan lomo hanya berbeda. Jangan dibandingkan, jangan dipersamakan, tapi jangan juga diremehkan :)