All posts filed under: Thoughts

introvert

Salah Paham Pada Introvert (Versi Saya)

Setiap kali saya menyebutkan bahwa saya adalah seorang introvert, banyak orang yang nggak percaya. Teman-teman yang baru kenalan dengan saya ataupun tau saya dari dunia maya biasanya bilang, “Hah, masa sih introvert? Kok bisa rame?” atau “Kok suka jayus?” (<– kalau ini bawaan lahir kali ya?) atau “Kok kayanya ramah-ramah aja?”, dst. Sebelum kenal MBTI aliasMyers–Briggs Type Indicator, saya termasuk orang yang menganggap diri saya sendiri kurang pintar bergaul. Saya nggak selalu merasa nyaman ada di lingkungan baru dengan orang-orang yang belum saya kenal. Hidup di Indonesia yang menjunjung keramahan dalam bentuk ‘ketemu di angkot bisa langsung ngobrol dari harga cabe sampai curhat soal cicilan’, ada masa-masa saya menganggap diri saya ‘aneh’. Saya lupa kapan tepatnya tapi saya ingat betapa leganya saya saat mengetahui bahwa saya nggak ‘aneh’ karena berdasarkan teori psikologi memang ada tipe manusia yang dapat energi kalau berinteraksi dengan orang lain, yaitu extrovert, dan ada pula yang justru harus menggunakan energinya untuk bersosialisasi sehingga kalau energi ini habis perlu di-charge dengan cara menyendiri. Introversion is the state of being predominantly interested in one’s …

Memberi Itu Butuh Latihan

Saya merasa senang dan terharu waktu membaca salah satu review buku ‘Happiness is Homemade’ di Goodreads yang mengatakan: […] Oh ya satu hal pula yang sepertinya berkali ditekankan dalam buku ini adalah prinsip take and give, dan itu adalah hal yang kupercaya sebagai kunci sebuah keberlangsungan atas apapun. Senang karena reviewnya bagus. Terharu karena ada yang menangkap pesan tersirat mengenai ‘take and give‘ itu lalu menyuratkannya. Ya, saya percaya sekali bahwa kebahagiaan nggak hanya datang saat kita mendapat atau mengonsumsi sesuatu. Kebahagiaan juga muncul saat kita berbagi atau menghasilkan sesuatu. Kebahagiaan juga timbul dari memberi. Saat kita menerima, kita hanya menerima. Namun saat kita memberi, kita juga akan menerima. Saya banyak sekali belajar ini dari Ayah dan Bunda. Ayah saya sering bilang kepada saya, “Memberi itu butuh latihan. Semakin banyak latihan, semakin yakin kita bahwa jika kita memberi, kita akan mendapat lebih banyak. Semakin kita yakin, semakin banyak kita memberi. Begitu seterusnya. Nah, kalau nggak pernah latihan memberi, darimana keyakinan itu akan muncul?” “Who is it that would loan Allah a goodly loan so He …